Cinta Demi Balas Budi

Cinta Demi Balas Budi
Tiada gairah


__ADS_3

Bab 24


Hari ini Sam terlambat untuk bangun pagi, sehingga papi minta bibi membangunkan Sam, yang belum juga turun sedari tadi dari kamarnya.


Setelah setengah jam yang ditunggu akhirnya keluar.


"Kenapa kamu baru bangun Sam? Cantika dari malam tadi menunggumu, apa yang kamu lakukan dengannya Sam? Kenapa rumah tangganya hancur gara-gara kamu Sam? Apa kamu masih mencintai Cantika? Dan mau menikahi Cantika lagi?" Papi tanpa jeda melontarkan pertanyaan ke arah Sam.


Membuat yang ditanya seolah bingung, Sam mematung, tidak percaya dengan apa yang dikatakan papinya. Hingga Sam memilih menghindar.


"Sam, kamu mau jadi anak durhaka lagi ya? Sam?" Pekik sang papi yang melihat Sam mengacuhkan omongan papinya itu.


"Sam, tidak paham Papi, apa yang Papi katakan," balasnya yang memilih berjalan ke ruang makan.


Klek


Sam menelan Slavina nya tidak percayalah dengan apa yang dia lihat, Cantika sedang ada dirumahnya tengah ditenangkan oleh mami Sam.


"Sam," sapa sang mami yang melihat kedatangan Sam.


"Apa yang kamu lakukan di rumahku Cantika? Kenapa kamu menangis," ujar Sam yang melihat linangan air mata yang membasahi pipi Cantika.


"Kamu kenapa sih, menghancurkan rumah tangga Cantika? Mami tidak habis pikir kamu sejahat itu Sam," ujar mami merahiku yang tidak tahu apa-apa.


Aku menggelengkan kepala seolah tidak paham. "Sam mau sarapan dulu, Mami, Papi," Hingga aku lebih memilih berjalan ke arah ruang makan, tujuan awalku dari tadi.


Masa bodoh tentang Cantika yang sedang menangis, perut ini sudah cukup kelaparan meminta jatah makan. Aku melahap dengan nikmat makanan yang terhidang di atas meja.


Setelah merasa puas aku berjalan ke arah samping, kebetulan hari ini hari libur. Aku ingin bersantai sejenak.


"Sam, Sam …." Pekik mami yang memanggilku.


"Argh, ini pasti tentang masalah Cantika itu lagi," batinku dalam hati berdecak kesal.


Aku mengambil telepon seluler yang aku bawa tadi, memasang headset meletakkannya di telinga ini. Aku memutar lagu kesukaanku, menikmati musik di pinggir kolam renang.


Sesekali aku ikut bernyanyi lagu yang sedang aku putar, tanpa terdengar lagi suara mami dan papi yang memekik. Aku begitu senang menikmati lagu ini, hingga tanpa sadar aku memejamkan mata, menghayati tiap lirik nada lagu ini.


La la la …. Sesekali bergoyang terbawa suasana musik.


"Sam," pekik mami yang menarik handset dari telinga ini.


"Berikan Mami," pintaku mencoba mengambil kembali handset yang sedang mami pegang.


Mami tidak memberikannya, bahkan menatap aku semakin tajam. "Mami, minta," lirihku mengulurkan tanganku ke arah mami.


"Mami ingin bicara Sam!!" Pekik mami semakin kencang, hingga aku terpaksa berdiri mengikuti mami dari belakang badannya.


Mami membawaku berjalan ke arah Cantika, yang masih duduk di ruang tamu itu. "Kamu kenapa sih Cantika?" tanyaku ke arahnya yang melihat bola matanya yang memerah.


"Kamu masih bisa berkata kenapa, Sam? Setelah kamu merusak rumah tangganya, dan Ando pergi meninggalkannya," pekik mami dengan emosi yang tinggi.


"Apch ah, apa sih maksudnya Mami?" Sam berdecak kesal dan memainkan bunyi jengkel dari mulutnya itu.


"Sam, kamu tidak tuli kan? Kamu belum paham juga," lirih mami Sam.

__ADS_1


"Argh, soal yang malam tadi Cantika, Ando …." ujar Sam yang tidak sampai karena Cantika memotong pembicaraan Sam.


"Lihat lah Mami, Ando berkata yang buruk tentangku terhadap Sam! Ando ingin melihat aku menderita Mami, dan meminta Sam untuk tidak bertanggung jawab akan anak Sam yang sedang aku kandung Mami,"


"Apa anak?" tanya Sam seolah tidak percaya.


"Iya aku hamil Sam, dan ini anakmu! Aku ada buktinya Mami," ujar Cantika yang menunjukkan fotonya dan Sam di ruang kerja Sam.


Di dalam foto itu, terlihat Sam yang masih bertelanjang dada berbaring di atas ruangan pribadi Sam bersama Cantika.


"Sam," pekik maminya tidak percaya.


Sam menarik foto itu dari tangan sang mami, melihat dirinya dengan Cantika yang sedang berpose dengan posisi tertutup selimut masih di ruang pribadinya.


"Apaan ini Cantika? Kapan aku melakukannya?" Seolah tidak percaya akan apa yang dilihat.


Tapi Sam tidak bisa menepis, karena tempat kejadian berlangsung di ruang kerja Sam, dan Sam tampak happy saat berada di samping Cantika itu.


"Argh, ini kamu rekayasa kan? Ini tidak asli Mami! Sam sama sekali tidak pernah melakukan itu Mami," ujar Sam yang ingin melakukan pembelaan.


"Apa kamu ingin menyakitiku lagi Sam? Seperti yang kamu lakukan dulu, meninggalkanku di hari pernikahan kita. Dan kini, kamu ingin menyakitiku lagi? Tidak mengakui anak ini anakmu Sam, apa aku begitu buruknya dimatamu Sam? Setelah Ando juga meninggalkanku karena mu," balas Cantika.


"Argh," lirih nafas Sam yang bingung harus berkata apa.


"Sudah sayang, Sam pasti akan bertanggung jawab! Dia akan menjadi ayah untuk anak yang ada dalam perutmu ini! Iya kan Sam?"


"Tapi Mami … argh," lirih nafas Sam seakan pasrah.


"Terima kasih ya sayang, sudah memberikan cucu untuk Mami! Mami dan Papi sangat senang menanti kedatangan cucu kami ini," ujar mami dengan senyum rona kebahagiaan.


"Semoga cucu kita besok, cowok ya Papi! Agar ada penerus perusahaan," ucap mami terhadap papi.


"Iya, jadi kapan kalian akan menikah?" tanya sang papi.


"Sam, kembali ke kamar dulu Papi, Mami," lirihku berjalan lemas menuju arah kamar, aku tidak percaya jika Cantika sejahat itu. Dan aku tidak merasa melakukan apapun padanya.


Kenapa aku harus bertanggung jawab, tentang apa yang tidak aku perbuat? Apa itu anak Ando? Hati Sam tengah berkecamuk, mengingat semua hal yang pernah dia lakukan. Tetap saja bayangan dia bersama Cantika, yang dituduh menanam benih di rahim Cantika sama sekali tidak pernah.


Sam memutuskan untuk menghubungi Ando, dan berbicara akan hal ini terhadap Ando.


"Sam, ingin keluar Papi, Mami," ujar Sam yang menemui kedua orang tuanya masih di ruang tamu itu.


Sang papi bertepuk tangan memanggil ajudan yang biasa mengikutiku.


"Apaan sih Papi, Sam cuman keluar sebentar Papi," ujarku lagi yang protes terhadap Papi.


"Tidak akan ada lagi yang percaya padamu Sam! Ikuti Sam," titah sang papi terhadap ajudannya yang tengah berdiri di samping Sam.


"Argh, dengan terpaksa," lirih Sam berjalan ke arah keluar dengan ditemani lima ajudan sang papi.


Mereka mengawal ketat Sam, tidak memberi celah dan privasi terhadap Sam, yang sedang menunggu kedatangan Ando.


"Hai anak gadis," ejek Ando yang melihat Sam duduk di pantau oleh ajudannya itu.


Membuat beberapa pengunjung menatap ke arah Sam.

__ADS_1


"Sekali lagi kamu bilang seperti itu, aku tarik lidahmu Ando!!" Ancam Sam tidak terima, akan gelar gadis yang diberikan Ando terhadap Sam.


"Cih, anak gadis, gitu aja marah," ujar Andi lagi dengan melempar senyum ke arah Sam.


"Aku serius Ando!!" Pekik Sam lebih kencang lagi.


"Iya ya, maaf," lirih Ando yang melihat kemarahan di wajah Sam.


"Ada apa? Kenapa memintaku kesini?"


"Argh, apa kamu tahu jika Cantika hamil? Aku rasa itu anakmu Ando,"


"Bagaimana bisa kamu bilang itu anakku? Aku sudah dua bulan lebih tidak pernah i … tau kan, gak mungkin dia hamil anakku,"


"Gak mungkin juga anakku! Aku tidak pernah sekalipun melakukan itu dengannya? Tapi kenapa dia memiliki foto aku sedang … dengannya di ruanganku? Apa dia menjebakku? Atau …."


"Atau apa Sam?"


Sam mengangkat kuduknya. "Aku gak tahu, dia bilang ke ortuku jika itu anakku, dan memintaku untuk bertanggung jawab dan menikahinya,"


"Apa Sam?" Pekik Ando dengan nada tinggi, membuat para pengunjung menatap ke arah Ando yang berbicara kencang.


"Ando kecilkan suaramu!! Bisa-bisa kita akan jadi tontonan mereka," lirih Sam dengan menundukkan kepalanya, menatap para pengunjung tengah menatap ke arah mereka berdua.


"Maaf, maaf …." Lirih Ando.


"Jadi gimana dong?"


"Gimana apanya? Ya kamu harus nikahi dia,"


"Ando!!" Pekik Sam yang kini mengeluarkan suara besar, sontak mereka menjadi tontonan dan pembicaraan tamu yang datang di restoran itu.


Para pengunjung restoran membicarakan Sam dan Ando. "Apa mereka gay, aku tidak percaya? Pria setampan dan sekeren mereka gay," bisik beberapa pengunjung membicarakan Sam dan Ando.


"Apaan sih," Sam tidak terima dan ingin protes.


"Sam, jangan membuat malu," lirih Ando yang membuat Sam kembali duduk di kursinya.


"Mengapa mereka suka sekali membicarakan orang, argh … apa yang kalian lihat," bentak Sam kesal melihat pengunjung yang ingin ke luar, dan melempar tatapannya ke arah Sam dan Ando.


"Sudah Sam! Kendalikan emosimu, sudah takdir mu menikah dengan Cantika! Siapa tahu memang Cantika lah jodohmu sebenarnya,"


Sam menatap tajam terhadap Ando yang berkata seperti itu. "Bagaimana bisa aku menikah lagi, dengan mantan istri sekaligus mantan kekasihku,?" Lirih Sam dalam hatinya itu.


Sam berdecak kesal ke arah Ando yang tidak memberikan solusi seperti yang dia harapkan. "Kamu sabar Sam," masih lirih Ando yang menatap raut wajah marah dari Sam ke arah Ando itu.


"Tidak bisakah kamu kembali padanya Ando? Aku akan membantumu memperbaiki rumah tangga kalian, ayolah Ando," seperti seseorang yang kehabisan akal, Sam benar-benar bingung apa yang harus dia lakukan.


"Tentunya aku tidak mau! Terima kasih Sam, kamu sudah membantuku lepas darinya," lirih nya dengan santai.


"Apa maksudmu Ando? Kamu sama sekali tidak sedih, atas perpisahan mu dengan Cantika?"


Lantas Ando hanya melempar senyum dan menaikkan kuduknya ke arah Sam tanpa rasa bersalah sedikitpun.


"Argh," lirih nafas Sam berdecak kesal.

__ADS_1


__ADS_2