
Hati-hati banyak cerita fiktif disini. Bijaklah dalam menganalisis dan menela'ah sebuah cerita. Ada hikmah didalamnya yang bisa kita petik sebagai pelajaran...
...šššš...
Sebentar Ia melepas tanganya aku berteriak berharap ada yang menolongku.
"Tolong.. Tolong... siapa kamu kldan mau apa?" tanyaku kasar. Ia melangkah mendekat kearahku lalu membuat tubuhku terhimpit didinding.
"Diam, atau aku akan mencelakaimu," ancamnya menjajakan sebuah pisau kecil kearahku.
Aku hanya bungkam menahan tangis, terlalu takut jika sampai dia nekat melakukan aksinya.
Ia kemudian menjatuhkan tubuhku kelantai, lalu menindihku dengan kasar dan memaksa mengangkat baju gamis yang kupakai.
"Kamu mau apa, Mas?" tanyaku tak berkutik. Tak bisa mengenali wajahnya karena Ia memakai masker.
"Jangan banyak tanya, atau nyawamu melayang," ancamnya lagi sambil menjauhkan pisau dari tangannya. Lalu mulai memasukan miliknya kemilikku.
__ADS_1
ketika Ia yang hanya menepikan kain tipisku di samping dan berusaha mencari jalan aku berupaya mendorongnya. Sialnya, tubuh pria itu sangat kuat dan semakin merapat ketubuhku.
Siapa orang ini, Wajahnya sama sekali tak terlihat olehku. Lekas kutarik maskernya lalu meraba sebuah ranting berukuran kecil yang sengaja kugoretkan kewajahnya sampai Ia memekik.
Bukanya berhenti, Ia malah semakin ganas memompa miliknya kemilikku untuk masuk lebih dalam. Mungkin robek parah didalamnya karena kasarnya Ia berbuat.
Aku cuma bisa merintih sampai Ia menyelesaikan hasratnya melepaskan birahi hingga puas. Usai melakukannya, bergegas pergi tanpa bicara sepatah katapun.
Sungguh aneh gerak geriknya membuat kehancuranku benar-benar datang. Apa dosaku sampai ada yang punya niat merampas tubuh yang selalu ku lindungi ini.
Lalu bagaimana aku harus mengatakan pada Mas Dikha maupun keluarga yang kini sedang menunggu.
Sekitar dua jam meredam rasa sakit di bawah sana barulah aku beranjak, siap tidak siap semua sudah terjadi. Aku bergerak kembali kearah dari mana aku datang bahkan uang yang kubawa tadi tidak tahu kemana perginya.
Langkah lemah dan banjir mata membawaku kembali kehadapan orang tuaku yang duduk dengan wajah lesu diteras.
"Naima, kamu dari mana, ha? kamu mencoba melarikan diri dari sini?" tanya Ayah semakin mengorek luka yang sudah dalam di hatiku.
__ADS_1
Ibu yang iba segera memelukku.
"Cukup, Yah. Naima pasti telah terkekang oleh perjodohan yang selalu Ayah rencanakan. Lihat, anak Ibu sangat berantakan!" Ibu membenahi kerudung yang tidak berbentuk dikepalaku.
"Maaf Yah, Bu. Nai tidak bermaksud mengecewakan. Nai tahu sudah salah," kataku yang kembali menitikan air mata.
Bang Gino muncul dan mengamati keadaanku. Ia melebarkan matanya melihat sebagian bajuku mengalami robek.
"Nai, kamu habis apa, Nai?" Bang Gino menjimpit wajahku dan memeriksa secara detail. "Ja_ Jangan bilang a_ ada yang menyakiti kamu tadi. Siapa orangnya bilang sama Abang!" Bang Gino berkata dengan emosi.
Aku menggeleng tak berani mengaku. Hanya air mata yang banjir membasahi pipiku.
"Nai, bilang sama Abang jangan nangis!" sentak Bang Gino membuatku semakin takut.
"Aku gak tahu, Bang. Aku gak tahu," kataku kemudian.
"Astaga, apa jangan-jangan. Kami habis bermain dengan lelaki lain. Karena kamu marah sama kami, iya? jawab pertanyaan Abang. Siapa pemuda yang sudah membuatmu lupa akan iman, Nai?" cecar Bang Gino lagi.
__ADS_1
"Aku habis diperko_sa, Bang dan aku tidak tahu orangnya," jawabku akhirnya hingga air mata ini semakin tumpah. Gegas aku berlari kekamar dan menguncinya dari dalam