Cinta Demi Balas Budi

Cinta Demi Balas Budi
Kamu melakukannya dihadapan ku Rian


__ADS_3

Bab 1 8


Sam menatap Rian yang meninggalkan suasana meeting yang baru saja dimulai, perkataan Sam sungguh memalukan bagi Rian.


Perasaan bersalah akibat mulut Sam yang terlepas timbul di hatinya, tapi Sam tidak mungkin mengejarnya.


Hingga sang papi datang dengan tepuk tangan kebahagiaan. "Kamu hebat Sam, kamu berhasil membuat malu Rian,"


Membuat malu, sekilas perkataan sang papi menghantui perasaan Sam. Bagaimana dia bisa begitu bodoh, sehingga semua terlepas begitu saja. "Dan akibat kebodohan mu, kita berhasil memenangkan tender nya, Papi bangga denganmu Sam,"


"Ha," Sam melempar senyum tipis di wajahnya itu. Bangga, bagaimana bisa papi bangga akan kebodohanku, wajahku


berubah delapan puluh derajat menjadi rasa kuatir, akan kemerahan Rian yang melampiaskannya ke Mutiara


"Papi, jika Papi yang jadi Rian! Apa yang akan Papi lakukan?" itulah yang kini terlintas di otakku, hingga pertanyaanku membuat papi menatap ke arahku. "Menjadikan gadis itu, jadi istri sungguhan, dan mempertahankannya. Jika tidak rumor yang kamu buat itu sebagai istri Kontrak akan tersebar ke semuanya. Dan bisa menurunkan reputasi perusahaan Rian," balas sang papi yang membuat Sam seakan kehilangan nyawanya.


"Argh, Papi! Sam mohon kembalikan henpon Sam. Sam janji Pi, tidak akan kabur lagi. Sam hanya ingin memastikan keadaan Mutiara Pi! Bagaimanapun Sam berhutang nyawa dengan kakaknya Pi, tolong Pi" gumam sam seperti anak kecil yang merengek ke arah sang papi.


Apa yang terlintas di benaknya tadi, sama halnya dengan apa yang dikatakan sang papi. "Aku memang bodoh, sangat bodoh," ujar Sam menyalahkan dirinya itu.


"Argh ah …." Pekik Sam menyesali akan apa yang dia buat tadi. Sam mengacak rambutnya yang tidak gatal, wajah semakin murung dan tatapan mata yang mulai berbinar.


" Baiklah, papi pegang omonganmu Sam" ujar sang papi yang melihat Sam seakan sedih.


"Setidaknya dengan ini aku bisa meminta maaf terhadapmu Rian," batin Sam dalam hatinya "Terima Kasih Papi," tambah Sam lagi terhadap papinya itu.


*****


Tidak menunggu lama, Sam yang sudah memegang kembali telepon selulernya itu, mencari di layar kontak nama Rian. "Maafkan aku Rian! Maaf," lirih Sam tiada henti-henti menunggu panggilannya dijawab oleh Rian dari seberang teleponnya itu. "Angkat Rian, angkat!! Aku menyesal Rian," Sam melakukan panggilan berkali-kali. Hingga si pemilik telepon menjawab panggilan dari Sam.


"Hallo," jawab seseorang dari seberang telepon Sam, Sam ingat persis jika itu adalah suara Mutiara. Perasaan senang kembali di hati Sam setelah mendengar panggilannya dijawab oleh Mutiara.


"Mutiara," pekik Sam terhadap Mutiara itu. "Kamu, apa kamu …." Lirih Sam sangat ragu bertanya ke arah Mutiara itu.


"Ada apa Kak? Iya Kak, ini Mutiara! Kakak baik-baik saja. Mutiara rindu Kak," balas Mutiara.


Saat Mutiara tengah berbicara terhadap Sam. Rian datang dan menatap nanar di mata Mutiara yang begitu merindukan Sam. "Siapa Mutiara?" tanya Rian yang melihat sang istri meneteskan air mata.


"Kak Sam Rian," lirih Mutiara terhadap Rian.


Rian pun berjalan kearah anak Mutiara dan membawanya ke baby sister.

__ADS_1


"Mau kemana kamu bawa dia Rian?" panggil Mutiara menatap ke arah Rian, yang datang secara tiba-tiba dan pergi dengan membawa anaknya.


"Apa Rian marah denganmu Mutiara?" tanya Sam yang mendengar pekikan Mutiara memanggil nama Rian, yang seolah mengacuhkan Mutiara. Tanpa menoleh ke arah Mutiara.


"Tidak Kak, Rian memperlakukanku dengan baik. Dia tidak pernah menyentuhku Kak," balas Mutiara yang membuat Sam seakan senang, itu berarti Rian tidak mengingkari janjinya. "Apa aku boleh bicara dengan Rian?"


Klek


"Rian dimana kamu letak Darul?" tanya Mutiara yang melihat Rian tengah menatapnya. Rian mengunci pintu kamarnya, setelah memberikan sang anak ke baby sister. "Apa kamu baik-baik saja Rian? Kamu tidak biasanya seperti ini? Apa yang terjadi Rian,"


Rian menatap liar ke arah Mutiara. "Apa Sam masih bicara Muti?" tanya Rian.


"Iya Rian. Apa kamu ingin bicara dengan kak Sam?" tanya Mutiara.


"Sini berikan denganku," balas Rian.


Mutiara memberikan telepon selulernya ke arah Rian, hingga Rian berbicara terhadap Sam masih lewat panggilan seluler itu.


"Hallo Rian, aku minta maaf atas kejadian tadi," ujar Sam langsung, sebelum Rian memulai berbicara.


Sam menyesali akan perbuatannya, yang telah berhasil membuat malu Rian. "Oh ya, aku yang harusnya minta maaf denganmu! Karena, dengan itu aku akan melanggar perjanjian kita," balas Rian.


"Apa maksudmu Rian?" tanya Sam.


"Hai, Sam! Ini salahmu Sam," ucap Rian yang berjalan ke arah meja, sebelah tempat tidurnya. Rian mengatur posisi kamera menghadap ke arah ranjang itu.


"Rian, tidak …. Tidak Rian nnn" teriak Sam dari seberang teleponnya itu.


"Apa yang akan kamu lakukan Rian?' Mutiara mulai ketakutan menatap ke arah Rian, yang mulai menginginkan tubuhnya.


"kamu sudah berjanji denganku dan kak Sam, untuk tidak akan menyentuhku Rian, tolong Rian jangan," pekik Mutiara yang mencoba lari dari Rian.


Mutiara berlari ke arah pintu, tapi tangan Mutiara ditarik kasar oleh Rian. "Jangan Rian, jangan," pinta Mutiara yang melihat Rian mulai melepaskan pakaiannya.


"Kak Sam, tolong," lirih Mutiara menghadap ke atas meja tempat dimana Rian meletakkan telepon seluler tadi.


"Rian, Rian … jangan, Rian!! teriak Sam yang melihat Mutiara Tengah ketakutan di ujung ranjangnya, memeluk kedua kakinya menangis ketakutan.


"Jangan Rian, aku mohon jangan,"masih teriak Mutiara dengan rintih tangisannya.


Tidak ada belas kasihan terhadap Mutiara yang ketakutan, Rian mulai mendekatkan badannya ke Mutiara. Menarik kasar kaki Mutiara yang tengah ketakutan di pojok kamar itu.

__ADS_1


"Aku mohon jangan," sahut Mutiara meronta ketakutan.


"Rian!! Jangan," teriak Sam yang tidak mampu berbuat apa-apa.


Sementara Rian mulai menarik paksa baju Mutiara dan melepaskan pakaian dalam Mutiara.


"Kak," ucap Mutiara melihat ke arah henpon yang masih ada Sam.


"Arghh …." Lirih Sam mengamuk dan membanting handphone nya ke dinding kamarnya itu. "Mutiara ... aaa!!!" teriak Sam pecah seraya menangis. "Argh, maafkan aku Mutiara, maafkan aku. Karena aku kamu dua kali mendapatkan perlakuan seperti itu! Padahal masa pernikahanmu dengannya tersisa lima bulan lagi, maafkan aku Muti. Aku tidak becus menjagamu! Maafkan aku Andra," pekik Sam yang masih menangis itu.


Sam menyandarkan tubuhnya di dinding kamarnya, seperti orang bodoh menangis. Dia meratapi kesalahannya, tak seharusnya dia bersifat seperti tadi.


Andai saja tadi dia bisa mengendalikan dirinya semua ini tidak akan terjadi. Ah maaf kan aku Mutiara. Aku tidak bisa menjagamu dan menolongmu, maafkan aku. Aku harus ikhlas melepaskanmu, mungkin Rian lah yang terbaik untukmu,"


"Arghhhh …." Lirih nafas panjang Sam mengingat tangisan dan wajah Mutiara yang meminta bantuan Sam itu.


****


"Maafkan aku Mutiara," ucap Rian yang baru selesai turun dari tubuh Mutiara itu.


Tanpa ada Jawaban, Mutiara hanya bisa menangisi dirinya yang sedang polos tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuhnya, dan Rian yang pernah berjanji dengannya. Agar tidak akan pernah menyentuhnya itu seakan mengingkari janjinya.


"Kamu jahat Rian," pekik Mutiara yang menutupi tubuhnya menggunakan selimut itu.


"Maaf Mutiara, Sam sudah membuat aku gila, dan tidak bisa menahannya. Dan dengan ini. Aku camkan denganmu kalau perjanjian kita batal dan aku tidak akan pernah menceraikanmu," ucap Rian dengan tegas.


"Tapi Rian," bantah Mutiara seakan tidak senang.


"Maaf," ucap Rian yang memilih ke kamar mandi itu.


"Kak sam …." teriak Mutiara, kesempatannya untuk menjadi istri Sam tidak ada lagi, dan Rian memintanya untuk menjadi istri sesungguhnya. Rian sosok pria dingin dan angkuh. Bagaimana bisa aku hidup dengan pria seperti itu. "Aku benci kamu Rian!! Maafkan aku kak, maaf kakak pasti akan membenciku, dan kakak tidak akan mau lagi kan denganku. Maaf kak," pekik Mutiara sangat sedih.


Mutiara melihat Rian yang keluar dari kamar mandi itu, membuat Mutiara berjalan ke arah Rian. "Apa yang kamu lakukan Rian, kamu jahat!! Aku tidak mencintaimu Rian!! Kamu tega denganku Rian" Mutiara kesal dan memukul dada datar Rian yang masih bertelanjang dad itu.


Hingga Rian menangkap tangan Mutiara yang marah ke arahnya. "Tidak perlu kamu tangisi Mutiara!! Aku ini suamimu! Suami sah mu, aku sudah cukup baik untukmu, tapi Sam bisa-bisanya. Dia membuat aku malu, ah," ucap Rian kesal mengingat kejadian tadi.


Rian masih menggunakan handuk yang melingkar di pinggangnya, menatap Mutiara yang menutup tubuhnya dengan selimut itu. "Pergi lah bersihkan dirimu! Jika tidak ingin aku mengulanginya lagi, dan ingat kontrak perjanjian kita batal. Aku tidak akan pernah Sudi menceraikanmu,"


ujar Rian yang menatap Mutiara masih dengan lirih tangisannya.


Aku tidak tahu harus berkata apalagi, dengan berjalan tertatih aku menuju kamar mandi.

__ADS_1


"Aku tidak mencintaimu Rian," pekikku dalam kamar mandi itu, ke arah Rian, hingga terdengar suara Rian membalas ucapanku. "Aku tidak butuh cinta mu, aku butuh dirimu. Aku ingin kamu memberikan aku keturunan dari darah dagingku,"


"Argh ah …." Suara pekik Mutiara terdengar lebih kencang lagi.


__ADS_2