Cinta Demi Balas Budi

Cinta Demi Balas Budi
Menjadi dingin


__ADS_3

Bab 44


Menjadi dingin


Apa sih salah dan kurangnya seorang Mutiara? Dia wanita berparas cantik dan anggun, ditambah dia merupakan wanita baik yang pernah aku temui. Kenapa papi begitu membencinya? Andai papi tahu kenyataan yang sebenarnya, jika Cantika wanita yang bermuka dua. Di tidak sebaik yang papi kira.


Mengingat perkataan papi yang memberikan ancamannya terhadapku, membuat pikiran ini tidak tenang, bahkan tangan ini seolah sulit untuk digerakkan membaca berkas-berkas yang harus ditandatangani. Aku memilih meninggalkan kantor dan pergi mencari sesuatu yang membuatku nyaman di luar. Tanpa menghiraukan akan kemarahan papi.


Aku memilih melepaskan gundah ku di sebuah kafe, menatap mereka yang berpasang-pasangan dan tampak bahagia dengan pilihan mereka masing-masing. Kenapa aku tidak bisa seperti mereka? Hidup dengan seseorang yang dicintai.


Tapi aku tidak boleh egois, keselamatan Mutiara jauh lebih penting dari segalanya. Bagaimanapun caranya aku harus bisa melupakan bayangan Mutiara dari mata ini.


"Rian," ujarku yang melihat Rian sedang duduk sendiri. Aku ingin menghampirinya agar aku tidak merasa kesepian duduk sendiri menikmati secangkir minuman yang aku pesan.


Namun saat aku baru hendak melangkah aku melihat seorang wanita cantik menghampiri Rian. "Apakah itu Mutiara?" tanyaku dalam hati hingga aku berjalan ke arah mereka berdua.


"Apa aku boleh bergabung?" tanpa basa-basi aku menarik kursi yang berada di sebelah Rian, duduk berhadapan dengan Mutiara. "Kamu cantik Mutiara," ujarku tanpa sadar terlontar dari mulut ini, hati ini seakan tidak bisa menyembunyikan perasaan yang mengagumi kecantikan Mutiara.


"Sam, bisa kamu pergi dari sini!" titah Rian yang seakan geram dengan Sam. Ditambah Mutiara yang menundukkan wajahnya tanpa menoleh ke arah Sam.


"Apa kamu keberatan Mutia jika aku ikut duduk di sini?"


Mutiara tidak menjawab perkataan Sam, dia hanya menggelengkan kepalanya ke arah Rian. "Aku harap kamu jangan mengganggu makan siang kami," ujar Rian yang mulai memesan menu makanan itu.


"Kamu mau makan apa sayang?" tanya Rian ke arah Mutiara dengan memegang tangan Mutiara.


"Sama kan saja Kak, dengan Kakak," balas Mutiara masih menundukkan wajahnya itu.


"Kak, apa Mutiara boleh ke kamar mandi sebentar Kak?"


"Hmmm, pergilah," balas Rian.


Aku berjalan ke arah kamar mandi itu dan meninggalkan keduanya. Kenapa kak Sam meski ada segala sih, perasaanku tidak karuan jika tetap mengingat kak Sam. Akan membuat hati ini berdetak kencang. Kenapa dia begitu sempurna di mata ini? Dan kenapa kami tidak bisa bersama.


Setelah puas menggerutu di depan cermin itu, aku keluar dan hendak menghampiri mereka.


Brukkk


"Maaf maaf," ujarku pada seseorang tanpa sengaja badanku dan badannya bertubrukan.


"Apa kamu tidak memiliki mata sih? Argh, Mutiara," panggilnya ke arahku.


Aku melihat ke arah orang yang barusan bertubrukan denganku itu. "Deni, kamu?" balasku yang ingin lari dari hadapannya.

__ADS_1


"Tunggu dulu," ujarnya yang menarik tangan ini, dan membuatku bersandar di dinding kamar mandi itu. Dia meletakkan kedua tangannya di sebelah kepala ini, hingga posisiku yang berhadapan dengannya menatap rasa takut ke arahnya.


"Biarkan aku pergi Deni, kita tidak ada urusan," balasku yang menatap tajam matanya dan tangan ini mendorong badannya ke belakang.


Melihat aku yang memberontak, membuatnya menghimpit badan ini dengan badannya masih dalam posisi berdiri. "Menjauh dariku! Aku benci kamu Deni!" Pekikku yang mulai meneteskan air mata.


Deni tersenyum ke arahku yang ketakutan dan menangis. "Aku sudah lama tidak menikmatinya, apa aku boleh bermain kesitu?" tanya yang menakut-nakutiku dan memberikan kecupan di bibir ini, bahkan dia menjalankan daging yang tidak bertulang itu ke arah leher ini, membuatku seakan geli dan semakin berusaha keras mendorong tubuhnya ke belakang.


"Kamu cantik sekali hari ini Mutiara!"


"Aku mohon lepaskan aku Deni, sudah cukup kamu menyakiti hati ini Deni. Kamu meninggalkanku dengan anakmu Deni! Apa kamu tidak memiliki perasaan, betapa hancur dan sedihnya aku melewati semuanya!”


"Aku sudah bilang, jika apa yang aku lakukan dulu itu hukuman yang pantas untuk kakakmu si Sam. Dan aku melihat dia sekarang masih hidup dan bisa tenang. Ah, aku akan melakukan apapun untuk menyakiti Sam lagi."


"Apa maksudmu Deni? Apa kamu tidak cukup menghancurkan hidupku?"


"Tidak sayang," balas Deni yang kembali melakukan hal bodoh, dia menikmati kembali leher dan bibir ini.


Aku menggigit bibir bawah Deni yang tengah memberikan kecupan ke bibir ini. "Argh, ahhh," ujarnya yang melepaskanku dan memegang bibirnya yang tengah berdarah, akibat gigitan keras yang aku buat.


"Aku tidak akan membiarkanmu menyakiti kak Sam, " balasku mendorong keras tubuhnya hingga terjatuh ke atas lantai itu.


Melihat dia yang terjatuh aku memutuskan untuk berlari ke arah kak Sam dan kak Rian.


"Kenapa kamu lama sekali Mutiara?" tanya Rian yang marah ke arahku.


"Minum dulu," ujar Rian dan kak Sam serempak mengarahkan minum ke arahku, hingga aku menatap keduanya.


Aku menepis tangan kak Sam yang menawarkan minum denganku, hingga dia berdecak kesal. Sementara Rian yang melihat itu melempar senyumnya ke arahku yang meraih minum dari tangan Rian itu.


"Argh," Mutiara lirih Sam kesal menatap ke arahku.


"Kamu kenapa Mutiara? Apa terjadi sesuatu?" tanya Rian yang melihatku sedikit tenang.


"Abi Kak!"


"Deni? Adik Tiara?" Sambung Sam yang mendengar nama Deni. "Dia kenapa? Apa dia mengganggumu lagi? Dimana dia kini? Apa yang dilakukannya denganmu Mutiara? Apa ….?


"Kamu bisa diam gak Sam!" bentak Rian kesal ke arah Sam yang bertanya sedari tadi.


"Argh, Rian! Aku harus tahu apapun yang terjadi terhadap adikku ini!" balas Sam dengan nada emosi.


"Tapi aku suaminya Sam! Aku lebih berhak atas Mutiara!" ujar Rian membuat Sam seolah terdiam. "Katakan denganku apa yang terjadi Mutiara? Apa Deni melakukan sesuatu untukmu?" Tanya Rian.

__ADS_1


Aku tidak boleh mengatakan yang sejujurnya, ditambah ada kak Sam yang tidak akan bisa mengendalikan emosinya. Apa lagi jika dia tahu jika Rian sudah melakukan hal bodoh lagi terhadapku. Aku tidak ingin kak Sam marah dan jadi gila karena aku, kak Sam seseorang yang nekat.


"Mutiara kenapa kamu diam, apa yang sudah dilakukan Deni terhadapmu? Dimana dia kini?" ujar Sam yang mulai berdiri dari kursinya itu.


"Dia tadi ada di kamar mandi Kak!" balasku yang membuat kak Sam berjalan menuju ke arah kamar mandi itu.


"Kamu mau kemana Sam?" tanya Rian yang melihat Sam tengah dikuasai emosinya.


"Mau tidur di kamar mandi, kamu mau ikut?" ujar Sam menatap kesal ke arah Rian.


"Argh, Sam!" Bentak Rian yang tidak senang akan jawaban dari Sam itu.


"Aku mau nyari bajingan yang sudah merusak masa depan adikku!" pekik Sam dengan nada sedikit tinggi membuat semua orang menatap ke arah Sam yang berkata seperti itu.


Sam tidak sadar akan perkataannya yang akan membuat malu Rian dan Mutiara.


"Lebih baik kita pergi dari sini Mutiara! Daripada kita akan dipermalukan oleh kakakmu yang gila itu," ujar Rian yang menarik tangan Mutiara dari kursi itu.


Mereka meninggalkan Sam sendiri di dalam kafe itu, karena Sam yang selalu bersikap konyol berkata tanpa memikirkannya terlebih dahulu.


"Tapi Kak, bagaimana jika kak Sam membuat keributan disitu Kak?" tanya Mutiara terhadap Rian itu.


"Itu bukan urusanmu Mutiara! Lebih baik katakan denganku apa yang dilakukan oleh Deni terhadapmu!"


"Dia hanya berkata, akan menyakiti dan melukai kak Sam lagi."


"Ooh," balas Rian dengan ringan, hingga aku berhenti dan berdiri di hadapannya itu.


"Ooh, apa maksudmu Rian? Apa kamu senang jika terjadi sesuatu terhadap kak Sam? Aku tidak paham denganmu Rian," ujarku dengan nada marah dan pergi meninggalkannya sendiri.


"Kamu mau kemana Mutiara?" Pekik Rian mencoba menghentikanku. Aku tidak peduli dan bahkan aku tidak menoleh lagi ke arah Rian yang mencoba mengikutiku dari belakang badan ini.


"Stop Mutiara," lirihnya yang tidak ku hiraukan, hingga dia datang menarik dan menahan tanganku. "Jangan membuatku marah Mutiara! Ayo kita pulang," pintanya yang mencoba menarik tangan ini.


"Aku tidak akan pulang sebelum aku memastikan kak Sam baik-baik saja!"


"Mutiara, jangan uji kesabaranku!" Pekiknya sedikit lebih keras ke arahku.


"Ah, aku hanya ingin memastikan kak Sam baik-baik saja, aku tidak ingin terjadi sesuatu terhadapnya."


Rian mulai menampakkan tatapan kemarahan ke arahku. "Aku tidak akan pergi sebelum aku memastikan kak Sam dalam keadaan baik-baik saja."


"Argh, Mutiara! Kamu membuat kesabaranku habis," ujar Rian yang mengangkat tubuh ini masuk ke dalam mobil miliknya.

__ADS_1


"Lepaskan aku Rian!" Aku mencoba meronta dan melakukan protes ke arahnya itu. Tapi Rian terlalu kuat hingga aku tidak bisa berbuat apa-apa.


"Jika terjadi sesuatu terhadap kak Sam, aku tidak akan memaafkanmu Rian."


__ADS_2