Cinta Demi Balas Budi

Cinta Demi Balas Budi
Cantika marah terhadap Mutiara


__ADS_3

Bab 34


Cantika marah terhadap Mutiara


Hari ini hari pertama Mutiara dan Rian tinggal di rumah yang baru saja Rian beli, yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kediaman lamanya. Mutiara belum tahu jika Sam kini tinggal di rumah lamanya.


Mutiara membantu para pekerjanya, merapikan dan membereskan rumah barunya. Dengan dibantu oleh mama Rian yang juga ikut.


"Mama pasti akan kesepian sayang, jika kalian tidak ada di rumah. Kenapa mesti pakai acara pindah segala sih? Apa rumah Mama kurang nyaman untukmu Mutiara?"


"Tidak Mama, Mutiara hanya ingin tinggal di tempat Mutiara besar Mama, agar Mutiara bisa mengunjungi makam almarhum kedua orang tua Muti. Mama."


"Mama kan bisa kapanpun mengunjungi kami kesini Mama! Kenapa Mama harus sedih," ujar Rian yang menyambar omongan keduanya.


"Baiklah, kalau begitu Mama pulang dulu. Kamu harus menjaga Mutiara dengan baik Rian, jangan sampai buat Mutiara menangis!" Pesan sang mama sebelum pergi membuat Mutiara memeluk erat tubuh mertuanya itu. "Mutiara sayang dengan Mama," ujar Mutiara yang meninggalkan kecupan kecil di pipi sang mama.


"Mama juga sayang, jika terjadi sesuatu, atau Rian menyakitimu. Kamu harus bilang segera dengan Mama sayang! Kamu anak Mama," balas sang mama yang membuat Mutiara meneteskan air matanya.


"Apa kamu lelah Kak? Aku akan menyiapkan air hangat untukmu Kak, agar badanmu segar kembali."


"Terima kasih sayang," balas Rian yang bermanja-manja di tubuh Mutiara.


POV Sam


"Cantika apa kamu sudah selesai? Hari ini aku ada pertemuan kan, aku harap kamu jangan membuatku terlambat lagi! Aku tidak ingin kali ini perusahaanku kalah dari perusahaan Rian. Dimana aku dengar kabar Rian tinggal di kota ini," ujar Sam terhadap Cantika yang masih memperhatikan penampilannya di depan cermin itu.


"Apa itu suatu berita bagus untukmu Sam? Agar kamu bisa bertemu dan melepaskan rindumu terhadap Mutiara, aku tidak salahkan Sam?"


"Argh … terserah kamu lah, aku tidak ingin kali ini kamu mengecewakanku," balas dan yang memilih berjalan terlebih dahulu ke dalam mobilnya.


"Aku benci kamu Sam! Kamu selalu memikirkan dia, tanpa memperdulikan perasaanku Sam!" Cantika berdecak kesal berjalan mengikuti Sam.


Sam hanya acuh dan memilih memainkan aplikasi telepon selulernya itu, tanpa memperhatikan ke arah Cantika yang masih mengomel ke arah Sam.

__ADS_1


"Den, bukannya itu Non Mutiara yah, apa benar yang dikatakan mereka jika suami non Mutiara membeli rumah itu," ujar sang supir yang melihat Mutiara sedang berdiri di teras rumahnya.


"Iya, itu benar Mutiara," balas Cantika yang membuat Sam menoleh lewat kaca jendela mobilnya.


"Arrghh kenapa wanita sialan itu pakai acara pindah ke sini segala sih, apa dia sengaja ingin mengganggu rumah tangga kita Sam? Aku tidak akan membiarkan dia mendekatimu Sam!"


"Apa yang kamu katakan sih Cantika? Mutiara bukan wanita sialan, jaga ucapanmu. Lagian Mutiara bukan wanita yang akan merusak rumah tangga orang, aku kenal betul dengan Mutiara. Jadi hati-hati jika bicara."


"Bela terus dia Sam! Aku selalu salah dimatamu, kamu memang sangat mencintainya kan?" Cantika mengeluarkan air matanya menangis ke arah Sam.


"Arghh," Sam menghela nafas panjang menatap ke arah Cantika, seraya menghapus air mata Cantika itu. "Maafkan aku Cantika," ujar Sam mencoba menenangkan Cantika itu.


Apa aku salah yang masih memikirkan Mutiara? Tapi sesungguhnya aku belum yakin, jika anak yang di dalam kandungan Cantika itu adalah anakku. Apa aku harus menemui Ando, sehabis pulang kerja nanti? Iya, setidaknya aku harus tahu kebenarannya. Lirih Sam dalam hatinya.


Sementara sang supir telah turun membukakan pintu untuk mereka berdua, yang sudah sampai di perusahaan itu.


"Oh iya Cantika, acara meetingnya akan dilangsungkan jam dua siang nantikan? Aku ingin kamu mempersiapkan materinya sebaik mungkin, aku ingin pergi dulu. Aku ingin menemui seseorang," ujar Sam yang ingin kembali ke dalam mobilnya itu.


"Apa kamu ingin menemuinya Sam? Sebegitu rindunya kamu dengannya Sam, hingga kamu akan bolos kerja demi menemuinya."


"Bagaimana aku bisa percaya kamu Sam?"


"Cantika, jaga sifatmu! Ini di kantor. Apa kamu lupa, jika di kantor kamu bukan istriku? Tapi sekretarisku! Jadi bersifatlah bagaimana seharusnya kamu bersifat. Cantika!"


"Arghhh … Sam," bentak Cantika yang melihat Sam masuk kedalam mobilnya itu, tanpa mempedulikan amarah Cantika yang meluap di depan kantor itu. Membuat beberapa karyawan lain menatap ke arah Cantika. Dan beberapa diantara para karyawan itu tengah membicarakan Cantika. "Kamu kelewatan Sam," ujar Cantika yang kesal dan memilih memanggil taksi menuju rumah Mutiara.


"Sudah Bik, yang ini biar Mutiara saja, Bibi bereskan bagian dalam saja Bibik! Itu bagian kamar yang satunya belum sempat Mutiara bersihkan. Tolong iya Bik," ujar Mutiara yang memilih merawat tanaman itu.


Mutiara tengah sibuk memindahkan pot bunga ke tempatnya. "Ini aku rasa cocok, jika aku letakkan di dekat kolam renang, agar tanamannya tumbuh subur. Kan cantik kak," ujar Mutiara berbicara pada dirinya sendiri. Menatap tanaman yang dia susun tampak indah dan Asri.


"Apa kolam renang ini harus aku bersihkan juga? Pak, Pak … Sini deh. Bagian kolam renang ini tolong dibersihkan juga dong Pak," pinta Mutiara.


"Baik Non, Bapak kedalam dulu ya, mengambil beberapa yang diperlukan untuk membantu Bapak membersihkan kolam renangnya."

__ADS_1


"Baik Pak," balas Mutiara dengan lembut, seraya mencoba bermain-main air menunggu pekerjaannya itu datang.


Brukk


Cantika yang datang dengan kondisi emosi, mendorong tubuh Mutiara kedalam kolam renang itu.


"Argh ah …Kak Cantika! Apa salah Mutiara Kak?" Mutiara yang masih berada dalam kolam renang itu menatap ke arah Cantika.


"Kamu mau tahu salah kamu apa Mutiara? Kamu kenapa pindah ke kota ini, apa kamu sengaja pindah ke sini untuk merayu Sam kembali Mutiara?"


"Apa maksudmu Kak? Aku hanya ingin tinggal di kota ini Kak, bukan karena yang lain Kak," ujarku menatap rasa benci di wajah kak Cantika itu.


Aku berusaha naik ke atas, setelah badanku basah kuyup dan memilih berjalan ke arah kak Cantika. Mencoba menjelaskan semuanya terhadapnya.


"Kak dengarkan Mutiara! Percaya pada Mutiara Kak, jika Mutiara tidak akan mengganggu kak Sam, Kak."


Cantika memilih menarik kasar rambut Mutiara. "Apa kamu pikir aku percaya denganmu Mutiara? Dimana Sam, bukannya dia kesini?"


"Tidak ada kak Sam Kak, lepaskan rambut Mutiara, argh argh … sakit Kak," ujar Mutiara yang mencoba melepaskan tangan Cantika dari rambutnya itu.


"Apa kamu pikir, aku percaya padamu Mutiara?"


"Lepaskan Kak," masih pinta Mutiara yang bersedih itu.


"Ada apa ini? Non, lepaskan," ujar pak Agus datang menolong Mutiara dari amukan Cantika.


"Katakan dimana Sam?"


"Dia tidak ad disini! Lepaskan Kak," masih pinta Mutiara.


"Lepaskan tidak, itu kasihan Non Mutiara," ujar pak Agus yang membuat para pekerja lain keluar, dan menolong Mutiara dari dekapan tangan Cantika yang menarik rambut Mutiara.


"Apaan sih, Non tidak apa-apa? Kamu keluar tidak, jangan buat kami semua marah dan menarik anda Nona, keluar!!" Pekik beberapa pekerja Mutiara, membuat Cantika memilih keluar.

__ADS_1


"Aku masih datang lagi Mutiara! Dan ingat, aku tidak akan membiarkanmu menggoda Sam!" ancam Cantika yang memilih pergi itu.


__ADS_2