
Hari ini sekitar pukul 04.00 sore, aku mulai mengajari anak-anak mengaji, kami akan memilih duduk di teras. Tapi saat hendak memulai membaca basmalah.
Bu Ida datang dan meminta kami pindah ke Pavilliun di samping rumah Bu Ida.
"Ayo ajak mereka kesana, Nai. Masak ngaji diluar, kasihan terlalu lama terkena angin," tutur Bu Ida yang mengulurkan kunci padaku..
"O iya, Bu," jawabku langsung. Kuterima uluran kunci dari Bu Ida dan kami pun berpamitan kesana.
Saat Pintu terbuka, aku sangat terkejut. Banyak barang-barang berharga ditempat itu. Aku takut jika barang-barang tersebut hilang nantinya.
Meski kuteruskan mengajar, aku tetap tidak tenang. Baik rumah maupun perabotnya Bu Ida adalah barang-barang berharga yang tidak ternilai.
"Oke, adek-adek sekarang baca Al-Faatihah dulu ya," ujarku pada keempat anak-anak itu.
"Baik, kak."
Bismillahir rahmanir rahim...
Alhamdu lillaahi rabbil 'aalamiin
Arrahmaanir rahiim
Maaliki yaumiddin
Iyyaaaka na 'budu wa iyyaakaa nasta 'iin
__ADS_1
Ihdinash shiraathal mustaqiim
Shiraathal ladzina 'an 'amta 'alaihim qhairil maghdhuubi 'alahim waladh dhaalliin
Aamiin...
(Maaf ya berhubung authornya gak tahu cara nulis arab menggunakan ponsel jadi kita tulis latinnya aja. Semoga yang aku tulis ini di baca oleh semua pembaca dan bermanfaat untuk kita semua)
Kami pun melanjutkan membaca Iqro dimulai dari yang Pertama. Kia jadi yang pertama karena ia yang memintanya.
Semua itu terjadi secara bergiliran, hingga akhirnya acara berakhir pukul setengah enam sore. Mereka menyalamiku dan pamitan pulang.
"Kak Nai, makasih ya udah ajarin, Kia dan temen-temen ngaji. Aku seneng deh ada Kak Nai disini?" kata Kia manja.
"Ya udah ayo kita pulang!" ajakku padanya. Setelah mengunci pintu tiba-tiba Mas Roland ada di belakang kami.
"Kia di panggil Mama," ujar Mas Roland memberi tahu.
"Asyik, Mama udah jemput. Aku pamit ya Kak Nai," pamit bocah itu lagi. Ia segera berlari kerumah utama dengan riang.
Aku mengulum senyum, entah kenapa aku gemeteran kalau hanya berdua sama Mas Roland ditempat sepi.
"Nai...!" ujar Mas Roland.
Aku hanya menimpali dengan senyuman.
__ADS_1
"Iya Mas," jawabku pelan. Aku terus saja gugup melihat wajahnya jadi kuputuskan untuk menunduk.
"Terima kasih ya sudah mau mengajari anak-anak mengaji, aku senang bertemu denganmu," ujarnya seolah benar-benar bahagia.
"Santai saja, Mas. Aku senang mereka punya semangat yang tinggi," jawabku kemudian.
"Emm...!"
Nampaknya Mas Roland ingin mengatakan sesuatu. Jantungku kian berdetak menunggu kelanjutannya.
"Oh iya maaf Mas, aku buru-buru. Aku belum menyiram bunga dihalaman," ujarku beralasan dan hendak pergi lagi-lagi Mas Roland mencegahku.
"Gak perlu," jawab Mas Roland.
Aku terkejut dan akhirnya menghentikan langkah.
"Bisakah kita mengobol, Nai?" kata Mas Roland.
Srrr!
Sesuatu menjalari tubuhku. Astaga, apa ini. Jangan sampai Mas Roland menyadari ketakutanku padanya. Terus terang aku risih jika Mas Roland mendekati aku seperti ini.
"Nai, anggap saja aku teman. Kau tidak perlu merasa sungkan terhadapku," ujarnya. Ia pasti bisa menebak dari caraku terhadapnya.
Aku pun berbalik dan mengangguk. Kusunggingkan senyum kaku padanya.
"Iya, Mas," jawabku malu.
__ADS_1
Mas Roland tampan dan baik. Terus terang aku tidak memungkiri, hanya karena sering mendengar berita ART diperkosa Bos atau anaknya aku jadi takut jika ada yang mendekati seperti yang dilakukan Mas Roland.