
"Apa pun yang akan kau lakukan Ibu akan selalu mendukungmu, nak," jawab Ibu kepadaku. Tentu semua amatlah berharga bagiku karena bagaimanapun do'a Ibu adalah yang terbaik.
"Terima kasih, Bu," kataku seraya memeluk tubuhnya. Aku tak ingin wanita yang sudah nampak tua tersebut kelelahan sedikit pun demi menghidupi dan membesarkan keempat anaknya yang sama sekali belum berkeluarga.
Jujur saja sampai saat ini pun aku tidak pernah tau apakah Bang Gino sudah punya kekasihnya sendiri atau belum. Meski dia sering membuatku kesal. Sebagai adik aku ingin juga melihat Ia memiliki keluarganya sendiri.
"Ya sudah, Bu. Naima mau kepasar dulu mau beli peralatan apa saja yang dibutuhkan," ujarku meminta izin.
"Baiklah, hati-hati ya dijalan!" Ibu tidak pernah lupa untuk mengingatkan aku betapa pentingnya sebuah keselamatan
"Siap, Bu," jawabku dengan semangat yang menggebu.
Dua jam ada dipasar dan mendapatkan segalanya, aku mulai mempersiapkan barang-barang yang hendak kujual di depan rumah. Kecil-kecilan sih, tapi setidaknya ini lebih baik dari pada menganggur.
Sibuk menata semua keperluan dimeja, Elsa dan Riska berkunjung kerumahku. Seperti biasa kedua temanku itu orangnya sangat asyik.
"Nai, jualan ni ceritanya?" Elsa mengamati satu persatu apa yang aku kerjakan.
__ADS_1
"Iya, Sa. Aku gak betah kalau diem aja," jawabku santai.
"Eh, gimana? kamu sudah kenalan sama cowok kemaren, aku kepo ni?" Tanya Riska. Aku dapat melihat rasa penasaran didalam bola matanya.
Aku hanya tersenyum menimpali ucapan Riska. Sebab, aku merasa belum mengenalnya sama sekali.
"Ih, kamu ini. Dia tu semalem mintak nomer hape kamu sama pacar aku?" ujar Riska sewot. "Kayaknya dia naksir deh sama kamu," imbuhnya lagi.
Oh, jadi nomer semalem adalah nomer cowok itu...
Barulah aku peka jika ada yang chat aku dengan nomer baru dan kejadiannya memang semalam.
Jadi namanya Nugi.
Aku terus menimpali didalam hati dan membiarkan mereka mengobrol sendiri sesuka mereka.
"Iya Sa, kamu bener. Cowok aku cerita kalau Nugi itu sangat baik. Dia suka membantu orang yang membutuhkan pertolongan di manapun dia berada."
__ADS_1
Keduanya bertukar obrolan. Karena sampai saat ini aku memang sedang belajar menata hidup agar tidak lagi dianggap bodoh.
"Kak, mau beli buku gambarnya berapaan?" tanya seorang anak kecil berjenis kelamin laki-laki yang membuyarkan permikirin otakku yang kotor ini.
"Empat ribu dek, kamu mau yang mana?" Aku tersenyum kearahnya.
"Yang ini aja." Dia memilih gambar Spiderman di bagian sampul. Maklum kan dia jagoan begitu pikirku.
"Ini Kak, uangnya." Bocah itu menyerahkannya uang pas ketanganku dan berlari begitu saja.
"Alhamdulilah," ucapku selalu bersyukur. Dihari pertama kerja aku sudah mendapatkan satu pembeli.
Malam hari, seperti biasa tak lupa aku mengerjakan sholat isya sebelum tidur. Tidak berapa lama kemudian ponselku berdering lagi. Gegas ku lipat mukenaku dan segera memeriksa isi didalamnya.
Assalamualaikum, Ukthi. Sedang apa sekarang?
Wah, yang benar saja. Nomer itu adalah nomer yang sama seperti kemaren. Pasti yang dimaksud oleh Riska adalah orang ini. Aku jadi ikut penasaran dibuatnya tapi aku tidak punya keberanian untuk membalasnya.
__ADS_1
Lagi-lagi pesan itu hanya kulihat saja, pasti pemuda itu mengira aku sangatlah sombong. Biar saja, aku memang masih tetap pada pendirianku untuk belajar lebih baik lagi mengenal sosok laki-laki yang ingin mendekatiku.