Cinta Demi Balas Budi

Cinta Demi Balas Budi
menghindari Sam


__ADS_3

Bab 33


Menghindari Sam


Rian masih menatapku yang tidak mengikuti kemauannya untuk makan di restoran itu. "Aku ingin makan di tempat lain," pintaku ke arahnya yang mencoba menarik tangan ini.


Aku mencoba menepis tangannya dari tangan ini, tapi genggaman tangannya terlalu kuat. "Aku mau makan di situ," ujarnya yang mencoba membawaku masuk ke dalam.


"Tapi Kak Rian! Argh," dengan terpaksa aku mengikuti langkah kakinya yang menuju ke dalam restoran itu.


"Tapi Kak Rian, tidak bisakah kita makan di luar," masih pintaku terhadapnya yang menarik kursi itu untukku.


"Ayo duduk," titahnya ke arahku.


Kenapa kak Rian mengambil kursi yang bersebelahan dengan kak Sam, membuatku semakin kesal. Aku ingin beranjak tapi kak Rian menahan tanganku untuk tetap duduk.


Sehingga aku lihat kak Sam berdiri dan mengajak Cantika. "Tapi Sam," lirih Cantika yang seakan kesal ke arah Sam yang mengajaknya pergi sebelum menikmati hidangan makanan yang telah di seduhkan.


"Kita makan di luar," ujar kak Sam yang terdengar di telinga ini. "Rian kami duluan," kak Sam pamit terhadap Rian tanpa menatap ke arahku.


Syukurlah dia sudah pergi, sehingga aku bisa menikmati suasana makan malam ini. Tapi, kenapa hati ini sangat sakit melihat kak Sam yang berjalan dengan kak Cantika. Tanpa sadar aku meneteskan air mata yang melihat punggung kak Sam dari kejauhan. Aku sayang denganmu kak, tanpa sadar terlontar dari mulut ini yang menatap kepergiannya.


"Mutiara," kak Rian memanggilku tapi seolah aku tidak mendengarnya, membuat dia mencubit tanganku.


"Auw Kak," ujarku marah ke arah Rian.


"Tetap saja pasangi dia Mutiara! Kalau perlu pergi kejar dia, atau kamu mau aku panggilkan Mutiara?" Perkataan Rian seolah berisi cemoohan ke arahku yang masih sedih akan sifat dingin kak Sam.


Aku memilih menikmati makanan yang ada di hadapanku, walau makanan yang sedang aku makan tidak terasa di lidah, akibat rasa pedih dan sesak dada ini. Menatap kak Sam yang sudah melupakanku.


"Mutiara, apa kamu baik-baik saja?"

__ADS_1


"Uhmm," balasku dengan lesu.


Apa pantas dia bertanya tentang hati ku ini, sementara dia tahu jika aku sama sekali tidak mencintai pria yang sudah tiga tahun menikahi ku ini.


POV Sam


Sebaliknya Sam yang mencoba tegar di hadapan Mutiara itu, jauh lebih rapuh dari perasaan Mutiara yang hancur. Kini Sam hanya bisa merenungi dirinya di bawah bintang di dalam taman rumah barunya kini.


Sekilas Sam terbayang akan kisahnya dan Mutiara di rumah yang kini ditempatinya.


"Ini untuk kamu Mutiara, bagaimana harimu hari ini? Apa seseorang ada yang mengganggumu. Aku tidak akan membiarkan siapapun yang menyakiti adikku yang cantik ini," ujar Sam pada Mutiara.


"Argh, gak Kak," balas Mutiara saat itu dengan lesu.


"Kamu pergi dari rumah ini, kamu tidak pantas tinggal disini! Kamu sudah mencoreng nama baik keluarga ini, kamu hamil dua bulan Mutiara."


"Apa? Apa itu benar Mutiara? Kamu hamil dua bulan, dan aku tidak tahu! Argh ah … Mutiara," pekik Sam sangat marah.


Tanpa sadar Sam meneteskan air mata di pipinya, setelah terngiang akan kenangannya dengan Mutiara. "Seharusnya aku menjaga kamu dengan baik Mutiara! Maafkan aku," lirih Sam yang menyandarkan tubuhnya di kursi itu.


Bayangan Mutiara tiada henti pergi dari pikiran Sam. "Bagaimanapun aku mencoba lari dari kamu aku tidak bisa Mutiara! Aku mencintaimu," ujar Sam yang terlontar dari mulutnya.


"Apa maksudmu Sam?" Cantika yang tanpa sengaja ingin menghampiri Sam itu, mendengar ucapan Sam yang terlontar dari mulutnya. "Apa kamu bilang kamu mencintai Mutiara? Jawab Sam!!" Cantika mengeluarkan amarahnya ke arah Sam yang terdiam mendengar amukan Cantika.


"Aku ngantuk Cantika, aku ingin istirahat," Sam meninggalkan Cantika yang yang tengah marah terhadapnya, tanpa menoleh Cantika yang sedang memekik memanggil nama Sam.


"Sam!! Aku ingin bicara," masih panggil Cantika yang mengikuti Sam dari belakang badannya itu.


"Aku ingin istirahat Cantika," lirih Sam yang membaringkan tubuhnya di tas ranjang itu. Tapi Cantika tidak puas akan jawaban Sam. Membuat Cantika tidak membiarkan Sam melelapkan matanya.


"Kamu harus jawab aku dulu! Apa maksud ucapanmu tadi, masih mencintai Mutiara? Aku gak terima Sam! Jika kamu memikirkannya."

__ADS_1


"Apa yang kamu takutkan sih Cantika? Bukannya kita sudah menikah?" Balas Sam yang memilih berdiri dan hendak pergi, tapi Cantika menahan tangan Sam.


"Sam," panggil Cantika yang kini bertabur air mata.


Sam menepis tangan Cantika. "Aku ingin sendiri," ujar Sam yang memilih berjalan ke luar.


"Tidak Sam, kita harus bicara! Kamu harus membuang perasaan itu terhadap Mutiara, Sam!"


"Argh, biarkan aku sendiri."


"Sam!!" Cantika menaikkan intonasi nada bicaranya terhadap Sam, membuat Sam menatap Cantika yang menghentikan langkah kakinya itu.


"Argh ah, iya aku akan melupakan Mutiara. Puas kamu!"


"Tapi kamu mau kemana Sam?"


Kali ini Sam tidak menggubris ucapan Cantika. Sam memilih berjalan menuju kamar Mutiara. "Buka Sam, kenapa kamu meski tidur disitu Sam? Argh, ini semua karena kamu Mutiara."


Tok tok kkkk …. Cantika menggedor pintu itu berkali-kali, tapi Sam tetap acuh tidak merespon panggilan Cantika dari balik pintu kamar Mutiara itu.


Sam kini tengah menatap isi kamar Mutiara, melihat beberapa foto Mutiara yang masih menempel di dinding kamar itu. Membuat Sam menangis saat menatap foto antara dia dan Mutiara.


"Mutiara aku rindu denganmu, maafkan aku tidak bisa menjagamu dengan baik," ujar Sam yang tengah memeluk erat foto kenangannya dan Mutiara.


Sam tanpa sengaja membalik foto yang sedang dipegang. "Kak Sam, aku mencintaimu! Bisa tidak kamu mengerti perasaanku kak, rasa sayang ini denganmu bukan rasa sayang adik ke kakak. Tapi rasa sayang seorang Perempuan terhadap pria kak," sebuah tulisan yang ditinggalkan Mutiara di balik foto itu, dimana mereka berdua terlihat bahagia.


Setelah membaca tulisan di balik foto itu, membuat hati Sam seolah terpukul. Kenapa dia tidak mengetahui tentang perasaan Mutiara selama ini terhadapnya.


"Argh ahhhh …Maafkan aku Mutiara!! Maaf," lirih Sam yang menangisi foto itu.


Kini hanya sebuah penyesalan yang dirasa Sam, setelah mendengar goresan cerita Mutiara yang diam-diam menyukai Sam.

__ADS_1


__ADS_2