Cinta Di Balut Luka

Cinta Di Balut Luka
Bab 27


__ADS_3

Tak terasa hari hampir Maghrib barulah kami tiba dirumah. Ya, kebersamaan itu membuat kami lupa akan waktu. Bahkan aku belum menanak nasi untuk makan keluarga padahal aku tahu Ayah dan Ibu siang tadi pergi kekebun.


"Assalamualaikum!" salam kami bersamaan.


"Wa'allaikumsalam!" jawab mereka pula.


"Pak, Bu, maaf pulang kesorean," ucap Mas Dikha sambil mencium punggung tangan Ayah dan Ibu penuh hormat.


"Gak papa, Nak. Ayo duduk!" Ayah mempersilahan. "Buatkan koffe, Nai!" titah Bapak beralih kepadaku.


"Oh, tidak usah, Pak. Dikha hanya sebentar saja," jawabnya sopan.


"Oh, begitu. Bagaimana pengalamanmu dipesantren, nak? kudengar kau lama menimba ilmu?"


"Alhamdullah, menemukan banyak hal baru, ilmu baru dan teman baru," jawab Mas Dikha lagi. Aku dan Ibu hanya diam dan menyimak obrolan mereka.


"Baiklah Pak, Bu. Dikha pamit dulu, maaf sekali lagi." Mas Dikha mengucapkan salam dan keluar tak lupa kami menjawabnya.


"Nai, kamu itu ngapain sering jalan sama Dikha, ha? Dia itu cuma teman, gak seharusnya kamu sebebas itu sama dia!" Ayah kelihatan marah.

__ADS_1


"Iya, Ndok. Belum lagi dirumah berantakan, ayam ternak tidak di kasih makan. Ditambah, adik-adikmu pada nangis diluar tadi untung kami cepet pulang," imbuh Ibu sama marahnya.


"Maaf Ayah, Ibu ini semua karena Chelsea," jawabku hendak beralasan tapi disangkal oleh Ayah. Chelsea yang bikin gara-gara Aku dan Mas Dikha jadi sasaran.


"Aku akan menjodohkan kamu sama anak kampung sebelah," ucap Ayah tiba-tiba membuatku terkejut. Kupikir mereka tidak akan lagi punya niat demikian.


"Tapi, Yah_?"


"Tadi Chelsea ada dirumah kok, Ayah liat!" wah, sialan. Anak itu, nyesel rasanya aku mau bantu dia tadi.


"Dan untuk perjodohan nanti malam mereka akan datang meminangmu," kata Ayah lagi.


"Tidak ada tapi-tapian kali ini kamu harus menikah!" Ya Allah, apa lagi ini. Sejak kapan Ayah merembukkan ini sama orang tersebut. Lalu bagaimana caraku mengatakannya sama Mas Dikha.


"Dia adalah Rohman, mereka juga hebat agamanya. Yang paling penting bisa membuatmu hidup enak. Karena Rohman sudah mapan." Ayah menambahi.


Jujur saja, aku belum cerita akan hubunganku dengan Mas Dikha karena mereka pikir aku masih beradaptasi setelah keputusan Mas Nugi waktu itu.


Kalau Mas Rohman aku juga tau orangnya. Tapi belum pernah bertegur sapa secara langsung.

__ADS_1


"Tidak bisakah Ayah mengurungkan niat itu?" kataku memelas.


"Tidak, Ayah hanya ingin kamu terlepas dari pergaulan bebas," tegas Ayah. "Juga memiliki kehidupan lebih baik dari si Dikha yang hanya anak buruh seperti Ayah," lanjutnya.


Astaga, kenapa pula Ayah bilang begitu. Apa sebegitu penting materi bagi Ayah.


Hari yang semakin gelap membuatku was-was akan kedatangan pemuda tersebut dan keluarganya. Tidak tahu apa nanti jawabanku karena tidak ingin membuat malu.


Bingung bercampur resah, aku mencoba memberitahu Mas Dikha tapi hatiku meragu. Tidak ingin rasanya jika harus menyakiti dia.


"Ndok...!" panggil Ibu dari luar.


"Kewarung sebentar, Abangmu belum pulang dari bengkel!"


"Iya, Bu," jawabku malas.


Ibu menyerahkan beberapa uang biru untuk membeli gula, teh dan beberapa snak untuk hidangan tamu. Mereka akan datang pukul delapan malam.


Segera aku melaksanakan perintah Ibu, hanya bermodalkan senter kecil aku pergi menuju warung yang cukup jauh dari rumah dan sebenarnya itu bukan kali pertama.

__ADS_1


Namun saat melintasi antar rumah kerumah sekitar dua ratus meter, sebuah tangan membekap mulutku dan mengungkung dengan erat lalu menyeretku ke sebuah gubuk dibelakang rumah. Aku bahkan tidak bisa berteriak karenanya. Hanya suara samar yang terdengar. Pasti irang tidak tahu meski mendengarnya.


__ADS_2