Cinta Di Balut Luka

Cinta Di Balut Luka
Bab 34


__ADS_3

Pov Rohman


Ku sandarkan tubuh yang terasa sangat lesu di kursi yang terletak di tepi kolam. Sulit sekali rasanya perjuanganku selama ini untuk mendapatkan hati Naima.


Ku usap wajahku dengan kedua telapak tangan lalu ku tendang kerikil yang tergeletak di bawah kaki ku hingga masuk kedalam air.


Air kolam itu begitu hening, tetapi hatiku merasakan risau. Aku tak menyangka jika Dikha yang setau ku selama ini adalah rekan Naima mengajar mengaji ternyata juga punya niat yang sama denganku.


Mengingat kepandaian dalam urusan agama tentu aku sangat jauh berada di bawah dirinya.


"Haruskah ku urungkan niatku ini. Meminang Naima juga tak semudah harapanku," guman ku kacau.


"Bang..!" panggil Sonya adikku.


Aku menoleh kearahnya, wajahnya tampak terlihat sedih. Usia Sonya sekitar tujuh belas tahun lebih muda tujuh tahun di bawahku. Dia adalah orang yang sangat menginginkan Naa menjadi Kakak iparnya.


Adikku Sonya lah awal mula aku mengenal Naima. Pertemuan pertama kami membuatku langsung jatuh cinta pada Naima pada saat pengajian. Pastinya aku hanya bisa melihatnya dari kejauhan.


Rasa sakit ku telan dua kali dengan kesabaran, pertamanya saat aku meminangnya beramai-ramai bersama sanak keluarga maupun tetangga dekat kami. Yang kedua adalah sekarang.


Pupus sudah keyakinan ku untuk berjuang memiliki wanita yang Tuhan ciptakan begitu sempurna itu. Meski hanya apa adanya dalam berpakaian tapi tak mengubah kecantikan wajahnya.


"Aku sudah dengar dari Mama, Bang. Apa itu artinya Abang akan menyerah?" tanya Sonya ingin tahu.


Ku ukir senyum terindahku, mengacak-ngacak rambut juga adalah kesukaan ku.


"Abang, sakit tauk!" sungutnya marah.


Aku tak perduli kan ucapanya, aku segera bangkit dan membersihkan diri.

__ADS_1


"Bang, kau belum menjawab pertanyaan Sonya?"


Wah, rupanya adikku tengah memaksa untuk mendapat jawaban dari ku.


"Kau masih terlalu kecil, Sonya. Kau akan tau perjuangan Abang nanti," pungkas ku kemudian diselingi kekehan kecil.


Usai mengerjakan sholat Isya, aku meraih ponselku. Ku kirim pesan singkat pada Kanaya. Setelah ini, aku pastikan kami akan lama tidak bertemu.


Assalamualaikum...


Sepenggal pesan yang tidak yakin akan di balas oleh Kanaya.


Aku ingin mengatakan, kalau besok kami harus pergi untuk urusan yang lebih penting. Ini semua menyangkut keselamatan Sonya adikku.


Wa'alaikumsalam, Mas...


Aku : Dek, Mas mau minta izin. Besok Mas dan keluarga akan pergi keluar negeri...


Kanaya : Mas mau pindah?..


Aku : Tidak, tapi Mas yakin. Kami akan lama disana.


Kanaya: Tapi kok Mas gak bilang apa pun tadi.


Aku : Aku gak ingin Fahmi mendengar perkataan ku.


Kanaya : Apa ada urusan yang sangat penting, Mas?


Aku : Kami pergi untuk mengobati adikku Sonya.

__ADS_1


Kanaya : Sonya sakit, Mas.


Aku : Iya, kami berencana membawanya ke tiongkok agar mendapat pengobatan tradisional.


Kanaya : Semoga Sonya lekas sembuh, Mas.


Aku : Temui Mas di bandara besok, ya. Mas mohon.


Kanaya : Tapi Mas.


Aku : Mas mohon, Dek. Ini untuk terakhir kalinya sebelum aku pergi.


Lama aku menunggu balasan terakhir dari Naima, mungkin Ia menolak memenuhi permintaan yang mustahil ini dari ku.


Maaf, Kan. Mungkin aku terlalu kebawa perasaan.


Aku sangat merindukan mu. Sudah tiga bulan kamu mengurung diri di dalam kamar. Bahkan pertemuan semalam pun amatlah singkat.


Kanaya : Insya Allah, Mas. Tapi Naima tidak berjanji.


Assalamualaikum.


Akhirnya aku mendapat jawaban darinya. Tapi kalimat itu membuatku mati rasa.


Malam semakin larut, akan tetapi aku tidak bisa tidur.


Selama mengenal Naima aku belum mengatakan apapun pada Naima keadaan Sonya. Seandainya saja Naima menerima pinangan ku. Aku berniat mengajak nya untuk ikut pergi bersamaku.


Selain berobat kami bisa berbulat madu, bukan? Ah, lagi-lagi ini begitu perih rasanya.

__ADS_1


__ADS_2