Cinta Di Balut Luka

Cinta Di Balut Luka
Bab 10


__ADS_3

"Iya, Mas," jawabku lirih. Aku tidak berani menatap wajahnya terlalu lama. Mas Roland pasti terluka akan keputusanku. Mau bagaimana lagi? aku tidak ada perasaan apapun padanya dan pasti bertahan pun dia akan tetap kecewa.


"Lo, kenapa Mbak Naima pergi? Lalu siapa yang akan mengajari Kia dan teman-teman mengaji nanti." Gadis kecil berusia 6 tahun itu membuat perasaanku tidak tega.


Aku pun duduk berlutut dan memegang kedua pipinya yang imut.


"Maafkan, Mbak ya Kia. Mbak harus pulang. Suatu saat nanti Kia pasti akan menemukan guru ngaji yang lebih mahir dari Mbak Nai," kataku memberi memberi pengertian.


"Tapi Kia maunya sama Mbak Nai." Kia merengek dan terlihat bersedih. Pasti keluarga Bu Ida menganggap aku adalah wanita jahat.


"Pikirkan baik-baik, Nai," timpal Mas Roland ikut bersuara. Aku yakin dia juga tidak menginginkan kepergianku. Namun sebagai wanita yang disukai oleh pria dalam satu atap tempat tinggal tentu saja ada ketidak nyamanan didalamnya.


Aku menyunggingkan senyumku pada keduanya dan kupeluk Kia dengan erat.

__ADS_1


"Maaf...," kataku pada mereka. Seperti apapun beratnya menghindar adalah jalan yang terbaik. "Aku tidak bisa berlama-lama disini, Mas. Aku sangat merindukan orang tuaku," lanjutku dengan perasaan teriris.


Aku bangkit dari posisiku dan menggapai tas yang tak sadar ku geletakan dilantai. Aku benar-benar akan pergi dan tidak akan mengurungkan keinginanku.


"Assalamualaikum...!" Aku mengatakan kalimat perpisahan untuk terakhir kalinya pada mereka lalu mulai melangkah melewati Mas Roland dan Kia yang akhirnya bergeser dari tempatnya memberi ruang untuk aku membuka pintu.


Setibanya di perbatasan pelabuhan merak. Aku segera membeli tiket untuk menumpangi kapal very. Aku tinggal di Oku Timur. Tentu perjalanan akan sangat melelahkan untuk tiba disana.


"Assalamualaikum...!" Aku mengucap salam saat tiba diambang pintu.


"Wa'alaikumsalam...." jawab mereka kompak. "Nai, akhirnya kamu pulang juga Ibu pikir kamu memutuskan untuk tetap tinggal dirumah Bosmu," tutur Sang Ibu seraya memelukku. Aku juga menyalami Ayah dan Bang Gino.


"Iya tu, dua hari lalu Roland datang kesini hendak melamarmu pada Ayah dan Ibu," timpal Bang Gino bersuara.

__ADS_1


Aku hanya memandang sinis ke Bang Gino lalu menjelaskan pada Ayah dan Ibu bahwa aku yang sudah sering mengalami gagalnya perjodohan ini ingin memantapkan diri dahulu. Syukurlah Ayah dan Ibu memahami keinginanku.


"Oya, Ana dan Dista. Disini Mbak punya hadiah untuk kalian," ujarku pada kedua adik kecilku yang sibuk menonton tivi.


"Hore, kita dapat mainan," teriak keduanya bersamaan. Ana dan Dista sangat senang. Hari ini adalah tanggal merah jadi aku bisa bertemu mereka lebih cepat dari yang diperkirakan sebab bertepatan dengan libur sekolah.


Aku yang merasa lelah memutuskan membersikan diri dan merebahkan tubuh di kamar. Kupikir aku akan segera tertidur tapi nyatanya aku susah untuk memejamkan mata.


Beberapa waktu kemudian Azan Ashar berkumandang, aku segera beranjak dan mengambil wudhu untuk melaksanakan kewajiban. Walaupun aku bukan ahli ibadah tapi setidaknya aku tidak pernah meninggalkan yang satu itu.


Partama-tama yang aku lakukan dalam sujudku setelah usai mengucapkan salam tahyatul akhir aku merentangkan tangan pada yang maha pemberi kehidupan agar aku mendapat jodoh yang bisa membawaku pada kebaikan dunia wal akherat.


Ya Allah tiada daya dan upaya kecuali semua terjadi atas kehendakmu...

__ADS_1


__ADS_2