
"Masih ada urusan dek, kerumah Pak Lurah," jawabku, sembari mengusap pucuk kepalanya.
"Kalau gitu ayok, kita periksa, Mas." Naima, terus merengek agar aku mau menurutinya.
"Tapi, dedeknya gimana, Sayang? kasihan ditinggalin," kataku tidak tega, maklumlah Yusuf masih baru berumur dua belum itu pun belum genap.
"Udah, kamu tenang aja Dikha. Biar Ibu yang urus," ujar Ibu mertuaku, beliau sungguh pengertian terhadap kami. Semakin mengenal mereka, rasanya aku sudah melakukan hal benar mengenal mereka.
"Tu kan, Ibu mau. Ayo Mas, darahnya makin banyak!"
"Iya, Sayang. Bu kami pergi sebentar ya!" kucium punggung tangan mertua diikuti istriku dan bergegas berangkat dengan menggunakan motor bebek milik Bang Gino.
Setibanya di puskesmas, Naima yang tidak sabar terus memapahku.
"Bu, tolong Bu!" ujarnya buru-buru.
"Lo ini kenapa, Bu?" tanya seorang bidan.
__ADS_1
"Ini, Bu. Ada yang nyerang dia tadi," jawab Naima sedikit cepat, kurasa dia makin panik melihat wajahku memucat.
"Ayo, Bu. Bawa kemari!" Bu Bidan menggiring kami kesebuah ruangan. Lekas mengambil beberapa alat yang digunakan lalu menggulung bajuku yang sudah basah.
"AstaufiruLLah, lukanya ngeri begini, Pak. Kok kejam amat sih yang nyerang," kata Bu bidan tercengang, sambil sibuk membersihkan lukaku, entah dengan apa. Saat benda itu menyentuh, seakan sakitnya berangsur-angsur menghilang.
"Untung, gak fatal. Mudah-mudah cepat mengering." Bidan itu menempelkan sesuatu kelenganku yang terluka lalu mengelemnya dengan perekat.
"Apa suami saya baik-baik saja, Bu? wajahnya sangat pucat?" tanya Naima, Ia masih terlihat belum tenang.
"Baik, Bu. Saya jadi tenang kalau Mas Dikha gak kenapa-napa. Ngeri lo Bu ngeliatnya," tukas Naima, mulai curhat ni ye tuturku dalam hati.
"Ya udah, Sayang. Ayo pulang!" ajakku untuk mengakhiri obrolan kami yang bisa saja merambat kemana-mana nanti.
"Berapa, Bu?" tanya Naima, setelah membantuku berdiri. Istri idaman memang, aku selalu terkesan akan perlakuannya.
"Rp 50 ribu aja kok, Bu," jawab Bu bidan itu sembari menyerahkan beberapa obat. "Ini diminum ya, biar nanti gak akan terasa sakit," imbuh nya kemudian.
__ADS_1
"Oke, Bu. Siap," jawab Naima, keduanya bertukar barang dan Uang lalu kami pun kembali kerumah. Lagi-lagi Naima yang menyetir motor karena mengkhawatirkan kondisiku.
"Bang, apa masih terasa sakit?" tanyanya, saat kami masih diatas motor.
"Kamu takut ya, Nai," ucapku meledek.
"Ih, Mas Dikha. Kitakan baru sehari menikah. Mana rela aku ditinggal," jawabnya dengan nada manja, dan sangat menyukai itu.
"Jadi kalau Mas sudah tua gak papa gitu," ledekku lirih ditelinganya.
"Ya ampun, Mas. Ya gak gitu juga dong. Mada ada istri yang mau ngeliat suaminya kenapa-napa," celotehnya sedikit ketus.
Aku sangat beruntung, wanita yang sangat spesial ini akhirnya menjadi pendamping hidupku. Anugerahmu sungguh besar Ya Allah. Tak henti-hentinya aku panjatkan rasa syukurkan akan anugerah Tuhan menyatukan kami dalam ikatan yang suci.
"Dek, beberapa lagikan kita akan pindah. Dedek yakin dengan pilihan itu. Nai tahukan, kita pasti akan berpisah dengan orang tu," kataku, tak ingin kelak Ia merasa dipisahkan.
"Ih, Mas Dikha kok mikirnya gitu sih? sekarang kan Naima udah jadi hak nya Mas, jadi Naima sudah pasti akan ikut kemana pun Mas pergi," jawabnya, tersipu.
__ADS_1