
Sore harinya, seseorang mengetuk pintu saat Mas Dikha masih menyuapiku. Ya, dia adalah pria lembut yang menyenangkan.
"Nai, gimana kabarmu?" Rupanya Bang Gino sudah tahu kalau aku ada disini. Dia mengamati Mas Dikha yang tertunduk malu akan tatapannya.
"Ini ya bayimu, laki-laki atau perempuan, Nai? lucu sekali?" Bang Gino pura-pura tidak perduli dan membiarkan Mas Dikha menyelesaikan kegiatannya hingga makanan dipiring habis ku lahap.
"Laki-laki, Bang," jawabku, menyunggingkan senyum.
"Makasih ya, Dikh. Sudah membantu menyelamatkan Naima dan bayinya!" ujar Bang Gino lagi.
"Sama-sama, Bang," timpalnya pula dengan ramah. Ini adalah pemandangan yang sangat aku suka. Berharap jika nanti aku bisa memiliki cinta dan kasih sayang yang utuh baik dari keluarga maupun calon suamiku nanti.
Ah, itu hanya sekedar harapan. Tidak tahu jika takdir berkata lain begitu pikirku.
Malam itu kami lewati bersama, Bang Gino juga sudah menelpon Ayah dan Ibu agar segera pulang kerumah untuk mengetahui kondisi aku dan cucu mereka.
Disudut kursi dalam ruangan itu, Bang Gino nampak gelisah. Ia pasti ragu akan sesuatu yang ingin Ia katakan.
__ADS_1
"Dikha...!" panggilnya lirih.
"Iya, Bang. Aku boleh titip, Naima lagi?" tanya Bang Gino. "Aku mau menemani adik-adik dirumah, takut mereka tidak berani," imbuhnya.
"Oh, gak papa, Bang. Santai saja, jika Abang mempercayaiku," jawab Mas Dikha sumringah.
Tak menampik, jika aku senang mendengar ucapannya. Dia memang pria yang bertanggung jawab. Aku berharap bisa hidup dengan pria seperti dia nanti.
Walau aku tahu Mas Rohman tak kalah baiknya. Ia selalu memberi aku kabar selama bepergian. Padahal biaya telpon luar negeri tentu tarifnya sangat berbeda.
Mas Dikha hanya tersenyum sembari mengangguk. Bukan perkara mudah melaksanakan ucapan Bang Gino. Sedangkan Mas Dikha bolak-balik menggendongku tanpa bisa kutolak sedikit pun.
"Maaf, sudah merepotkan dirimu, Mas," kataku lagi setelah Bang Gino keluar.
"Sudahlah, Nai. Kamu santai saja. Ini hanya sebagian kecil yang tidak berarti apa-apa," jawabnya.
Khek!
__ADS_1
Bayi mungilku menangis di dalam ranjang bayi. Mungkin dia sedang BAB atau BAK hingga seluruh tubuhnya basah. Mas Dikha sangat cekatan. Ia langsung memeriksa dan mengganti popok sang bayi yang belum kuberi nama itu.
"Apa kau mau memberinya_?" Mas Dikha ragu hendak mengatakan arah tujuannya yang sudah mengerti. Aku pun mengangguk. Diangkatnya bayi itu tanpa canggung lalu di letakkannya diatas pangkuannya.
Sesudahnya Ia memilih duduk dikursi tanpa mau menoleh lagi untuk menghindari melihat aku tengah menyusui anakku. Tak sadar, air mata ini meniti membasahi popok bayiku.
Malang sekali nasibnya, mengapa dia hadir tanpa ada pernikahan lebih dulu dari orang tuanya. Harusnya dia terlahir dari perbuatan yang indah bukan suatu dosa yang tidak terampunkan.
"Maafin Bunda ya, nak? harusnya kau lahir dalam sebuah doa bukan lahir dari sebuah kutukan," ucapku tiba-tiba hingga terpaksanya Mas Dikha menoleh.
"Jangan bicara begitu, Nai? Sesuatu yang terjadi mungkin adalah dosa. Tapi tidak sepantasnya kau mengatakan itu pada bayi suci ini," timpalnya.
"Tapi Nai merasa begitu, Mas," kataku menyangkal.
"Sudahlah, tidak perlu memikirkan sesuatu yang membebani otakmu," ujarnya setengah marah. Ia mengambil alih bayi mungil yang kembali tertidur.
"Ayo tidur, ini sudah malam!" Ia mengatur bantal dikepalaku agar sandaran ini terasa nyaman untukku.
__ADS_1