Cinta Demi Balas Budi

Cinta Demi Balas Budi
Hidup ku bagai di penjara


__ADS_3

Bab 1 4


Hari-hari ku bagai di penjara, papi sama sekali tidak memberikan aku celah untuk keluar. Papi begitu ketat dalam mengawasi, pengawal ditempatkan sampai di pintu kamar.


Kemana aku berjalan sang pengawal tetap mengikuti, hanya di kamar saja aku bisa tenang tanpa pengawal.


Aku mencoba keluar dan kabur lewat jendela kamar, namun jendela kamarku dikunci menggunakan besi, hingga sulit untukku membukanya.


Ah ini gila, papi memang tidak akan memberikan aku celah.


"Besok kamu harus mulai ikut papi ke kantor, kamu harus belajar memimpin perusahaan," sahut papi yang tiba-tiba saja masuk ke dalam kamarku.


"Aku tidak menatap bahkan menjawab omongannya, tapi setidaknya aku tidak akan bosan seperti di penjara dalam kamarku, di tambah papi juga tidak memberikan aku henpon. Bagaimana caraku buat menemui Mutiara. Aku hampir enam bulan berpisah dengannya.


Aku harap dia tetap menjaga dirinya, dan bagaimana dengan kehamilannya, aku rasa dia sudah melahirkan. Kira-kira Anaknya apa ya?" gumam Sam dalam hatinya.


"Apa kamu sudah siap Sam?" tanya sang papi yang sudah berdandan rapi, hendak membawaku ke perusahaannya untuk pertama kalinya.


"Lagi-lagi aku memilih diam, dan hanya mengikuti sang papi hingga masuk kedalam mobil.


"Pi kembali kan henponku! Setidaknya berikan aku henpon. Aku butuh," ucapku pada papi, yang kini berada di sampingku.


"Ini sudah papi siapkan, tapi ingat iya! Kamu tidak boleh macam-macam atau mencoba mencari tahu kabar tentang Mutiara, karena henpon kamu sudah papi pasang alat penyadap suara. Jadi lupakan jika kamu berniat untuk kabur apalagi untuk menghubunginya," sahut sang papi yang membuat Sam seakan kesal, baru saja senyum diwajah ini keluar. Menerima henpon baru pemberian papi, tapi setelah mendengar perkataan papi. Membuatku ragu untuk menerimanya.


"Ah, ini ambillah," ucap Sam balik menyerahkan henpon baru yang baru saja papinya berikan, dan kembali menunjukkan wajah murungnya, menatap ke arah luar lewat jendela mobil yang dia buka separuh. Menatap dengan seksama para pengemudi yang juga lalu lalang.


"Kamu akan membutuhkan nya Sam," ucap sang papi menatap arah Sam yang memandang ke luar jendela.


"Tidak, lupakan lah. Argh … bagaimana bisa bilang tidak butuh, ah papi. Memasang alat penyadap seperti aku seorang penjahat," umpat Sam kesal.

__ADS_1


"Kenapa kamu begitu membencinya Papi? Ah bagaimana keadaanmu Mutiara? Aku rindu dengan senyumanmu," batin Sam dalam hatinya itu.


"Turunlah Sam kita sudah sampai," ucap papinya yang menurunkan Sam di salah satu perusahaan ternama.


" Selamat pagi Pak," sahut para karyawan yang melihat kedatangan Sam dan papi itu.


Semua staf dan karyawan menyambut Sam dengan ramah, walau wajah Sam dia tekuk sedemikian rupa, menampakkan wajah terpaksa mengikuti papi.


" Ah, aku akan gila disini! Bersama mereka memandangi layar komputer dari pagi hingga sore. Menjalankan bisnis, bukan suatu usaha yang membuatku tertarik, aku lebih senang memiliki usaha seperti membuka cafe gitu! Tapi ah, papi tidak akan membiarkan aku memilih pilihanku, siapa yang akan mengurusi perusahaannya yang besar ini," gumam Sam dalam hatinya, walau dia kini sedang berada di dalam ruangan pribadinya, sebuah ruangan khusus untuk seorang CEO seperti Sam.


"Papi harap kamu bisa menjalankan semua ini, mau bagaimana pun kamu pewaris tunggal perusahaan papi, selama ini papi berusaha kerja keras untukmu Sam," ujar papi Sam yang tidak di hiraukan oleh Sam.


" Bukan perusahaan seperti ini yang aku inginkan, mendapatkan perusahaan dengan cara licik. Argh," gumam Sam dalam hatinya berdecak kesal menatap ke arah sang papi.


"Silahkan masuk!" ujar papi, Sam yang melihat seorang wanita cantik yang tidak lain adalah Cantika mantan kekasihku.


Cantika datang dengan sangat cantik, bukan berarti aku tertarik lagi dengannya. Dia menatapku yang kini dihadapannya.


"Maaf pak, apa bapak memanggil saya?" tanya Cantika ramah terhadap papi Sam, seolah Cantika tidak melihat akan Sam yang kini duduk di kursi meja kantornya. Dan papi seakan menganggap Cantika seperti menantunya.


Memang sih, Cantika sangat dekat dengan kedua orangtuaku. Mereka sangat menyayangi Cantika bagai putri mereka sendiri, dan karena itu papi sangat marah dan membenciku, karena aku meninggalkan Cantika. Wanita yang seharusnya menjadi istriku.


"Iya Cantika, Papi ingin kamu mengarahkan dan mengajari Sam untuk menjalankan perusahaan ini, dan mulai kini kamu jadi sekretaris untuk Sam," ucap papi Sam yang membuat kedua bola mata Sam seakan melotot namun. Ah, percuma aku Protes, toh papi tidak akan mau mendengarkanku.


"Sam," panggil sang papi yang melihat Sam hanya fokus membuka layar komputernya, Sam seolah bertingkah tidak mendengar percakapan papi dan Cantika. Padahal aku sesekali melirik ke arah mereka yang sedang berbicara. Dan melihat komputer membuatku tertarik dan ingin mengetahui keadaan Mutiara.


" Iya Pi," jawab Sam dengan berat hati.


"Kamu harus bekerja sama dengan Cantika, untuk mengembangkan perusahaan industri, dan satu lagi semua fasilitas di kantor ini sudah papi masukin alat penyadap juga. Jadi papi harap kamu jangan mencari celah atau apapun itu untuk menghubungi dan mencari tahu tentang keberadaan Mutiara," tegas papi Sam yang membuat Sam kembali mematikan Layar komputernya.

__ADS_1


"Ingat itu Sam semua aktivitas, gerak gerik kamu akan papi pantau terus, jangan pernah sesekali berusaha untuk kabur. Papi tidak akan memberikan celah untukmu menemui wanita itu," tegas papi Sam seraya pergi meninggalkan Sam dan cantika di ruangannya.


"Argh," ucap Sam kesal dan membanting tangannya kemeja.


"Apa kamu begitu mencintainya Sam? Sampai kau meninggalkanku di hari mau pernikahan kita? Dan aku lihat tidak ada rasa bersalah di matamu yang sudah meninggalkanku," ucap Cantika yang duduk di depan meja Sam, seolah sedang berusaha merayu Sam kembali.


"Isht ... buat apa aku menyesal, sedangkan kamu senang dan bahagia saat aku meninggalkanmu? Iyakan?" tanya Sam yang memandang serius ke arah Cantika itu.


"Apa maksudmu Sam?" tanya Cantika seolah tidak senang.


"Kamu kesini sebagai sekretarisku kan! Bersikaplah seperti kamu seorang sekretaris, dan Jangan pernah bahas masa lalu kita. Soal hati ku aku yang tahu kamu jangan pernah ikut campur urusanku, hubungan kita sekarang hanya sebagai atasan dan bawahan. Bekerjalah secara profesional. Dan satu lagi aku camkan denganmu. Aku tidak menyesal sudah meninggalkanmu," tegas Sam yang mulai membuka map yang harus dia kerjakan di atas mejanya.


"Kamu kelewatan Sam! Aku masih mencintaimu Sam, kamu setega ini denganku, lima tahun bukan waktu yang singkat Sam untuk aku melupakan semua," balas Cantika pada Sam yang hanya dibalas dengan tatapan binar Sam.


"Apa yang harus aku kerjakan, mari bicara tentang kerjaan," Sam yang mengalihkan topik pembicaraannya.


" Tapi aku benar masih mencintaimu Sam! Jika kamu mau aku bisa meninggalkan Ando demimu Sam," tambah Cantika.


"Jika tidak ada yang ingin kamu katakan tentang masalah pekerjaan, silahkan keluar Cantika," ujar Sam dengan menunjuk ke arah pintu keluar.


" Tapi Sam," bantah Cantika.


"Silahkan keluar, jika tidak. Aku bisa saja menyuruh papi untuk menggantikanmu," ancam Sam yang membuat cantika memilih berdiri.


"Aku akan selalu mencintaimu Sam," sahut Cantika seraya dia berjalan ke arah pintu.


" Ahhh … Pi! Aku benci kamu Pi!! Aku pikir setidaknya aku bisa mencari celah untuk mengetahui kabar Mutiara, namun apa yang kamu lakukan? Kamu menjadikan Cantika mantan pacarku jadi sekretarisku, apa ini sengaja kamu buat untukku Pi? Ahh, Mutiara …." teriak Sam kesal hingga ia meletakkan tangannya ke wajah nya seraya mengacak-acak rambutnya.


"Bagaimana aku bisa tenang jika Cantika ada di sini! Ah, tapi aku tidak mungkin meminta papi untuk menggantikannya. Ah, papi mana mau mengikuti kemauanku, di tambah Ando akan marah jika melihat jabatan istrinya aku turunkan. Ah, Sam kenapa hidupmu seribet ini sih," gumam Sam yang terpukul akan dirinya sendiri, berada dalam kegelisahan.

__ADS_1


__ADS_2