Cinta Demi Balas Budi

Cinta Demi Balas Budi
BULAN MADU YANG MENYEBALKAN


__ADS_3

Bab 26


Bulan madu yang menyebalkan


Sam dan Cantika menghabiskan waktu tiga hari dalam hotel itu, dan Sam terlihat sudah mulai terbiasa akan status barunya menjadi suami Cantika.


"Apa kita harus pulang sekarang juga sayang? Tidak bisakah kita menghabiskan malam lagi disini," ujar Cantika yang bermanja-manja dengan Sam.


"Bukankah besok ada meeting penting, aku rasa menghabiskan waktu tiga hari disini. Sudah lebih cukup Cantika! Dan aku minta besok di kantor bersifat lah seperti biasa, layaknya seorang bos dan sekretaris! Oh iya, ada hal yang ingin aku tanyakan dari kemarin. Apa aku benar pernah melakukan itu denganmu Cantika? Kapan, dan kenapa aku tidak mengingatnya sama sekali,"


Cantika seolah menampakkan wajah bimbang, menghentikan gaya manjanya dari Sam. "Apa kamu ragu akan aku Sam?" tanya balik Cantika yang membuat Sam terdiam.


"Lupakanlah," balas Sam yang memilih melangkah keluar.


" Bersiaplah, aku akan segera datang! Aku tidak ingin menunggu lama Cantika," ujar Sam yang berjalan ke arah luar.


Hanya akalan Sam saja yang ingin keluar. Sam tidak memiliki tujuan ingin pergi kemana. Hanya ingin menghindari Cantika. Melihat sebuah kursi kosong yang berada di ruang hotel itu, membuat Sam memilih untuk duduk disitu.


Seperti biasa memainkan aplikasi di telepon selulernya. Sam membaca berita dan mengotak atik aplikasi telepon itu, seketika mata Sam tertuju pada sebuah kolom berita penjualan.


Sam melihat rumah lama Mutiara yang disita oleh bank dan sedang dalam tahap pengelelangan, dengan cepat Sam menghubungi nomor yang terdapat dalam kolom berita itu.


"Halo …." Sam melakukan percakapan terhadap nomor yang dituju.


"Ok, deal! Siapkan sertifikatnya lalu aku akan membayarmu cast," balas Sam dari sambungan telepon itu.


Sam melakukan percakapan dengan orang yang hendak menjual rumah Mutiara, tanpa meminta persetujuan sang papi.


"Siapkan dana cas dua miliar!!" Titah Sam lagi terhadap pihak keuangan perusahaannya.


Setelah melakukan transaksi, yang diwakilkan Sam kepada Staf perusahaan kepercayaannya itu. Sam memilih kembali berjalan ke arah Cantika, yang sedang menunggunya dalam kamar hotel itu.


Perasaan senang yang telah berhasil memiliki rumah lama almarhum papi Mutiara, membuat Sam sesekali melempar senyum menatap telepon selulernya itu.


"Apa kamu sudah selesai Cantika?" tanya Sam yang berjalan ke arah Cantika, yang sedang duduk menunggu kedatangan Sam.


"Kenapa begitu lama Sam," balas Cantika.


"Ayo," ajak Sam terhadap Cantika itu.

__ADS_1


Cantika dan Sam berjalan ke arah luar, menuju arah mobil yang sedang terparkir dengan ditunggu sang sopir.


****


POV Kikan


"Apa kamu masih memikirkannya Mutiara? Sudah dua tahun lebih berlalu hubungan ini! Apa kamu belum bisa mencintaiku? Kenapa Mutiara? Sebegitu rindunya kamu dengan Sam? Hingga tak satupun pembicaraanku yang kamu jawab, aku tengah berbicara padamu Mutiara!!" ujar Rian yang kesal atas sikap Mutiara yang mengacuhkannya.


Mutiara duduk di dekat taman di rumah Rian, matanya tertuju ke arah bunga mawar yang mekar indah. Bunga itu sengaja Mutiara letak di atas meja tepat di hadapannya yang sedang duduk.


Mutiara memiliki kenangan akan bunga mawar, yang pernah Sam berikan di saat Valentine. Sam selalu memberikan bunga sebagai tanda sayangnya terhadap Mutiara. Sam tidak ingin Mutiara merasa kesepian akan kehilangan saudaranya itu, dan sekarang tepatnya 14 Februari. Mutiara sangat menanti Sam datang dan memberikan bunga seperti dulu.


"Mutiara," masih panggil Rian, yang belum sadar dari khayalannya, hingga Sam menepuk pelan tangan Mutiara. Yang dia letak menangkal insangnya.


"Kak Sam," panggil Mutiara yang terlepas dari mulutnya.


Rian kesal menepuk keras meja yang tengah berada di hadapan Mutiara. "Sampai kapan kamu akan mengingatnya terus Mutiara?" Pekik Rian dengan nada kencang.


Rian menunjukkan emosinya ke arah Mutiara, membuat Mutiara seakan takut dan memilih hendak beranjak.


"Lepaskan tanganku," pinta Mutiara yang melihat tangannya ditarik kasar oleh Rian. Mutiaranya yang ingin berjalan pergi itu, ditarik kasar oleh Rian dan memaksanya kembali duduk.


Plakk


"Jangan pernah berbicara padaku dengan nada tinggi Mutiara," ancam Rian yang melekatkan tangannya ke arah pipi Mutiara.


Hingga Mutiara merasa kesakitan, mengelus pelan pipinya yang tengah kesakitan.


"Maafkan aku Rian, aku rindu dengan kak Sam," balas Mutiara.


Plakk


"Sekali lagi kamu menyebut namanya dari mulutmu, maka jangan salahkan aku jika berbuat kasar lagi denganmu! Aku sudah cukup sabar Mutiara, menunggu kamu mau menerimaku! Dan, jangan berharap aku akan melepaskanmu Mutiara. Karena itu tidak akan mungkin," ancam Rian lagi.


Mutiara mengelus pipinya yang tengah kesakitan, dan menatap ke arah Rian yang berubah menjadi kasar. "Aku tidak percaya jika kamu sekasar ini Rian!" ujar Mutiara yang memilih berlalu meninggalkan Rian di ruang samping itu.


Mutiara menangis berlari ke arah kamarnya, dia tidak percaya jika Rian berubah menjadi sosok yang kasar padanya.


"Kak Sam, Mutiara rindu! Bawa Mutiara pergi dari sini Kak. Ha haaaa …." Lirih tangisan Mutiara di atas ranjangnya itu.

__ADS_1


Teringat sekilas di benaknya Rian yang melayangkan tamparannya ke arah pipinya itu. "Kenapa dia jadi berubah? Apa yang terjadi terhadapnya," lirih Mutiara berbicara pada dirinya sendiri. Sehingga Rian datang dan menemui Mutiara yang tengah menangis itu.


"Maafkan aku Mutiara, aku tengah ada masalah! Proyek yang aku pegang gagal, lagi-lagi aku kalah dari perusahaan Sam," ujar Rian terhadap Mutiara.


Rian tampak menyesali perbuatannya, hingga dia mengambil tangan Mutiara dan meminta maaf ke arah Mutiara itu.


Mutiara hanya diam menatap sedih ke arah Rian. Sehingga Rian menghapus air mata yang jatuh ke pipi Mutiara itu.


"Aku menyesal Mutiara, maafkan aku! Tidak seharusnya aku bersikap kasar terhadapmu tadi. Seharusnya aku bisa mengontrol emosiku dan tidak melampiaskannya untukmu, Mutiara."


"Iya, maafkan aku Rian! Aku belum bisa mencintaimu, dan aku berharap agar kamu menepati janjimu. Ceraikan aku Rian! Aku tidak bahagia hidup denganmu."


Rian terdiam mendengar jawaban Mutiara, sehingga dia melepaskan tangannya dari pipi Mutiara itu. "Mintalah yang lain dariku Mutiara, selain kata cerai! Karena itu tidak akan pernah terjadi Mutiara," balas Rian yang memilih beranjak dari sebelah Mutiara itu.


"Oh iya, Mutiara! Aku mendapat kabar jika rumah lamamu sedang dilelang, apa kamu ingin memilikinya lagi? Aku akan menebus rumah itu untukmu, tapi sebagai gantinya! Aku ingin kamu belajar mencintaiku," ujar Rian yang hendak berlalu itu.


"Rian," panggil Mutiara membuat Rian menoleh ke arah Mutiara lagi.


Rian memilih berjalan kembali ke arah Mutiara yang masih duduk di atas ranjang itu. "Apa Mutiara?" tanya Rian yang duduk di sebelah Mutiara.


"Apa kamu serius dengan ucapanmu? Jika seperti itu, aku ada satu permintaan lagi denganmu," pinta Mutiaranya terhadap Rian yang terlihat senang itu.


"Apa Mutiara? Katakanlah," balas Mutiara.


"Aku ingin tinggal di rumah papi dulu! Apa boleh Rian? Jika kita tinggal disitu, aku rindu dengan rumah dan semua peninggalan papa."


"Baik Mutiara, tapi kamu harus janji akan melupakan Sam dan belajar untuk mencintaiku."


Walau berat hati Mutiara tetap mengiyakan syarat yang diberikan Rian. Mutiara memang sangat menginginkan rumah almarhum papanya itu.


"Aku sangat rindu dengan rumah itu, kamu tidak berbohong denganku kan Rian?"


"Tentu tidak, aku akan segera menyuruh mereka untuk melakukan pembayarannya! Agar kita akan segera pindah dan tinggal di sana, sesuai dengan apa yang kamu inginkan Mutiara," Rian terlihat senang yang melihat senyum bahagia di wajah Mutiara itu.


Tiada lagi tangisan di pipi itu, mengingat Mutiara yang akan kembali ke rumah lamanya. "Tunggu sebentar ya sayang, aku akan menghubunginya kini," ujar Rian yang mulai melakukan panggilan terhadap asistennya, agar segera mengurus semua pembayaran rumah lama Mutiara itu.


"Baik Rian, akan segera aku cari tahu," balas sang asisten dari sambungan telepon seluler yang dibuat Rian.


"Apa kamu bahagia Mutiara?"

__ADS_1


"Uhm, Terima kasih Rian. Aku memang sudah lama menginginkan rumah itu kembali padaku," ujar Mutiara yang tidak lagi sedih


__ADS_2