
Bab 30
Bertetangga dengan Sam
"Aku harus menemui papi," lirih Sam yang berjalan menuju arah rumahnya, emosinya sedang membara mengingat papinya yang ingin menghancurkan rumah Mutiara. "Tidak akan kubiarkan papi menyentuh rumah itu lagi, papi sudah kelewatan," ujar Sam yang sedang berdecak kesal itu. Dengan langkah kaki yang tergesa-gesa. Sam turun dari mobilnya menuju arah sang papi.
"Papi, papi!!" Pekik Sam yang membuat semua orang dalam rumah menatap ke arah Sam yang sedang marah itu.
"Ada apa Sam?" tanya mami Sam yang melihat Sam tidak seperti biasanya.
"Dimana Papi, Mami?" ujar Sam balik bertanya.
Sehingga papi Sam keluar setelah mendengar suara pekik Sam yang sangat kencang.
"Kamu seperti kesurupan saja Sam," ujar papinya yang berjalan ke arah Sam itu.
Sam melotot ke arah sang papi yang datang dari dalam ruangannya. "Ada apa Sam?" Masih tanya sang papi yang melihat Sam dengan wajah memerah.
"Apa tujuan Papi sih sebenarnya? Kenapa Papi ingin menghancurkan rumah Mutiara? Apa lagi salah Sam, Papi? Jika Papi tetap seperti ini terus jangan salahkan Sam jika Sam memberontak," balas Sam mengeluarkan semua uneg-uneg yang disimpan.
Papi Sam melotot ke arah Sam yang meninggikan suaranya ke arah sang papi. "Papi!!" Panggil Sam dengan nada semakin tinggi.
Byurrrr
Papi Sam mengambil gelas yang berisi minuman diatas meja itu, lalu menyiramkan nya tepat mengenai wajah Sam. Sehingga wajah Sam dan bajunya basah, akibat lemparan air dari sang papi yang marah melihat Sam yang meninggikan suaranya.
"Papi," ujar Sam lagi dengan pekik suaranya.
"Bik bik … bawakan air segayung," pekik sang papi ke arah sang asisten rumahnya itu.
"Argh, Papi! Jawab pertanyaan Sam! Sam serius Papi, kenapa Papi ingin menghancurkan rumah Mutiara? Apa salah Sam lagi Papi?" tanya Sam ulang membuat papi Sam semakin marah ke arah Sam.
"Ini tuan," lirih sang bibik yang membawakan air segayung sesuai permintaan papi Sam.
"Argh ah ah …." Lirih Sam yang memilih duduk di hadapan sang papi yang sedang memegang air itu.
"Papi, tolong jawab Sam! Kenapa Papi ingin menghancurkan rumah Mutiara, jangan ganggu rumah itu Papi," pinta Sam dengan lembut.
Mendengar Sam yang mulai lembut berbicara pada papinya, membuat papi Sam meletakkan air itu ke atas meja.
"Papi tidak ingin kamu memberikan rumah itu, kepada wanita itu Sam! Berikan Papi sertifikatnya," pinta sang papi terhadap Sam yang berusaha untuk lembut.
Sam memilih berdiri dari hadapan sang papi. "Kamu mau kemana Sam?" tanya papi Sam yang melihat Sam hendak melangkah pergi.
"Sam akan tinggal di rumah itu Papi! Agar Papi puas. Dan, jika Papi merasa rugi karena Sam memakai uang perusahaan. Maka Sam akan segera menggantikannya, Pi!" ujar Sam dengan nada lantang ke arah sang papi.
Byurrr
Papi Sam kembali mengguyur Sam, dengan air segayung yang diambil dari atas meja itu tadi.
"Papi!!" Pekik Sam yang kini telah basah oleh guyuran air yang dibuat oleh papi Sam.
"Argh, ah Papi kelewatan," lirih Sam yang berjalan ke arah kamarnya.
Klekk
Betapa kagetnya hati Sam, saat melihat kamarnya yang tengah berantakan, dan sang bibi yang sedang berusaha merapikannya kembali.
"Papiiii!!!" Pekik Sam pecah dari dalam kamarnya.
"Apa yang kamu lakukan Papi?" ujar Sam yang menatap kamarnya yang berantakan.
"Keluar!" Titah Sam lagi terhadap asisten rumah tangganya, yang tengah merapikan kamarnya itu.
__ADS_1
Membuat tiga pekerja Sam keluar dari kamar itu. Sam menatap baju-bajunya yang bertaburan di atas lantai kamarnya, lalu berjalan memeriksa sertifikat rumah Mutiara yang disembunyikan di bawah ranjangnya itu.
"Haruskah aku berikan sertifikat ini terhadap Mutiara?" tanya Sam pada dirinya sendiri, yang merasa senang jika papinya tidak berhasil menemukan sertifikat yang disembunyikan itu.
Beruntung papi tidak melihatnya, aku harus segera menemui Mutiara dan mengembalikan ini padanya. Aku tidak ingin jika papi mengambil ini dariku.
Sam mulai mengganti pakaian yang tadi basah kuyup, setelah merasa rapi, Sam mulai berjalan kembali ke arah luar.
"Bibik Bik bibikk …." Pekik Sam yang melewati papinya yang sedang duduk itu.
Sang papi memandang tingkah Sam yang seolah acuh dengan kedua orangtuanya.
"Kumpulan semua pakaianku dan Cantika, masukkan ke dalam tas, aku akan tinggal di rumah lama Mutiara," titah Sam yang membuat sang bibik menganggukkan kepalanya ke arah Sam itu.
Sam kembali berjalan, dan hendak melewati kedua orangtuanya yang masih duduk di ruang santai itu.
"Sam," panggil sang mami.
Sam tidak menggubris panggilan maminya, dan dia tetap berjalan ke arah luar.
"Sam!!" Panggil papi Sam dengan nada yang semakin tinggi. "Jangan buat Papi semakin marah Sam"
Papi berdiri dan menarik kasar badan ini, sehingga aku terpental. "Cukup Pi! Papi memang Papi Sam, tapi Sam berhak menentukan pilihan hidup Sam. Biarkan Sam tinggal di rumah lama Mutiara, Sam ingin mandiri Papi"
"Baik jika itu maumu! Tapi papi tidak pernah ikhlas, jika kamu menyerahkan rumah itu padanya"
"Papi!! Sam akan mengganti duit Papi, dan biarkan Sam memberikan rumah itu pada Mutiara, Papi," balas Sam dengan nada lantang menjawab omongan sang papi, membuat papi Sam seakan marah dan menarik lengan baju Sam.
Plakkk
Sebuah pukulan mendarat ke arah wajah Sam, membuat Sam melotot ke arah papinya.
"Stop, sudah Papi! Sam, kamu kelewatan Nak. Kamu berani melawan Papimu sendiri! Apa salah Mami Nak? Sehingga kamu tumbuh jadi pria dewasa yang menyakiti hati kami. Apa Mami salah mendidikmu Nak?"
Mami Sam meneteskan air matanya, menatap ke arah Sam yang selalu membuat papinya marah.
Sam mengambil tangan mami Sam yang sedang menangis itu. "Maafkan Sam, Mami," Lirih Sam menangis menyesali perbuatannya.
Bagaimanapun Sam sadar, kalau bukan karena kedua orang tuanya hidupnya tidak akan berarti dan jadi seperti ini.
"Berikan sertifikat itu terhadap Papi Sam," masih ujar papinya yang melihat Sam sedang menangis di bawah kaki maminya.
"Tapi, Papi," jawab Sam yang masih ingin memberontak.
"Biarkan Papi, jangan tekan Sam lagi," ujar mami Sam membela Sam.
"Tidak Mami, Mami kan tahu! Jika anak Mami ini seorang yang bodoh. Dan Papi tidak ingin hatinya menguasai pikirannya," balas sang Papi.
"Papi"
"Sini Sam! Jangan jadi anak durhaka Sam," ujar papi Sam yang membuat Sam berdiri.
"Kamu mau kemana?" tanya sang papi
"Bukannya Papi menginginkan sertifikat itu? Biarkan Sam ambil, Papi!" ujar Sam yang berjalan ke arah kamarnya lagi.
"Apa aku harus menyerahkanmu kepada papi, argh. Aku ingin sekali memberikan mu kepada pemilik mu. Dia yang lebih berhak atasmu dan rumah itu," lirih Sam berbicara sendiri dan sedang menatap sertifikat yang sedang dipegang.
Sam meletakkan sertifikat itu di dadanya, merasa berat untuk menyerahkannya kepada papinya.
Berjalan perlahan-lahan menuju arah kedua orangtuanya yang masih duduk di ruang santai itu. "Sini Sam," pinta sang papi yang melihat Sam seolah ragu menyerahkannya kepada papinya itu.
"Papi, biarkan Sam tinggal dirumah itu Papi," pinta Sam sebelum memberikan sertifikat itu ke arah papinya.
__ADS_1
"Humm," balas sang papi membuat Sam tersenyum.
"Sini," Papi Sam mengulurkan tangannya ke arah Sam yang masih memegang sertifikat itu.
Sam kembali bersikap konyol. "Papi," masih lirih Sam sedih melepaskan sertifikat itu.
Sehingga Sam menempelkan bibirnya ke arah sertifikat itu, membuat papi dan mami Sam menatap aneh ke arah anak semata wayangnya itu.
Sang papi menggelengkan kepalanya, begitu juga mamanya yang melempar senyum tipis ke arah Sam yang begitu berat melepaskan sertifikat itu.
"Sam," lirih sang mami yang menatap nanar di mata Sam.
Papi Sam berdiri menuju ke arah Sam yang duduk di seberang kursi papinya itu, lalu menarik kasar sertifikat rumah Mutiara yang sedang Sam peluk. "Lepaskan Sam," titah sang papi yang melihat Sam belum ikhlas melepaskan sertifikat itu.
"Sam, nanti koyak," pekik sang Mami.
Brakkk
Benar saja apa yang dikatakan mami Sam, sertifikat yang sedang diperebutkan itu koyak terbelah dua, membuat ketiganya menatap ke arah kertas yang sudah menjadi dua bagian.
"Sam," panggil papi Sam yang membuat Sam memberikan potongan kertas sertifikat itu.
"Ini Papi," lirih Sam berdiri, lalu memilih kabur.
"Sam!!" Pekik sang Papi lagi yang melihat Sam berjalan ke arah keluar.
Sementara mami Sam tersenyum sendiri, melihat sifat konyol anaknya yang tidak juga berubah, dan papi Sam hanya bisa diam seraya menggelengkan kepalanya tidak percaya melihat sertifikat yang sedang dipegang terbelah dua.
Maafkan aku Mutiara, aku tidak berhasil memberikan sertifikat itu kembali padamu. Mungkin kamu akan marah denganku karena keegoisanku sendiri.
Aku harus kemana? Apakah aku harus menemui Mutiara ke rumah sakit, semua tidak akan terjadi jika aku tidak egois.
Sam sedang bergelut dengan pikirannya, tanpa menghiraukan bunyi panggilan yang masuk ke dalam ponselnya itu. Cantika sang istri tengah kesal menunggu Sam datang menjemputnya. Melihat hari yang sudah semakin sore dan ini jam waktu untuk pulang bekerja.
Setelah puas bergelut dengan pikirannya, Sam menuju arah ke rumah sakit itu. Tidak peduli akan kemarahan Rian yang akan mengusir kedatangannya, bagi Sam untuk mengetahui kabar Mutiara itu sudah cukup bagi Sam.
"Dimana ruangan ibu …." Lirih Sam yang hendak bertanya pada salah satu karyawan rumah sakit, yang sedang berada di loket itu. Tiba-tiba mata Sam tertuju pada Rian yang sedang berjalan. Membuat Sam membatalkan niatnya untuk bertanya, dan memilih berjalan menuju ke arah Rian yang sedang dilihatnya itu.
"Rian," panggil Sam yang berlari ke arah Rian.
Membuat yang dipanggil menoleh ke arah suara. "Kamu, untuk apa kamu menemuiku?" tanya Rian dengan angkuh.
"Rian, maafkan aku," lirih Sam yang berjalan mengikuti Rian.
"Kamu membuat Mutiara terluka, Sam! Aku baru tahu jika kamu kakak yang kejam," ujar Rian yang membuat Sam berdiri di hadapan Rian itu.
"Maafkan aku, aku tidak berniat membuat Mutiara terluka. Aku memang berencana membeli rumah itu untuk Mutiara! Tapi," balas Sam dengan menundukkan kepalanya.
"Tapi apa Sam?"
"Papi, mengambilnya dariku Rian," lirih Sam dengan perasaan sedih bercerita kepada Rian.
"Aku akan membelinya dari Papimu! Aku harus mendapatkan rumah itu untuk Mutiara, aku tidak sanggup melihat Mutiara sedih dan terpukul Sam"
"Tidak Rian, karena aku sudah bilang dengan papi untuk tinggal di rumah lama Mutiara."
"Kamu hanya akan menyakitinya Sam!"
"Maaf Rian, aku memang ingin Mutiara membenciku. Agar dia tidak sakit hati jika bersamamu! Bukankah kamu ingin Mutiara mencintaimu? Biarkan aku korbankan perasaanku untuk kebahagiaannya denganmu," balas Sam dengan mata yang kembali bersinar.
"Baik Sam, aku paham. Dan aku harap hal ini Mutiara tidak boleh tahu, aku tidak ingin dia membenciku."
"Baik Rian," balas Sam yang menepuk pundak Rian. "Apa aku boleh melihatnya dari jauh," pinta Sam yang di jawab anggukan kepala oleh Rian.
__ADS_1
"Ayo, ikut aku."
Sam mengikuti Rian menuju ke ruang inap yang sedang ditempati Mutiara.