
Sejenak Mas Nugi menatap Mas Dikha. Aku jadi ikut-ikutan melihatnya.
"Dikha, aku bisa minta tolong 'kan? rumahmu dan Naima tidak terlalu jauh. Kau_?" ucapan Mas Nugi terpotong.
"Tidak masalah, asal Naima tidak keberatan," sahut Mas Dikha tanpa membiarkan Mas Nugi menyelesaikan ucapannya.
Huh...!
"Syukurlah, aku titip ya!" ujarnya lagi, emang dia pikir aku barang apa dasar Mas Nugi.
Tak lama kemudian, Ia memutuskan pergi namun tidak lupa menyalami kami lebih dulu.
"Assalamualaikum...!"
"Wa'allaikumsallam...!" jawab kami kompak.
Kepergian Mas Nugi mendadak menjadikan tempat itu terasa canggung. Entahlah mungkin karena saking lamanya kami tidak bertemu kali ya? dulu semasa SMP aku dan Mas Dikha sangat dekat. Tapi balik lagi, itukan hanya sekedar cerita masa lalu.
"Kalian sudah selesai?" tanya Mas Dikha karena melihat mangkok kami sudah kosong.
__ADS_1
"Sudah, Mas. Alhamdulilah," jawabku. Kami pun pulang dengan berboncengan dan Loli duduk ditengah tentunya. Selama diperjalanan, kami hanya saling diam. Tak banyak yang kami obrolkan hingga Mas Dikha menurunkan aku didepan rumah.
"Mampir dulu, Mas," kataku basa-basi. Padahal aku gak nyaman juga kalau Mas Dikha beneran berhenti.
"Gak usah, aku langsung pulang saja. Terima kasih tawarannya, Nai. Assalamualaikum...!"
"Wa'allaikumsallam," jawabku melihat Loli yang pindah duduk didepan.
Kepergian mereka membuatku merasa ada yang aneh. Aku sangat senang bisa bertemu Mas Dikha lagi setelah sekian lama perpisahan kami.
Malam hari aku dan keluarga makan bersama dan itu selalu menjadi rutinitas kami sehari-hari.
"Iya, Nai. Kamukan sering jalan sama Nugi takut fitnah nanti." Mas Gino menambahi.
Aku memasang wajah kikuk, bagaimana aku menjelaskan pada mereka jika Mas Nugi belum mengatakan apapun padaku. Pernah sekali Mas Nugi membahas itu tapikan aku tidak bisa berharap banyak sebelum kesampaian.
"Sabar, Ayah," kataku. "Mungkin Mas Nugi masih butuh waktu untuk memantapkan hati," lanjutku lagi.
"Iya, tapi jangan lama-lama dong. Lebih cepat kan lebih baik," sahut Ibunda tercinta.
__ADS_1
Aku hanya menghela nafas panjang. Bingung harus bilang apa jika sudah seperti ini.
Sekitar jam 09.00 malam, aku yang masih mengaji terhenyat mendengarnya. Tapi ku biarkan saja sampai aku menyelesaikan bacaanku.
Setelah melafazkan kalimat syukurku diujung bacaan ayat-ayat Allah tersebut. Aku bergegas meletakkan semua barang ditempatnya. Kuraih ponsel itu karena penasaran, siapa taukan itu datangnya dari Mas Nugi siidaman hati.
Ku baca isi Chat dengan nomer baru. Siapa lagi gerangan orang yang iseng ini pikirku dalam hati.
Rasa penasaran selalu lebih tinggi dari pada rasa cuek. Kuputuskan membuka pesan tersebut siapa tau ada hal yang penting.
Assalamualaikum, Naima. Maaf mengganggu. Ini Dikha, boleh gak kalau aku curhat.
Ha? aku melongo setelah tahu ternyata Mas Dikha adalah pemilik nomer tersebut. Curhat tentang apa ini, kepo juga aku akan ceritanya.
Santai aja, Mas. Mau curhat soal apa?
Aku baru saja diputuskan sama pacarku, rasanya sakit. Aku tidak tahu harus cerita sama siapa lagi kecuali sama kamu. Jujur ya, aku gak bisa seberuntung orang dalam hal berhubungan. Apa aku seburuk itu?
Nah, lo. Jawab apa aku ni. Kasihan banget sih Mas Dikha berarti nasibnya tak jauh beda sama aku.
__ADS_1
Sabar, Mas. Mungkin bukan jodoh.