Cinta Demi Balas Budi

Cinta Demi Balas Budi
Bukan sekedar ancaman


__ADS_3

Bab 45


Bukan sekedar ancaman


Aku takut jika terjadi sesuatu terhadap kak Sam, tapi entah kenapa Rian tidak memberikan aku izin untuk mencari keberadaan kak Sam yang masih berada di dalam kafe itu. kak Rian mengajakku masuk ke dalam mobilnya.


"Mutiara, katakan padaku apa yang dikatakan Deni terhadapmu Mutiara?"


"Dia hanya ingin mencelakai kak Sam," balasku terhadapnya yang masih menahan badan ini yang sedang meronta-ronta.


"Lepaskan aku Rian, aku hanya khawatir jika terjadi sesuatu terhadap kak Sam."


"Sam bukan anak kecil lagi Mutiara, dia pasti bisa menjaga dirinya dengan baik," balas Rian yang membuatku sangat kecewa akan jawabannya itu.


"Setidaknya lepaskan aku! Kamu hanya akan menyakitiku," ujarku padanya, hingga dia melepaskan tangannya yang menggenggam erat tangan ini.


"Deni tidak melakukan apapun terhadapmu kan?"


"Tidak Rian," balasku yang memilih menatap ke arah jendela mobil itu.


Aku melihat Deni yang sudah masuk ke dalam mobilnya, setidaknya aku merasa lega. Itu tandanya dia tidak bertemu dengan kak Sam. Tapi apa yang membuatnya kembali datang ke kota ini. Bukankah dia sudah merasa nyaman tinggal di luar negeri? Argh, dia sudah menghancurkan hidupku. Dan aku tidak ingin terjadi sesuatu terhadap kak Sam.


"Apa kamu masih memikirkannya Mutiara? Sudah lah Mutiara! Sam bisa menjaga dirinya sendiri."


"Rian, cuman kak Sam yang aku punya kini Rian!"


"Apa maksudmu Mutiara? Aku tidak siapa-siapamu dan aku tidak berarti di hidupmu! Arghhh aku tahu Mutiara, jika kamu hanya mencintai dan menginginkan Sam dalam hidupmu! Aku bukan siapa-siapamu Mutiara?"


"Bukan seperti itu Kak Rian, maafkan aku," balas Mutiara yang melihat rona wajah marah di raut muka Rian itu. "Kak Rian please jangan marah," ujar Mutiara yang mengambil tangan Rian.


Rian menepis tangan Mutiara yang menahan tangannya itu. "Kak Rian, maafkan aku," masih lirih Mutiara yang berjalan ke hadapan Rian.


Rian berhenti dan menatap rona wajah sedih di muka Mutiara. "Sudah Mutiara, tanpa langsung kamu sudah menyinggung perasaanku Mutiara."


"Tapi Rian, bukan seperti itu."


"Bicara padaku jika kamu sudah benar-benar bisa melupakan Sam."


"Kak Rian!" Pekik Mutiara yang melihat Rian lebih memilih masuk ke dalam ruang kerjanya.


Mutiara ingin menerobos masuk ke dalam, tapi Rian menutup dan mengunci pintu itu untuk Mutiara.


"Aku mohon Rian buka! Buka Rian, aku janji Rian tidak akan lagi berbicara tentang kak Sam denganmu," masih lirihku menangis dari balik pintu kerja Rian itu.

__ADS_1


Dia tidak mau membukakan pintu itu untukku, hingga aku memilih berjalan kembali ke dalam kamar.


Apa yang salah dengan perkataanku Rian? Cuman kak Sam memang yang aku punya kini. Aku tidak memiliki siapapun lagi terkecuali kak Sam yang akan selalu sayang dan menjagaku.


Klekkk


"Rian," panggil ku sangat senang melihat Rian datang menemuiku ke dalam kamar. Aku berjalan ke arahnya yang baru datang itu.


Rian menatapku lagi masih dengan tatapan marahnya, lalu dia menepis tangan ini yang mencoba memegang tangannya.


"Kak Rian, berikan aku maafmu," pintaku yang tidak mau lari dari hadapannya.


Dia mendorong tubuh ini ke atas ranjang hingga posisiku jadi telentang. Lalu meletakkan tangannya ke samping kiri dan kananku, dia yang sedang berada di atas badan ini menatapku dengan tajam.


"Jika pun kamu menyukainya, kamu tidak akan pernah bisa bersamanya," balasnya seraya memberikan kecupan di kening ini. Hingga aku tersenyum ke arahnya.


"Tidurlah, aku ingin pergi sebentar," ujarnya yang berdiri dari atas badan ini.


"Kamu mau kemana, ini sudah malam?"


"Aku akan tidur di kantor, kamu tidak perlu menungguku," balasnya yang menyiapkan peralatan kantornya.


"Tapi kenapa Kak, apa ada yang salah dariku Kak?"


Kenapa akhir-akhir ini dia lebih sering menghabiskan waktunya tidur di kantor, apa terjadi sesuatu, atau dia sedang menutupi sesuatu dariku? Segala pertanyaan timbul di benak ini yang melihatnya berjalan ke arahku.


Cup cup …. Dia meninggalkan kecupan di kening ini. "Tidurlah sayang," ujarnya yang mengelus lembut rambut ini. Dia tampak perhatian, tapi kenapa sifatnya seolah berubah terhadapku? Dia lebih menyukai tidak tidur di sebelahku.


"Aku pergi sayang," ujarnya lagi yang menutup kamar itu.


POV Sam


"Ini sudah malam Cantika, kamu mau kemana lagi?"


"Kamu tidak mau kan tidur di sebelahku, jadi aku memutuskan untuk beberapa hari ini aku tidur di rumahku! Agar kamu puas memikirkan Mutiara," ujar Cantika yang hendak berjalan ke arah luar itu.


"Itu ide bagus Cantika, kenapa kamu tidak memintaku untuk menceraikanmu saja Cantika? Aku ras itu yang terbaik diantara kit Cantika!"


"Ahhhh," Cantika menghela nafas panjang menatap ke arah Sam yang berdiri di ambang pintu, tengah memperhatikan Cantika yang hendak pergi itu.


Cantia berdengus kesal menatap Sam yang tidak mempertahankannya agar tidak pergi.


"Kamu kelewatan Sam," pekik Cantika seraya memilih masuk ke dalam mobilnya.

__ADS_1


"Kamu tidak perlu pulang lagi Cantika!" Pekik Sam yang memilih masuk dan mengunci pintu rumah itu.


Apa dia pikir aku akan menahan dia agar tidak pergi? Cantika- Cantika … memilikimu bagaikan musibah bagi hidupku Cantika. Apalagi aku merasa jika anak yang ada dalam kandunganmu itu sama sekali bukan anakku, bagaimana aku bisa hidup dengan wanita yang tidak bisa menjaga diri dan kesuciannya.


Arrrrggghhhh aku menyesal karena selama ini aku telah mencintaimu Cantika. Kamu hanya akan mengincar kekayaan orang tuaku Cantika, aku tahu itu.


*****


"Bibik, Bik!!" Pekik Sam yang membuat sang bibi berlari ke arah Sam.


"Ada apa Den?"


"Apa Bibi pernah mendengar Cantika berbicara atau menghubungi seorang pria lewat ponselnya Bik?"


"Kalau soal itu, Bibi gak tahu Den! Bibik gak pernah bertanya pada non Cantika, jika dia sedang berbicara dengan seorang cowok atau cewek Den, tapi non Cantika sering tertawa sendiri Den. Jika dia sedang berbicara dalam sambungan telepon itu."


"Kenapa Bibi tidak bertanya Bik?"


Klekkk


"Bibik takut Den," jawab sang bibi polos.


"Ok baiklah, tapi lain kali jika Cantika berbicara pada seorang cowok! Bibi harus segera melapor kepada saya."


"Siapapun Den?"


"Iya, Bik!"


"Kalau cowok itu tuan, papi Den gimana? Apa Bibik lapor juga, terus jika ke tukang sayur, ke orang pengantar barang atau …."


"Stop Bik!" bentak Sam membuat sang bibi terdiam.


"Maaf Den, Bibi hanya bertanya Den?"


"Tapi gak seperti itu kali Bik?"


"Iya Den," balas sang bibi dengan wajah sedih.


"Maafkan Sam yah Bik!"


"Iya Den," balas sang bibi.


"Ya sudah Bibi kembali bekerja," balas Sam yang mulai meninggalkan rumah.

__ADS_1


__ADS_2