Cinta Di Balut Luka

Cinta Di Balut Luka
Bab 49


__ADS_3

"Yang kenyang ya, Dek. Semoga kelak Yusuf selalu berbakti sama Bunda. Lihatlah, bunda sudah mengorbankan hidupnya untukmu!" Mas Dikha mengusap pipi Yusuf dengan tulus.


"Aamiin, Insya Allah Aby," jawabku mewakili.


"Nai...! makasih ya sudah mau memilih Mas menjadi suami, Nai. Meski Mas tau, tidak sepantasnya itu menimpa dirimu," sesalnya sendu.


Cepat kugenggam tangannya, agar Ia tidak mengingat hal itu lagi. "Mas, biarlah itu menjadi masa lalu. Aku yakin Allah akan mengampuni kita selama kita berniat untuk menjadi orang yang lebih baik lagi," kataku mengingatkan. Tidak ingin, melihatnya terus meratapi kesalahan yang sudah terlanjur terjadi.


"Sekarang kita fokus saja dengan masa depan Yusuf, aku mencintai mu, Mas. Dengan atau tidak nya kejadian itu," kataku jujur.


"Makasih, Sayang. Aku munafik, ketakutanku telah membutakan mata hatiku," ujarnya, mencium punggung tanganku.


Aku mengangguk, bagiku sekarang adalah melakukan perubahan. Tentu semua itu harus dengan perasaan yang penuh semangat dan saling mendukung.

__ADS_1


Beberapa saat berlalu, Yusuf kembali tertidur pulas, dan malam ini adalah malam pertama kami tidur bersama. Kami pun merebahkan tubuh diatas ranjang tapi kami masih saling diam. Tidak tahu, apa yang ada dalam pikiran Mas Dikha. Mungkinkah Ia menginginkanku seperti malamnya orang-orang yang baru menikah atau tidak.


Sadar diri, jika aku juga sudah tidak perawan lagi. Pasti hambar rasanya. Ah, entahlah pikiranku berkabut. Gentayangan kemana saja memikirkan sesuatu yang tidak jelas. Berkelana sampai ke negeri antah-berantah.


Tiba-tiba Mas Dikha mengambil posisi miring kearahku yang tidak sadar sedikit tersentak.


"Maaf, Mas," kataku tidak ingin Ia berprasangka buruk.


Tapi aku sendiri akan merasa berdosa untuk itu, tentu butuh waktu yang panjang bagi Seorang pria berada di momen ini. Dimana seluruh pria dimuka bumi selalu menantikan istrinya ingin Ia puja.


"Tidak, Mas," kataku. "Lakukan saja, karena itu kewajibanku," imbuhku yakin. Aku juga salah satu wanita yang ingin mendapatkan ridho dari suami. Patuh dan berbakti harus aku lakukan dengan ikhlas dan sepenuh hati.


Mas Dikha mengembangkan senyum lagi, sepertinya Ia senang akan penuturanku.

__ADS_1


"SubhanaLLah, sungguh ini adalah hadiah terindah bisa mendapatkan wanita yang Sholehah. Suka rela memberikannya tanpa diminta," ungkapnya penuh takjub.


Kami pun mendudukkan diri bersama. Pelan namun pasti, Mas Dikha memulainya dengan menyentuh pundakku lalu menuntunkan membaca Doa sebelum ritual suci tersebut.


Tapi sebaik apa pun aku tenang, tak bisa ku pungkiri kalau aku sangatlah gugup. Nafasku terasa berat, bahkan aku kesulitan menetralkannya.


"Jangan tegang ya, kita lakukan dengan pelan," ujarnya, setelah rapalan doa yang kami panjatkan usai. Memohon agar hubungan kami selalu dalam lindungan Nya dari sesuatu keburukan.


Mas Dikha menyingkap rambutku yang terikat keatas, kemudian menyelusup di bagian jenjang leherku. Ya Allah, aku merasa terhanyut, ini adalah pengalaman baru. Walaupun Mas Dikha pernah melakukannya, namun tak setulus ini. Bisa kurasakan caranya dalam setiap sentuhan.


Mas Dikha berpindah, bibir kami saling menyatu dan sensasi baru semakin merekah. Menyatukan peraduan yang indah namun berkah, juga penuh kenikmatan didalamnya. Kekosongan hati kami kini saling terisi lewat gerakan tubuh yang semakin pasrah dalan kungkungan cinta. Tubuh ini, sudah tidak malu seperti tadi setelah hanya meninggalkan gesekan kulit yang terlepas dari penutupnya.


Ya Allah, berikan kami keturunan yang Sholeh-Sholehah

__ADS_1


__ADS_2