
Bab 43
Jangan mencintaiku
"Aku pergi dulu yah sayang, oh iya nanti siang kamu harus siap-siap! Kakak ingin mengajakmu makan siang di luar."
"Baik Kak," balasku yang melihat kepergiannya.
Aku menatap dia dari kejauhan hingga mobil yang dia bawa pergi, aku tetap berada di teras rumah itu. Dengan menikmati sinar mentari yang menyapa pagi.
Sedikit, ku terbayang akan masa dulu, di mana papa dan mama selalu mengajakku keliling komplek, kami berjalan santai seraya mencoba akrab dengan para tetangga.
"Apa aku keliling-keliling kompleks juga yah? Aku rasa itu ide yang baik, daripada aku menghabiskan waktu bengong seperti orang bodoh di rumah."
"Bik, Mutiara jalan-jalan dulu," pekikku dari depan rumah mulai berjalan di sekitar rumah.
"Pagi Mutiara, gak mampir nih sarapan dulu? Sudah lama loh, gak jajan di kedai mang Udin."
"Oh iya yah, masakan mang Udin kan terkenal enak! Boleh deh. Mutiara pesan nasi uduknya saja ya mang."
"Boleh tunggu sebentar yah, Neng," balas mang Udin mempersiapkan pesan yang ku minta.
"Ngomong-ngomong Mang Udin ini jualannya sudah cukup lama yah? Tapi rasanya tetap masih sama gak, dengan yang dulu?"
"Di jamin Neng, masih enak! Ini Neng cobain," ujar mang Udin meletakkan nasi uduk itu di atas meja.
"Ok deh, aku coba yah Mang," balasku yang mulai memasukkan nasi uduk itu ke dalam mulut ini. "Hmmmm, rasanya masih juara."
"Benarkan, Mamang gak bohong kan?"
"Kalau seperti ini nih, wajib tiap hari dong Mutiara harus mampir," balasku yang masih melahap nasi uduk itu hingga habis tanpa tersisa.
"Enak Mang."
"Tambah lagi Neng?"
"Enggak ah Mang," balasku yang mencoba meraih duit yang ada di dalam saku ini. "Eh kok gak ada yah, apa aku lupa membawa duit? Oh iya aku baru ingat. Bukankah tadi aku tidak mengambil duit dulu sebelum pergi? Gimana ini?" Aku bagaikan seorang yang kebingungan di pinggir jalan itu. Aku tengah lupa membawa duit sementara aku sudah menyantap habis makanannya.
"Ada apa Neng?"
"Ha, bentar yah Mang," balasku yang mencoba mencari telepon selulerku. "Yah, pulsanya habis," aku semakin kebingungan dan merasa tidak enak dengan mamang Udinnya.
"Sudah Neng, kalau lupa membawa duit! Ya entar aja bayarnya. Gak apa kok!" balasnya.
Aku menggaruk kepala yang tidak gatal ini merasa tidak enak dengan Mamang Udin. "Ha, maaf …."
"Ada apa Mutiara?" tanya Sam yang kebetulan sedang lewat dari kompleks itu.
Aku tidak menjawab kak Sam, dan lebih memilih mengacuhkannya. "Mang ntar Mutia kembali lagi yah! Mutiara mengambilnya duit sebentar Mang," ujarku dari sebelah mobil kak Sam.
Kak Sam turun dan berdiri di hadapanku yang hendak pergi. "Awas Kak Mutiara mau pulang," ujarku yang belum siap menatap wajah kak Sam.
Melihat wajah kak Sam mengingatkanku akan hal yang hampir saja terjadi di antara kami. Aku memutuskan untuk lewat dari samping badannya. "Awas Kak, jangan halangi jalan Mutiara," ujarku lagi yang bergeser ke arah kanannya. "Kak, biarkan Mutiara lewat," pintaku yang melihatnya tidak memberikan celah untukku lewat.
Kuberanikan diriku menantang dan menatap wajah kak Sam. "Biarkan Mutiara lewat Kak!!" ucapku dengan menaikkan intonasi nada yang sedikit tinggi, membuat Mamang Udin keluar. "Eh Sam, mau makan nasi uduk juga Sam?" tanya mang Udin.
__ADS_1
Kak Sam menarik tanganku masuk ke dalam. "Temani Kakak makan dulu," ujarnya yang menarik kursi itu untukku.
"Aku sudah makan Kak, dan Mutiara ingin pulang sebentar! Mutiara mau ngambil duit Kak, Mutiara lupa tadi gak bawa duit," balasku yang membuat kak Sam tersenyum.
"Ada apa Kak, kenapa Kakak tersenyum?"
"Mang, jadi adikku ini tadi makan gak bayar?" ujar Sam terhadap mang Udin yang datang membawa makanan itu ke hadapan kak Sam.
"Itu mungkin salah Mamang juga, yang memanggil Neng Mutia untuk singgah," balas sang pedagang.
"Aku akan bayar kok Kak, ini Mutiara ingin pulang mau ambil duit," ujarku yang berdiri dari hadapan kak Sam.
"Duduk, duduk Mutia!!" Pekik kak Sam marah melihatku yang hendak pergi. "Aku tahu suamimu banyak duit Mutiara, tapi bukan berarti kamu bisa melupakan aku sebagai Kakakmu, yang selalu ada untukmu Mutiara."
Aku menatap tajam ke arah kak Sam. "Selalu ada Kak, kamu tidak pernah ada di saat aku butuhkan Kak!" balas Mutiara yang memilih pergi.
"Mang ini yah," ujar Sam yang meletakkan duit pecahan 100rb ke atas meja itu.
"Kembaliannya Sam," pekik sang pedagang yang tidak di hiraukan Sam.
Sam yang marah itu menarik paksa Mutiara masuk ke dalam mobilnya. "Lepaskan aku Kak, Mutiara ingin pulang," pinta Mutiara yang berusaha turun dari mobil itu.
Sam menahan tangan Mutiara untuk tidak turun dari dalam mobil itu. "Kakak ingin bicara Mutiara!"
"Tidak ada yang perlu dibicarakan Kak, turunkan Mutiara!!"
"Argh Mutiara, jangan buat Kakak bersikap kasar denganmu! Apa kamu lupa aku ini siapa Mutiara?"
"Lepaskan Mutiara Kak, jika Kakak tetap seperti ini terus. Mutiara akan sulit melupakan Kakak," lirihku dengan ditemani air mata ini.
"Tapi Kak," masih ujar Mutiara protes sementara Sam menghentikan laju kendaraannya di tempat yang sedikit sunyi. "Antar Mutiara pulang Kak! Mutiara akan sulit melupakan Kakak," masih ucap Mutiara dengan tetesan air matanya, hingga Sam menghapus air mata Mutiara yang jatuh di pipinya itu.
Sam membelai lembut pipi dan rambut Mutiara, dengan disudahi memberi kecupan di kening Mutiara. "Kakak akan selalu sayang denganmu Mutiara," ujar Sam yang merebahkan kepala Mutiara di dada Sam.
"Tapi Kak, Mutiara mau lebih dari itu! Apa Kakak bisa mengambilku dari kak Rian?" ujar Mutiara yang membuat Sam melepaskan Mutiara dari pelukannya.
Sam mengacak kembali rambut Mutiara. "Kamu harus sadar aku ini Kakakmu Mutiara," balas Sam dengan mata yang berbinar tanpa berani menatap mata Mutiara.
"Tapi Kak," ucap Mutiara yang melihat Sam menghapus air matanya.
"Maafkan Kakak Mutiara," lirih Sam yang kembali menghidupkan mesin mobilnya.
"Kak, 10 menit lagi Kak, biarkan Mutiara berada di sebelah Kakak! Mutiara ingin tidur di kaki Kakak. Seperti dulu Kak! Saat Kakak selalu menghiburku yang selalu kena marah oleh mama."
"Baiklah," ujar Sam yang membenarkan cara duduknya, dan merebahkan kepala Mutiara tidur di pangkuannya.
"Kakak sayang denganmu Mutiara," lirih Sam tanpa sadar air matanya mengenai pipi Mutiara.
"Kak," panggil Mutiara mengambil tangan Sam, lalu mendekapnya begitu erat di dadanya. Mutiara juga memberikan kecupan di tangan Sam itu.
"Tangan ini yang selalu menjaga dan melindungi Mutiara, terima kasih Kak. Kakak sudah menjadi Kakak pengganti yang baik untukku."
Sam mendengar penuturan Mutiara membuatnya semakin sedih, hingga dia menarik tangannya dari Mutiara. "Sudah habis 10 menit Mutiara, ayo Kakak antar pulang," ujar Sam yang membuat Mutiara kembali dudu.
"Kamu harus bisa membuang perasaan itu Mutiara! Karena kita tidak akan mungkin bersama, dan kamu akan tetap menjadi adik Kakak selama-lamanya," ujar Sam dengan tetesan air mata di matanya, dan melihat Mutiara yang berlinang air mata.
__ADS_1
"Haaaaa haaaa," tangisan Mutiara
"Sudah Mutiara, diamlah Kakak akan mengantarmu pulang," pinta Sam tanpa menoleh ke arah Mutiara.
"Jawab pertanyaan Mutiara Kak, apa Kakak mencintai Mutiara juga Kak?"
Klekk
Jantung Sam berdetak semakin kencang mendengar pertanyaan Mutiara. Andai dia bisa berkata jujur, pasti dia akan menjawab iya, namun hal itu tidak mungkin terjadi. Karena hanya akan membuat Mutiara dalam masalah. Sam tidak ingin terjadi sesuatu terhadap Mutiara. Mengingat sang papi yang masih membenci Mutiara hingga saat ini.
"Kak jawab?" Masih tanya Mutiara yang melihat Sam terdiam.
"Kita harus pulang Mutiara, Kakak ingin kembali ke kantor," ujar Sam menyalakan kembali mesin mobilnya itu.
"Jika Kakak tidak menjawabnya, jadi Mutiara anggap jika Kakak juga mencintai Mutiara. Jadi, Mutiara mohon! Jangan paksa Mutiara menghapus perasaan ini Kak."
"Mutiara! Itu hanya akan membuat kamu tersakiti Mutiara, jangan mencintai seseorang yang tidak membalas cintamu Mutiara," balas Sam yang menyakiti perasaannya sendiri.
Tentu saja Sam ingin berkata jika dia sangat mencintai Mutiara, namun hal itu tidak akan bisa dilakukan Sam. Hingga Sam memilih membohongi perasaannya. Sam melihat Mutiara dengan tangisannya yang semakin sesak. "Sudah Mutiara, aku ini Kakakmu," ujar Sam yang memberikan tisu ke arah Mutiara.
"Tapi Mutiara mencintai Kakak dari dulu Kak, dari awal Mutiara dewasa dan mengenal cinta. Kakak lah orang yang mampu membuat Mutiara bahagia dan merasa nyaman. Bahkan Mutiara rela melakukan apapun untuk Kakak," ujar Mutiara yang mengenang, jika dia harus kehilangan perawannya karena untuk melindungi Sam dan balas dendam yang dilakukan seseorang itu untuk Sam.
"Maafkan Kakak, Mutiara! Ini salah Kakak yang terlalu menyayangimu sebagai adik Kakak, hingga kamu menaruh hati pada Kakak."
"Apa Mutiara salah mencintai Kakak?"
"Sudah Mutiara, jangan bicara itu lagi! Kakak tidak ingin membahas itu. Dan maafkan Kakak hampir melakukan itu denganmu!" ujar Sam dengan melajukan kendaraannya.
"Ah, harusnya aku biarkan itu terjadi Kak," lirih Mutiara yang membuat Sam menekuk air Slavina nya.
Klekkk
Wajah Sam seketika berubah memerah, mendengar pernyataan Mutiara. "Apa aku menjalin hubungan diam-diam saja dengannya yah, toh aku dan dia saling mencinta. Apa yang terjadi urusan belakang? Argh, aku mesti gimana? Aku juga mencintaimu Mutiara," batin Sam dalam hatinya melirik Mutiara yang menyandarkan kepalanya ke jendela mobil itu.
Sam ingin menggerakkan tangannya ke kepala Mutiara, ingin mencurahkan rasa kasih sayangnya. Lalu mengungkapkan tentang apa yang dirasa sama halnya dengan apa yang dirasakan Mutiara saat ini.
"Sadar Sam, ingat papimu dan Cantika, belum lagi Rian yang akan marah terhadapmu. Arghhh," masih lirih Sam dalam hatinya yang sedang berdecak kesal akan cintanya yang tidak bisa berlabuh.
"Turun Mutiara, sudah sampai," ujar Sam yang membuat Mutiara turun tanpa meninggalkan sepatah katapun.
Mutiara berjalan dengan sayu menuju ke dalam rumah, tanpa menoleh ke arah Sam. "Maafkan aku Mutiara," masih ujar Sam dalam mobil itu hingga dia memutuskan untuk kembali ke kantor.
"Kamu dari mana saja Sam? Cantika bilang ke Papi, jika kamu sedari tadi sudah pergi! Apa kamu menyempatkan diri menemui wanita itu Sam?"
"Aaarghhh Papi!!! Sam baru pulang Papi, Sam capek. Sam ingin melanjutkan pekerjaan Sam dulu."
"Sam, jika Papi melihatmu dan mengetahui jika kamu diam-diam menemuinya! Jangan salahkan Papi Sam, akan membuat hidupnya celaka," ancam papi Sam membuat Sam kembali menoleh dan berjalan ke arah papinya.
"Yang seharusnya Papi celakai itu Sam, Papi!! Karena Sam sangat mencintainya, hingga detik ini Papi," balas Sam dengan mata yang menantang ke arah sang papi.
Plakkkk
"Papi!!" pekik Sam seraya mengelus pipinya.
"Kamu ingat Sam, Papi tidak akan membiarkanmu untuk menemuinya. Jadi jangan bermimpi untuk bisa hidup dengannya," masih ancam sang papi.
__ADS_1
"Arrrrgggghhhh!!!!!! Papiiiiii!!!!" Pekik Sam pecah di ruang itu, hingga beberapa karyawan menatap ke arahnya.