
Bab 5
Pagi ini Sam terbangun lebih awal melihat Mutiara yang masih terlelap, membuat Sam terlebih dahulu membersihkan badan sebelum dia beranjak ke dekat Mutia, membangun kan Mutiara yang seakan masih lelap dalam tidurnya.
"Mutiara, bangun! Kita harus segera pergi! Kakak ingin keluar sebentar, bersihkan dirimu dulu!" pinta Sam yang membangunkan Mutia, dengan mulai melangkah keluar mengingat hari ini adalah hari bahagianya! Dimana seharusnya hari ini merupakan hari pernikahannya dengan putri Cantika. Membuat Sam sesekali menghela nafas, mengingat bagaimana perjuangannya dalam mendapatkan Cantika, tapi semua seakan sia-sia dia meninggalkan kebahagiaannya demi seorang Mutia, gadis cantik adik dari Almarhum sahabatnya.
Sam yang masih berjalan itu! Seketika matanya melihat pemandangan ke arah depan, sang anak buah papinya tengah berbicara terhadap pelayan hotel, seakan sedang bertanya tentang keberadaan Sam.
"Argh …. " desah nafas panjang Sam yang melihat sang anak buah tengah menatapnya, membuat Sam seakan kesal dan berlari ke arah kamarnya kembali.
Kejar mengejar terjadi, sang anak buah seakan tidak mau kehilangan jejak Sam, dengan langkah kaki yang kencang, mereka mengejar Sam yang seakan menghindari mereka.
"Den …." panggil para anak buah papinya Sam, membuat Sam menempelkan tangannya di keningnya, melihat ke arah belakang jika sang anak buah papi masih mengejarnya.
"Arghh …. " desah nafas panjang Sam seolah mereka tidak akan berhenti mengejar Sam.
Sam melempar segala sesuatu yang ada di hadapannya, ke arah dua pria yang berbadan tegap yang hendak menangkap Sam.
"Argh ahh …. " Masih desa nafas panjang Sam yang seakan geram, hingga dia memulai untuk melayani kedua pria berbadan berotot itu, mengeluarkan segala jurus jurusan perkelahian entah dari mana dia berlatih hingga dia memiliki seribu jurus bayangan yang diarahkan kepada kedua anak buah papinya.
Plukk....
Segala bunyi dan irama dentuman akibat perkelahian dua lawan satu itu. Para tamu yang juga menginap di hotel itu, seakan menikmati perkelahian ketiganya, seolah sedang ada pertunjukan tinju satu lawan dua, mereka bersorak seolah menyemangati.
"Ayo mas semangat," ucap seseorang mencoba mengompori perkelahian itu, entah dari mana dapat nikmatnya jika menjadi penonton dalam pertandingan tinju yang tidak diinginkan itu.
"Apa mereka tidak tahu jika aku sedang berjuang melakukan perlawanan pembelaan diri! Andra datanglah bantu aku!" gumam Sam mengingat Andra sahabat sejatinya yang sekaligus kakak dari Muti.
Seperti ada kekuatan super yang masuk ke dalam tubuh Sam, dia yang tadinya hampir gugur dan kalah melawan kedua algojo hebat yang papinya kirim untuk membawa Sam.
Akhirnya Sam berhasil menaklukkan kedua algojo papinya dengan terkapar di lantai, dipenuhi beberapa pembengkakan di pipi perut badan serta terlihat jelas beberapa cairan merah pekat berbau amis itu, keluar dari badan mereka yang mulai lemah.
"Apa kamu benar ada Andra, dalam menjagaku dan Muti?" batin Sam dalam hatinya dengan sangat senang jika dia berhasil menaklukkan kedua algojo papinya.
Sementara penonton itu, seakan bertepuk tangan atas kemenangan Sam melawan keduanya. Sam berjalan ke arah sang anak buah, mendengar bunyi nyaring dari saku algojo papinya yang tengah terbaring lemah.
"Dering … "
Bunyi henpon salah satu algojo yang sudah terkapar itu, Sam pun mendekati suara henpon sang algojo, yang terlihat di layar utama bos ku. Sam mengangkat dan menjawab panggilan yang ditujukan terhadap sang anak algojo.
"Halo … Kenapa kamu lama mengangkat panggilanku! Bagaimana apakah Sam, sudah ditemukan?" Tanya papi sam, dengan marah dari balik telepon anak buah papinya itu.
"Hello papi …. " Anak buah mu kaki dan tangannya sudah aku patahkan papi! ayolah papi! jangan kejar Sam lagi! bukannya papi sudah menikahkan Ando, dengan Cantik? Apalagi yang papi mau! biar Sam belajar mandiri papi! Sam letih papi, dijadikan seperti buronan terus.
__ADS_1
Ayolah papi, maafkan Sam. Izinkan Sam menikahi Mutiara. Ingat papi! Sam berhutang nyawa dengan kakaknya Mutia! Kalau bukan karena Andra mungkin Sam tidak ada lagi didunia ini. Seharusnya papi ngerti itu! Bukannya menjadikan anaknya sendiri seperti buronan," ujar Sam panjang lebar yang menginginkan papinya tdak mengejarnya lagi.
"Tidak Sam! Sampai kapan pun papi tidak akan pernah merestui hubunganmu dengan anak si penghianat itu Sam!"
"Papi, yang jadi penghianat papinya Mutiara! Bukan Mutiara papi! Sam tidak peduli, Sam akan tetap menikahi Mutiara walau pun tanpa seizin papi!" ucap Sam seraya memutuskan panggilannya, dan mengembalikan henpon milik ajudan papi Sam, dengan kembali berjalan ke kamarnya lagi.
"Mutiara! Mutiara. Apa kamu sudah selesai mandi! Ayo, kita harus pergi anak buah papi ada di sini!" ucap Sam yang kembali mengemasi barangnya lagi.
"Kita mau kemana lagi Kak?" tanya Mutiara yang merasa badannya sedikit fresh akibat dia sempat melakukan perawatan diri, memanjakan badannya di kamar mandi.
"Apa keduanya Kakak yang memukulnya Kak?" tanya Mutiara seakan tidak percaya melihat ke dua badan algojo papinya, memiliki badan yang kekar dan berotot. Sam menaikkan kedua alisnya dengan diikuti gerakan bahunya menunjukkan gaya sombongnya.
"Apa mereka akan datang lagi Kak mencari kita Kak?" tanya Mutiara yang kini digenggam erat oleh Sam, yang mulai berjalan meninggalkan hotel.
"Kak apa kita tidak sebaiknya makan dulu Kak. Mutiara lapar Kak!" Pinta Mutiara,m yang membuat Sam menghentikan sepeda motornya, dan memarkirkannya ke sebuah warung Ampera lesehan di pinggir jalan.
"Apa tidak masalah jika kita makan di sini Mutiara? setidaknya orang di sini sedikit sibuk jadi tidak akan ada yang mengenali wajah kita!" ujar Sam yang mulai berjalan ke etalase yang sudah tersusun dengan beberapa makanan.
Hingga pesanan keduanya pun tiba di depan mereka siap untuk menyantap makanan, apa ini sekedar makan siang atau sarapan pagi. Melihat jam sudah menunjukkan jam 11 siang, Mutiara baru bisa menikmati sarapan paginya jam 11 siang. Ah aku memang memiliki mama tiri yang kejam, tapi setidaknya dia tidak pernah membiarkan aku makan sampai jam 11 siang. Apa ini suatu keberuntungan atau apa? setidaknya aku berterima kasih kepada kak Sam yang sudah menemaniku di jalanan. Entah kemana tujuan seolah angin yang terbang lepas tanpa arah.
Ku menatap wajah yang dulu penuh dengan senyum seakan memudar, apa kak Sam tengah memikirkan kak Cantika? Iya hari ini semestinya hari pernikahannya, pernikahan kak Sam, "Maafkan aku kak Sam," ujar Mutiara yang membuat Sam seketika menghentikan aktivitas makannya, " Kamu kenapa Mutiara! Masih merasa bersalah, ha. Karena hari ini mestinya aku menikah. Sudah lah Mutia, simpan maafmu kelak dengan kakakmu Andra. Jika kita berkunjung lagi ke makamnya kamu sudah melanggar aturannya. Tidak mau mematuhiku hingga kini aku menjadi buronan papiku," ujar Sam.
" Iya Kak, Mutiara sangat menyesal Kak,"
"Bagus jika kamu menyadarinya, walau sudah telat. lanjutkan makanmu, kita tidak bisa berlama-lama di sini bisa-bisa anak buah papi yang lain datang mencari kita kesini. Papi tidak akan pernah menyerah menjadikan aku buronannya hingga dia berhasil memisahkan kita" ucap Sam yang mulai menghidupkan kembali handphone miliknya.
Betapa cantik dan anggunnya Cantika, mengenakan gaun pengantin yang dipilih oleh Sam, semua dipersiapkan Sam dengan baik dan semeriah mungkin. Hanya ingin mengikat janji suci yang pernah mereka buat selama tiga tahun.
Apa aku harus bahagia melihat kamu Cantika, seolah kamu tidak menunjukkan rasa sedih di wajahmu, kenapa aku melihat seolah kamu sangat bahagia dengan Ando. Apa sebenarnya …." ucap Sam yang tidak ingin memikirkan sesuatu yang buruk.
"Apa kamu sudah makannya Muti?" Tanya Sam yang sudah melihat Mutiara, sedikit bersantai di kursi dengan menghabiskan dengan lahap makanan yang ada di piringnya, " Aku kenyang sekali Kak" ucap Mutiara dengan mengelus perutnya itu.
"Apa kamu sudah tidak makan lima tahun Mutiara? Sampai kamu begitu rakus menghabiskan makananmu," ucap Sam meledek Mutiara.
"Anggap saja seperti itu Kak," jawab Mutiara yang mulai mengikuti Sam, hendak keluar namun saat Mutiara dan Sam berjalan keluar, seseorang bocah tanggung kisaran lima belas tahun usianya datang menarik henpon milik Sam, yang dia letak di belakang sakunya.
"Ah, jambret, eh eh … kembali kan!!" teriak Sam dengan mengejar bocah kecil itu, kejar - kejaran pun terjadi antara Sam dengan bocah kecil itu yang sepertinya sangat lincah dalam berlari.
"Ayo Kak kejar" ujar sang bocah sepertinya menikmati kejar-kejarannya.
"Dasar kamu anak nakal, mau lari kemana kamu ha?" tanya Sam yang berhasil mendapatkan sang bocah dan menjewer telinga sang bocah tersebut.
"Maafkan aku Kak," balas sang bocah seakan menyesal merintih kesakitan,q akibat Sam menjewer telinga sang bocah itu.
__ADS_1
"Sini kembalikan handphoneku," perintah Sam mengulurkan tangannya dan melepaskan tangannya dari telinga sang anak.
"Eh, ini Kak," ujar sang bocah yang kemudian lari meninggalkan Sam yang sudah berhasil mendapat henponnya kembali.
"Dasar bocah nakal, untung masih berhasil aku dapat," ucap Sam senang, namun saat Sam melihat ke arah depan dia melihat Mutiara yang tengah diganggu sang cowok.
Sam yang masih kesulitan menyeberangi jalan hanya bisa menatap Mutiara, yang menangis meminta tolong namun sepertinya preman itu disegani dan ditakuti orang hingga tidak ada satupun yang berani datang membela Mutiara.
Tut tut tut ttt ….
Bunyi klakson kendaraan yang hilir mudik membuat Sam sulit untuk menyeberangi jalan.
"Tolong …. " Jangan ganggu aku Kak," teriak Mutiara yang sangat ketakutan, sehingga tidak beberapa lama datang seorang pria yang usianya hampir sama dengan usia Sam. Berbadan tinggi, berparas tampan dan berpenampilan seakan dia seorang CEO.
Sang pria itu pun datang dengan beberapa jurus entah berapa jurus namanya. Sehingga sang preman terkikuk lari ketakutan, berlari kencang walau badan mereka dipenuhi luka..
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya sang pria itu menatap Mutia, yang menekuk lututnya dengan kedua tangannya seolah ketakutan melihat sang preman tadi.
"Iya, makasih," jawab Mutiara yang berdiri setelah melihat sang musuh sudah pergi menjauh.
"Perkenalkan, namaku Adrian, kamu bisa panggil aku dengan Rian," ujarnya pria dengan mengulurkan tangannya,
yang disambut jabat tangan oleh Mutiara," namaku Mutiara kak, panggil saja Mutia," ucap Muti seakan senang disapa seorang pria tampan seperti pangeran dari kerajaan dunia dongeng dalam mimpi.
"Nama yang bagus, kamu kenapa?" Tanya sang pria yang melihat Mutia sendiri.
"Oh, aku itu … Kak Sam," sapa Mutiara yang menunjuk ke arah Sam yang sudah dekat dengan keduanya.
"Apa dia Kakakmu?" tanya sang cowok yang menunjuk ke arah Sam.
"Aku calon suaminya," jawab Sam seketika menyambar bagai petir di siang hari.
"Kak perkenalkan ini Kak Adrian, di panggil kak Rian, dia tadi menolong Mutiara. Dari para preman tadi Kak yang menggangguku Kak," ujar Mutia dengan sedikit perasaan senang.
"Oh tunggu deh! Apa kamu Samudra anak dari? Oh iya! Aku ingat papimu memberikan sayembara senilai satu milyar jika berhasil menemukan dan membawamu pulang," ucap sang peria membuat Sam seakan takut, dan dia pun menggenggam tangan Mutiara dengan erat hendak pergi kabur.
"Jangan takut Sam, aku bukan musuh, lagian aku tidak tertarik dengan hadiah yang papimu agung agungkan, karena aku mempunyai lebih dari apa yang papi mu punya," ucap sang pria dengan sombong.
"Jika kamu tidak keberatan, ikutlah denganku, kalian akan lebih aman daripada berkeliaran di luar. Aku bisa menjamin keselamatan kalian. Aku janji"
"Kenapa aku harus mempercayaimu, padahal aku baru mengenalmu?" tanya Sam dengan tatapan penuh arti.
"Kamu harus mempercayaiku, karena aku bukan orang jahat, dan kenapa harus mengikuti, karena tidak akan ada satupun yang berani menentang! Aku yang mempunyai kekuasaan terluas di daerah sini dan aku merupakan pesaing bisnis papimu. Bukan aku sih tepatnya papaku," ujar Rian terhadap Sam.
__ADS_1
"Apa aku bisa mempercayaimu?" tanya Sam menatap Rian dengan serius dan berada dalam kebimbangan.
"Itu terserah kamu, aku tidak akan memaksamu! Jika mau ikuti aku jika tidak aku pergi dulu," ucap rian yang kini berada dalam mobilnya menunggu kepastian, Sam dan Mutiara.