Cinta Demi Balas Budi

Cinta Demi Balas Budi
Berikan padaku Sam


__ADS_3

Bab 28


Berikan padaku Sam


"Mutiara!" Panggil Rian yang tidak dihiraukan oleh Mutiara itu.


Mutiara tengah sedih, ia tengah menangis. Mendengar kabar pernikahan Sam sangat menyakiti hatinya, ingin Mutiara protes dan marah ke arah Sam yang tidak berjuang mengambilnya dari Rian. Bukankah pernikahanku dan Rian merupakan kesepakatan kak Sam dan Rian sendiri? Aku tidak pernah setuju dengan pernikahan ini, dimana aku berharap kak Sam lah yang menjadi ayah untuk anakku bukan Rian.


Rian tampak mengejar Mutiara, sementara Sam berjalan ke arah Cantika. "Apa yang kamu katakan terhadap Mutiara? Kenapa dia menangis saat keluar? Apa kamu menyakitinya?" tanya Sam ke arah Cantika yang tampak bahagia melihat Mutiara yang bersedih.


"Aku tidak berkata apa-apa Sam! Dia hanya bertanya tentang pernikahan kita, dan aku bilang ya kita sudah menikah. Apa aku salah Sam?"


Tatapan sinis ke arah Cantika yang merasa sangat puas melihat Mutiara yang tersakiti. "Pergilah lanjutkan pekerjaanmu," titah Sam.


"Tapi Sam," Cantika seolah protes masih ingin berada di sebelah sang suami.


"Cantika," pekik Sam lebih keras, sehingga Cantika memutuskan untuk kembali ke mejanya.


"Apa kamu cemburu Mutiara? Begitu juga aku, sangat sakit hati ini. Melihatmu dengan Rian! Apa kamu tahu rasa cemburu sekarang? Aku harap kita bisa saling melupakan perasaan kita, dan aku akan menjagamu seperti dulu. Kamu memang ditakdirkan menjadi adik angkatku saja. Bukan pendamping hidup ini." lirih Sam yang begitu sedih.


Hati Sam sangat terpukul melihat Mutiara yang meneteskan air matanya, dan ingin rasanya tangan Sam menghapus air mata itu. Tapi itu tidak mungkin, akan membuat perasaan ini akan sulit hilang.


Pov Mutiara


"Kenapa kamu menangis Mutiara? Apa kamu cemburu mendengar pernikahan Sam?"


Mutiara yang tengah mengaduk-aduk minumannya itu, hanya diam tidak ingin menjawab pertanyaan Rian. Tidak mungkin rasanya aku jujur tentang apa yang sedang aku rasakan. Pikir Mutiara dalam hatinya itu.


"Mutiara!" Panggil Rian kembali yang melihat Mutiara mengacuhkannya.


"Apa kamu berhasil membujuk kak Sam untuk mengembalikan rumahku itu, Rian?" tanya Mutiara yang mengalihkan pembicaraannya.


Rian menggelengkan kepalanya ke arah Mutiara. "Maafkan aku Mutiara," lirih Rian dengan mata yang berbinar.


"Argh …." Mutiara menjadi lebih sedih, setelah mengetahui dia tidak bisa memiliki rumah peninggalan almarhum papanya.


Rian mengambil tangan Mutiara. "Maafkan aku Mutiara, aku sudah menawarkan nilai yang tinggi untuk mendapatkan rumah itu kembali. Tapi Sam tetap keras kepala dia berkata tidak akan pernah menjual rumah itu."


"Hmm … ini bukan salahmu. Apa aku boleh mengunjungi rumah lamaku sebelum kita pulang, Rian?"


"Iya, kita akan segera kesana," balas Rian yang mulai berjalan ke arah rumah lama Mutiara.


Sepanjang perjalanan menuju rumah lama Mutiara, air mata Mutiara tiada henti mengalir. Dia memandangi tiap pinggir, depan dan sudut jalan. Tempat dimana yang sering dia lalui dulu.


"Ha ha ha kakak apaan sih, itu konyol tau tidak kak. Kasihan dia kak, dia hanya iseng doang jahilin Mutiara"


"Kak Sam, antar Mutiara"


"Kak, Mutiara ingin pergi bersama sahabat Mutiara boleh tidak?"


Sekilas di sepanjang perjalanan, kenangannya dengan Sam sewaktu sekolah dulu terlintas di benaknya. Membuat dia semakin sedih saat mengenang kembali kisahnya bersama Sam sewaktu dulu.

__ADS_1


"Mutiara," panggil Rian yang melihat Mutiara tengah merenung.


"Iya, ada apa?"


"Apa kamu tidak ingin mengunjungi pemakaman kakakmu sekalian? Sebelum kita menuju arah rumahmu"


Mutiara menganggukkan kepalanya ke arah Rian menyetujui saran Rian itu, membuatnya memutar arah mobil ke arah pemakaman yang tidak jauh dari tempat mereka berada.


Rian menggandeng tangan Mutiara menuju ke pemakaman sang almarhum kakaknya.


"Kak Sam," panggil Mutiara yang melihat Sam yang sedang memeluk batu nisan sahabatnya itu. Sam tengah bersedih, dia menangis di kuburan sang sahabat yang dianggap bagaikan saudaranya.


"Mutiara," balas Sam yang menghapus air mata yang sempat jatuh tadi.


"Kak," panggil Mutiara lagi seraya berjalan ke arah Sam.


Sam melihat Mutiara yang mendekatinya. "Aku harus pergi," balasnya yang ingin lari dari keduanya Sam berjalan hendak melewati Rian, tapi Rian seolah iseng Rian menghadang jalan Sam tepat di hadapannya.


Rian yang berdiri di depan Sam, membuat Sam memilih lewat dari sebelah samping Rian, tapi Rian lagi-lagi menutup jalan Sam. Hingga Sam melotot ke arah Rian.


Sam seperti hendak emosi ke arah Rian yang menghalangi jalannya, namun emosi itu berhasil Sam reda. Sam tidak ingin terjadi keributan di dekat makam sang sahabat.


Sam menoleh ke arah Mutiara yang masih memandang Sam. Lalu mengalihkan pandangannya ke arah Rian. "Awas aku mau lewat," lirih Sam yang melihat Rian masih mencoba menghalangi jalan Sam.


"Kak," panggil Mutiara dan berusaha memegang tangan Sam.


Sam menepis tangan Mutiara membuat Mutiara semakin sedih. "Kak Sam!!!" Pekik Mutiara dengan jerit tangisnya.


Sam menatap Mutiara yang menangis. "Jangan menangis di sebelah makam Andre, aku tidak ingin dia marah denganku karena aku gagal menjaga adiknya," ujar Sam menghapus air mata Mutiara yang jatuh di pipinya.


Sam tidak menjawab pertanyaan Mutiara, dia memilih meninggalkan keduanya. "Kak Sam!!!" Pekik Mutiara lagu yang melihat Sam tetap berjalan.


"Kamu jahat, kak! Jahat!!" Pekik Mutiara semakin kencang ke arah Sam yang sedang mengacuhkannya. Haaa haaa …" lirih tangis Mutiara di tiang nisan sang kakak.


Rian mencoba menenangkan Mutiara yang tengah bersedih itu, hingga hari tampak semakin sore.


"Mari kita pulang Mutiara, besok saja kita melihat rumah almarhum papa mu"


Rian mencoba membantu Mutiara berdiri dan membawanya ke arah mobil Rian kembali. "Tapi aku ingin melihat rumah lama ku," pinta Mutiara.


"Iya, kita akan melihatnya besok! Kamu harus istirahat dulu. Aku tidak ingin kamu sakit, aku akan meminta mama untuk menjaga anak kita. Agar kita malam ini menginap disini dulu"


"Terima kasih Rian," balas Mutiara.


"Mutiara, apa aku boleh meminta sesuatu darimu? Ini sudah lama ingin aku sampaikan, mungkin sekaranglah waktu yang tepat," ujar Rian ke arah Mutiara yang tampak sedikit tenang.


"Apa Rian?"


"Apa kamu bisa memanggilku, dengan sebutan Mas, atau kakak saja? Aku bukan sahabat kecilmu lagi Mutiara! Aku suamimu Mutiara," pinta Rian terhadap Mutiara.


"Baik, Mas," balas Mutiara yang membuat Rian seolah senang.

__ADS_1


Rian memancarkan rona wajah senang di raut wajahnya yang tampan, membuat Mutiara tanpa sadar membalas senyum Rian.


"Terima kasih Mutiara, aku sayang denganmu," ujar Rian yang membuat Mutiara menyimpan kembali senyum manisnya itu.


POV Sam


"Kamu darimana saja Sam? Papi menghubungimu sedari tadi, kenapa kamu tidak mengangkat panggilan Papi? Dan kamu membiarkan istrimu pulang sendiri sampai Cantika bersedih! Dari Mana kamu!!" Pekik sang papi yang membuat gendang telinga Sam seolah pecah.


"Sam, hanya keluar sebentar Papi," balas Sam yang ingin melanjutkan perjalanan ke arah kamarnya itu.


"Sam, Papi belum sudah bicara Sam," ujar papi Sam lagi, membuat Sam memilih duduk yang diikuti oleh papinya itu.


"Ada apa Papi? Katakanlah, apa salah Sam lagi"


"Berikan sertifikat rumah itu kepada Papi," pinta papi yang membuatku menatap tajam ke arah papi. Kenapa papi sangat menginginkan rumah itu.


"Untuk apa Papi?"


"Papi hanya ingin menghancurkan rumah itu saja Sam"


Semudah itu papi berkata ingin menghancurkannya. "Argh, lupakan Papi," balasku yang memilih berdiri.


"Sam!!" Panggil papi yang semakin keras.


"Sam, akan menghuni rumah itu sendiri Papi," pekikku seraya tetap melangkahkan kaki ini menuju kamarku.


Klekk


"Kamu dari mana Sam?" tanya Cantika lagi yang melihat kedatanganku ke dalam kamar itu. "Apa kamu pergi menemuinya?" tambah Cantika ke arahku.


Aku mengacuhkannya, dan memilih mengganti pakaian yang sedang aku kenakan ini. "Sam, jawabku," lirihnya marah ke arahku yang berjalan ke dalam kamar mandi.


Dia hendak mengikutiku ke dalam kamar mandi. "Jawab aku," ucapnya yang menahan pintu kamar mandi itu dengan kakinya.


Membuatku mendorong badannya ke arah belakang, lalu menutup rapat pintu kamar mandi ini.


Tok tok tok ….


"Buka, pintunya Sam," pintanya dari luar pintu kamar mandi itu.


Cantika tidak henti-henti menggedor pintu kamar mandi itu, membuat telinga ini seakan sakit mendengar gedorannya yang semakin keras.


Plakk


Gedoran tangannya mengenai kening ini. "Oops … maaf," ujarnya menutup mulutnya.


Aku lagi-lagi menepis badannya dari hadapanku, dan mengenakan kembali pakaian yang aku ambil dari lemari itu.


"Sam, kenapa kamu tidak menjawab pertanyaanku?" tanya ulang.


"Aku lapar, bisa kamu siapkan makanan untukku? Itu lebih baik, daripada menaruh curiga terhadapku," balasku ke arahnya yang sedang berdecak kesal.

__ADS_1


"Kamu masih sama seperti dulu Cantika, menggemaskan," batin Sam dalam hatinya yang menatap Cantika yang berdecak kesal seraya berjalan.


Tapi senyum itu hanya sekilas menyapa wajah Sam, karena bayangan tangisan Mutiara terngiang di benaknya. Ditambah papinya yang sangat menginginkan sertifikat rumah milik Mutiara itu.


__ADS_2