Cinta Di Balut Luka

Cinta Di Balut Luka
Bab 47


__ADS_3

Seminggu Kemudian


Pov Naima


Hari ini aku merasa sangat puas, meski Mas Dikha telah merampas tubuhku lebih dulu, aku bangga padanya. Paktanya, dia akhirnya mengakui semua kesalahannya.


Feeling ku yang selama ini mengira dia adalah Ayah anakku, tidak salah. Ya, karena Mas Dikha telah memiliki hati dan diriku. Maka aku sudah menetapkan pilihan padanya agar tidak ada yang melihat kehormatanku selain dirinya.


Yang kulihat dari diri Mas Dikha juga sangat banyak dan itu adalah nilai plus yang selalu menjadi kekagumanku.


Bayi mungil yang masih dalam pangkuanku tersenyum, mungkin Ia tahu bundanya tak lagi stress akan sesuatu. Ia juga mungkin tahu akan kehadiran Ayahnya yang sebentar lagi akan berkumpul bersama kami.


"Kita akan bersama Ayah, nak!" kataku sembari ku kecup pipinya yang menggemaskan itu. "Kini saatnya, kamu akan mendapatkan nama yang akan melekat abadi di dalam dirimu.


"Assalamualaikum..!" Suara Mas Dikha terdengar dari ruang tamu. Segera aku membawa dedek kedepan dan menyambut kedatangannya.


"Mas..." Kataku. Belajar mencium punggung tangannya mulai sekarang. Kelak, aku ingin menjadi istri yang berbakti padanya dan tidak boleh meninggikan lisan dihadapannya.

__ADS_1


"Wa'allaikumsalam, Aby," jawabku atas nama dedek. Biarlah penuh dosa, semoga Allah mengampuni kekhilafan kami.


Aku kemudian mempersilahkan Mas Dikha duduk dan menyerahkan dedek kepangkuannya agar aku bisa membuatkan segelas teh untuk menemani obrolan kami.


"Dedek, sudah bujang ya sekarang. Semoga jadi anak yang Sholeh ya, Nak. Maaf jika Aby belum bisa menjadi panutan untukmu," katanya kudengar jelas dari ruang tengah. "Ayah sudah menyiapkan nama untukmu, dan semoga nama ini juga bisa menjadikan kamu anak yang cerdas, Aamiin," sambungnya lagi membuatku tersenyum.


"Mas, ini tehnya," kataku, meletakkannya didepan Mas Dikha.


"Nai, Mas mau bilang. Kalau pernikahan kita akan dipercepat. Semalam Ayah datang kerumah dan sudah menetapkan waktunya," ujarnya tersenyum.


"Iya, Mas. Nai juga sudah dengar dari Ayah," jawabku balas mengembangkan senyum.


"Kenapa Mas Dikha bertanya begitu? Nai, sangat yakin akan pilihan Nai. Mas Dikha mungkin pernah berbuat salah, tapi aku yakin Mas Dikha sebenarnya adalah pria yang baik dan mampu membimbing Nai dan dedek kejalan Allah."


Kuperjelas semuanya supaya Mas Dikha tidak terus meragukan ucapanku.


"Makasih ya, Nai. Aku tidak tahu apa yang terjadi jika aku sampai kehilangan kamu," katanya nanar, membuatku tertegun.

__ADS_1


"Mas, jodohkan sudah ada ngatur. Aku tidak takut apapun asal Mas Dikha selalu ada bersama Nai dan dedek," jawabku lagi.


"Tapi Nai, soal keadaan Mas?"


"Mas, jangan takut akan rezeki Allah. Naima tidak masalah hidup seadanya asal kita selalu berserah diri sama Allah dan menjalani semuanya bersama-sama," jawabku lagi memotong kalimatnya.


"Wanita idaman," coletehnya, hingga aku tersipu.


"Aby, lalu kapan nama itu di kasih tahu ke Bunda?" tanyaku menggoda.


"Oh iya sampai lupa, maafin Aby, Nak," ucapnya lagi lalu mencium pipi dedek kemudian menoleh kearahku.


"Aku beri nama dia sederhana saja, Nai. Diambil dari para nama Nabi dan Rosul Allah yang tercinta."


"Aduh, siapa Aby. Dedek gak sabar mau dengar?" Aku kembali menggodanya.


"Muhammad Yusuf Al fajri," jawabnya sangat bahagia.

__ADS_1


"Wah, keren Aby. Dengan begitu, kita akan selalu mengingat nama-nama para nabi dan Rosul Allah," timpalku lagi memainkan jari jemari Yusuf, ya nama itu akan menjadi panggilan untuknya.


__ADS_2