
Bab 1 7
"Setidaknya aku bisa bertemu Rian," batin Sam dalam hatinya, yang tidak sabar menunggu sang papi membawanya ikut meeting.
Ini pertama kali, Sam seakan bersemangat bekerja di perusahaan papinya itu, mengingat akan ada pertemuan dengan perusahaan Rian. Seseorang yang sangat ingin Sam temui.
Sam berjalan hendak menuju arah ke ruangannya. " Sam," panggil Cantika yang melihat Sam, hendak masuk ke dalam ruangannya itu. Sam telah berusaha menghindari mantan kekasih, yang kini menjabat sebagai sekretarisnya itu.
Tatapan masam mulai dilempar Sam ke arah Cantika, yang menghentikan langkahnya. "Ah, kenapa sih harus bertemu dengannya," batin Sam seakan kesal dan tetap berjalan masuk ke dalam ruangannya itu.
Melihat arah Sam yang menghindari dan mengacuhkan Cantika, membuat Cantika seolah berdecak kesal di hatinya. Hingga Cantika memilih mengikuti Sam dari belakang badan Sam itu.
"Pak Sam, ada beberapa berkas jadwal meeting Pak Sam hari ini, dan ada beberapa berkas yang harus Bapak tanda tangani juga," ujar Cantika yang menghentikan langkah Sam.
"Argh, baik bawa kemejaku," lirih Sam berbicara pada Cantika tanpa menoleh ke arah Cantika itu.
Cantika menampakkan wajah ketidaksenangan, terhadap sang mantan kekasih. Seolah tidak memiliki rasa bersalah sedikitpun, yang sudah meninggalkan Cantika di hari menjelang pernikahan mereka.
"Baik pak," umpat Cantika yang ikut masuk menuju ruangan Sam.
"Ini Pak, semua jadwalnya ada di sini," dengan gaya lesu, seakan benci ke arah Sam. Cantika membolak-balik berkas yang hendak Sam tanda tangani. Sesekali Cantika mencoba memegang tangan Sam, yang hendak mengayunkan pena ke atas kertas itu.
"Apa dia berusaha menggodaku?" batin Sam dalam hatinya lagi melihat Cantika.
"Yang ini Pak," sahut Cantika masih berusaha memegang tangan Sam.
"Aku bisa sendiri," balas Sam kesal dengan kelakuan Cantika itu.
"Kenapa kamu yang marah Sam? Bukannya kamu yang sudah meninggalkanku? Bukan aku yang menghianatimu," ujar Cantika yang melihat Sam, seolah tidak menyimpan perasaan sedikitpun terhadap Cantika itu.
Sam sangat mencintai Cantika dulunya, dan Cantika merupakan pacar pertama Sam. Walau mereka beberapa kali putus nyambung saat masih sekolah. Hingga keduanya merasakan kenyamanan dan memutuskan untuk menikah, tapi apa yang mereka rencanakan gagal. Akibat Sam yang lebih mementingkan Mutiara daripada pernikahannya dengan wanita yang kini berdiri dihadapannya.
"Oh iya, berarti apa yang aku dengar dari mulutmu? Saat memadukan cintamu dengan Ando itu salah? Ah," balas Sam jengkel ke arah Cantika, Sam memang masih menyukai mantan kekasih yang kini menjadi sekretarisnya ini. Namun akibat perkataan Cantika yang terlanjur Sam dengar, membuat Sam seolah marah dan membekas dalam hatinya itu.
"Apa maksudmu Sam?" tanya Cantika.
"Sudahlah Cantika, jangan bahas yang dulu lagi. Aku tengah banyak pikiran! Dan aku ikhlas melepaskanmu untuk Ando, sudah stop untuk menggodaku lagi! Karena kamu sekarang istri sahabatku. Aku tidak mungkin mengkhianatinya," ucap sam yang tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapi Cantika.
"Tapi aku tidak mencintainya Sam!! Aku mau hubungan kita diperbaiki seperti dulu lagi, aku sudah memaafkanmu Sam. Aku akan meninggalkannya Sam demimu," balas Cantika terhadap Sam.
Sam berdiri, lalu menatap Cantika dengan tatapan tajamnya. "Uh, terima kasih. Tapi aku tidak suka memasukkan sesuatu, ke lobang yang sudah di masukkan seseorang," balas Sam jengkel, dan sepertinya hilang akal hingga dia mengatakan sesuatu yang tidak pantas dia katakan.
Plakkk
__ADS_1
Sebuah hadiah yang didapat Sam dari Cantika, karena ucapan Sam yang menyakiti perasaan Cantika itu.
"Argh … Cantika, terima kasih," ujar Sam dengan mengelus pipinya yang memerah akibat tamparan yang diberikan oleh Cantika. "Semua sudah aku tandatangani, coba tanya papi, jam berapa pergi meetingnya, aku sudah tidak sabar lagi," Sam mengalihkan pembicaraannya, yang masih menatap binar tatapan marah dari wajah Cantika ke arah Sam itu.
"Ah, aku kecewa denganmu Sam," lirih Cantika yang meninggalkan Sam di ruangannya itu.
"Maafkan aku Cantika, harusnya mulutku tidak boleh sekasar itu! Harusnya aku bisa menghargaimu. Aku memang masih mencintaimu, tapi aku tidak ingin bersamamu lagi. Omongan yang keluar dari mulutmu itu! Cukup membuatku terpukul Cantika. Maaf," batin Sam dalam hatinya menyesali perkataan nya itu, dan menatap ke arah Cantika yang keluar dengan rasa sedihnya itu.
******
"Ingat Sam, jangan buat Papi malu, jaga sikapmu! Karena kita akan menemui orang penting. Jangan sampai kita kalah dengan perusahaan Rian," pinta sang papi terhadap Sam.
"Iya Papi," balas Sam.
Kini Sam, papinya, beserta yang lain tengah berada di depan ruangan yang akan menjadi tempat pertemuan para CEO- CEO itu. Mereka tengah membicarakan suatu proyek besar, dimana mereka akan berusaha dan berlomba-lomba untuk mendapatkannya.
Semua pemimpin hebat tengah bergabung dalam ruangan itu. "Apa itu mobil Rian? Aku rasa iya, tapi bagaimana caranya aku bisa menemuinya?" batin sam dalam hati nya, seraya memutar otak memikirkan cara agar bisa berbicara berdua dengan Rian.
"Ayo Sam," panggil sang papi.
Sam melihat Rian sudah di ambang pintu sendirian, dengan langkah kaki seribu Sam mendekati Rian, yang masih di pintu itu," temui aku di toilet aku ingin bicara" bisik Sam seraya berjalan disamping Rian.
"Apa kamu pikir Papi tidak tahu rencanamu Sam? Sebelum berjalan di dalam sakumu sudah papi letakkan alat penyadap suara. Jadi apapun yang kamu rencanakan dan kamu katakan semuanya papi tahu Sam," batin papi Sam melempar senyum ke arah Sam yang berjalan tergesa-gesa menuju kamar mandi itu.
"Apa kamu sedang menunggu Rian Sam?" tanya sang papi yang tiba-tiba saja masuk kedalam kamar mandi.
Ah Papi!!" Pekik Sam kesal.
Yang ditunggu tidak datang, lalu melihat sang papi datang menghampirinya ke arah kamar mandi. Membuat Sam berdecak kesal ke arah sang papi. "Bagaimana bisa papi tahu, akan rencanaku yang ingin menemui Rian itu.
Sementara sang papi membalas senyum ke arah Sam yang berdecak kesal itu.
"Apa kamu lupa akan perkataan papi? Semua gerak gerikmu akan papi pantau,"
Papi Sam pun berjalan ke arah Sam memasukkan tangan papanya ke saku Sam.
"Apaan sih Pi" ujar Sam melihat sang papi memasukkan tangannya ke saku jas Sam.
"Ini lihat Sam," ucap sang papi menunjukkan alat penyadap suara, yang dia ambil dari kantong saku Sam.
"Ah papiiiii" teriak Sam seperti orang bodoh yang di balas senyum oleh sang papi. "Argh …." Lirih nafas panjang Sam menatap ke arah sang papi.
"Ayo Sam ikut Papi," sahut papi Sam, yang masih belum bisa menahan senyumnya itu, seakan menggelitik perut papi Sam berjalan bersama sam dengan melempar senyum.
__ADS_1
"Kamu kelewatan Pi," pekik Sam yang melihat sang papi masih melempar senyum.
Meeting pun dimulai, Sam memilih duduk di sebelah Rian dengan mengusir seorang pengusaha dari sebelah Rian.
"Apa yang kamu lakukan Sam?' ucap sang papi seakan malu akan sifat Sam itu.
"Tidak apa-apa pak," balas seorang yang sudah Sam usir itu.
"Apa bisa kita mulai?" sahut sang pemimpin meeting.
Yang dijawab anggukan para pengusaha hebat yang sudah datang. Sam mengambil sebuah buku catatan yang dipegang oleh Rian.
"Apaan sih Sam," ucap Rian seakan tidak senang Sam mengganggunya dalam meeting itu.
Sam pun menuliskan sesuatu di buku milik Rian itu.
"Bagaimana kabar Mutiara? Apa dia baik-baik saja, ingat perjanjian kita jika selama dua tahun. Kamu tidak boleh menyentuhnya," pesan yang ditulis Sam dalam buku Rian itu.
"Rian jawab," bisik Sam seraya menendang nendang kaki Rian dari bawah.
Rian pun membaca buku yang ditulis Sam namun. Rian acuh dan tidak menggubrisnya.
"Rian jawab," bisik Sam lagi yang membuat beberapa peserta meeting terganggu akan ulah sam.
"Maaf," ucap Sam terhadap para pemimpin perusahaan itu. Sam pun mencubit pinggang Rian dengan keras.
"Argh, ah ... Sam sakit," balas Rian dengan pekik suaranya, yang membuat beberapa mata tertuju pada mereka, tapi Sam seolah berakting. Sedang fokus ke depan mendengarkan penjelasan itu.
Walau Rian masih mengusap-usap pinggangnya itu.
"Kamu gila Sam," ujar Rian terganggu akibat ulah Sam, yang sedari tadi berusaha mengacau konsentrasi Rian.
"Jawab pertanyaanku itu," bisik Sam lagi yang tidak digubris oleh Rian, dan Rian menampakkan wajah kesalnya ke arah Sam.
"Rian, apa kamu menjaga Mutiara dengan baik? Dan ingat perjanjian kita, jika kamu tidak akan menyentuhnya selama masa kontrak pernikahanmu dengannya berakhir," ucap Sam seketika dengan kesal, yang membuat Rian seakan malu. Dan semua mata yang hadir di meeting itu tertuju pada Rian dan sam.
"Ah kamu gila Sam," balas Rian kesal, Rian dengan malu dan menutup mulut Sam menggunakan tangan Rian, yang berbicara dengan keras. Membuat para pemimpin-pemimpin perusahaan yang ikut hadir di ruangan itu mendengar Sam. Yang berbicara keras tentang Rian.
"Argh, ah …." Lirih Rian yang tidak bisa berkata apapun, sementara para anggota yang merupakan sesama pemimpin perusahaan itu pun melempar senyum ke arah Rian.
"Kamu seperti melempar kotoran ke wajahku, Sam!" ujar Rian kesal dan memilih meninggalkan meeting.
"Maaf atas ketidaknyamanan ini," ujar sekretaris Rian, yang kemudian berjalan mengikuti Rian dari belakang. Sekretaris Rian seakan melempar tatapan kebencian terhadap Sam yang sudah berhasil mempermalukan bosnya itu.
__ADS_1