Cinta Di Balut Luka

Cinta Di Balut Luka
Bab 29


__ADS_3

"Aku akan mencari orang itu, Yah. Bila perlu kita tuntut dia agar mendekam dipenjara!" kata Bang Gino yang masih kudengar suaranya dari bilik kamarku.


"Ayah akan menemui keluarga Rohman untuk menggagalkan rencana kita," kata Ayah lesu. Ia tak lagi marah seperti tadi. Bisa jadi Ayah pasrah akan keadaanku.


"Urus Nai, Bu!" pesan Ayah.


"Iya, Yah."


Gubrak!


Mas Gino menghantam meja.


"Awas saja kalau ketemu orangnya, tidak akan kuampuni dia!" gerutu Bang Gino lagi dengan keras.


Malam itu terasa panjang bagiku, aku sama sekali tidak bisa tidur. Bahkan ingin sekali aku memaki lalu memukulnya sekuatku agar perasaan ini berkurang.


***


Kini hari sudah menunjukkan jam dua siang, seperti biasa aku bergegas berpakaian rapi untuk mengajar anak-anak mengaji di musola. Sebenarnya hatiku belum bersedia untuk datang tapi aku kasihan jika aku tidak mengajar.


Sesampainya dimushola aku bertemu dengan Mas Dikha.

__ADS_1


"Assalamualaikum, Ustadzah," ucap Mas Dikha menyapaku sambil bergurau. Perasaan bersalah akan dirinya bergelantung didadaku.


"Wa'allaikumsalam," jawab ku lirih tanpa berani menatapnya.


"Aku ambil wudhu dulu!" Pamitnya.


"Silakan," balas ku tersenyum.


Saat Mas Dikha membasuh wajahnya dibawah keran air kulihat ada sedikit bekas luka dipipinya, pikiran ku mulai kacau.


"Ah, apa mungkin itu perbuatan Mas Dikha? Tapi mana mungkin, rasanya mustahil jika Ia menggagahi ku, Beliau adalah ahli Agama," pikirku kemudian. Setelahnya kutepis jauh-jauh prasangka buruk itu agar aku tidak salah orang.


"Ah, mungkinkah ahli ibadah itu berzina," begitu lagi pikirku.


"Nai, mari!" Panggilnya, membuyarkan lamunan ku.


Aku pun, akhirnya ikut nimbrung dan mulai mengajar, kami sangat sibuk mengajar anak-anak secara bergilir, hingga selesai pukul empat sore.


Anak-anak berpamitan pulang sedang aku menggulung tikar yang menjadi alas duduk untuk dibereskan, dibantu Mas Dikha tentunya. Mas Dikha menumpuk meja yang biasa kami pakai untuk meletakkan kitab suci Al Qur'an dan iqro.


"Dek, ayo pulang bareng!" Ajaknya kemudian setelah aku menyapu bersih lantainya. Rumah kami saling berdekatan, tentu wajarlah dia mengajak pulang bersama.

__ADS_1


"Iya Mas," jawab ku.


Kami pun pulang dan berjalan beriringan.


"Oya semalam ada yang melamarmu ya?" Tanya nya tampak ingin tahu hingga membuatku membelalakkan mata.


Aku terdiam, bingung. Harus menjawab apa pada Mas Dikha. Sedang status kami masih belum putus.


Mana mungkin juga beliau belum mendengar kegagalan lamaran itu tadi malam apa lagi rumah kami tidaklah jauh.


"Mungkin belum jodoh Mas," jawab ku berusaha tenang.


"Iya mungkin, hanya aku yang boleh bersamanya " jawabnya mengulum senyum. Aku kembali mendengarkan. apa maksud Mas Dikha bicara begitu. Aku merasa, Mas Dikha nampak senang mendengar kegagalan perjodohan ku.


"Maksud Mas Dikha apa ya?" Tanya ku menelisik.


"Ya, rasanya aneh saja kamukan pacarku kenapa orang tuamu masih saja mau menjodohkanmu," jawabnya sembari tersenyum.


Senyum manis itu lah, salah satu yang membuat ku menyimpan rasa kagum pada Mas Dikha.


"Iya Mas, siapa sih yang mau dengan orang yang akhlak nya buruk seperti aku kalau tidak dicarikan oleh orang tua. Akupun ragu akan ketulusan Mas Dikha," ucapku getir disisipi rasa tak lagi percaya diri demi melindungi keburukan orang tuaku.

__ADS_1


__ADS_2