
"Aku tidak keberatan akan keadaanmu, Nai," timpal Bang Rohman mendahuluiku. Dia sangat yakin akan perasaanya pada Naima.
Bang Gino menatapku menunggu sesuatu keluar dari bibir ini. Ia sepertinya mendukungku tapi bagaimana reaksinya setelah ini.
"A_ aku akan me_ nye_ rahkan hidupku untuk kamu dan anak kita, Nai," jawabku hingga bola mata mereka tertuju kearahku. Begitu juga Ibu Naima yang berdiri dipintu tengah.
Ekspresi mereka seolah ingin sesuatu yang perlu kuperjelas lebih dalam lagi. Dengan tubuh bergetar aku berdiri dan melangkah mendekati Naima. Ingin ku ungkap semuanya. Sedalam apa rasa cinta ini hingga aku berbuat nekat.
Didepan kedua orang tua Naima, kuletakan tangan ini dikepala Naima sebagai ikrar kejujuran ku pada mereka terlepas apa yang nanti akan terjadi setelahnya maka terjadilah.
Dosa ini benar-benar menyiksaku, setiap saat aku selalu menyesalinya. Tidak ada yang tahu, sajadahku selalu basah oleh air mata akibat perbuatanku padanya.
"Nai, aku ingin mengakui sesuatu!" kataku sembari kupejamkan mata ini hingga air mata tercurah.
"Aku rela dihukum, setelah kukatakan ini padamu. Lakukan saja apa yang ingin kalian lakukan terhadapku. Saat sore itu, dimana aku menjemput dan mengantarmu dari bendungan. Aku mendengar nya, Nai. Jika kedua orang tuamu mau menjodohkan mu dengan orang lain dan tidak menyukai kedekatan kita. Aku sakit, Nai," ujarku jujur. Kuhela nafas sedalam mungkin agar aku bisa melanjutkan perkataanku.
"Aku tahu, aku sangat egois sebagai hamba Allah. Sampai aku melupakan kalau Cintaku harus nya lebih besar Untuk Nya dari pada kepadamu," lanjutku kemudian.
__ADS_1
Mereka menggeleng, pasti tidak mengerti arah ucapannya setelahnya.
"Gelap mata, itu yang terjadi padaku. Karena cinta ini amatlah besar, Nai."
"Apa maksudmu, Dikha? jangan bicara berbelit-belit. Aku tidak suka lelaki lemah," ketus Pak Bakti seraya melotot kearahkum
Kini nyata adanya, Pak Bakti benar-benar tidak menyukaiku.
"Astaga, Dikha. Kalau soal besar, aku pun bersedia mengorbankan nyawa untuk Naima," desak Bang Rohman menambahi.
"Mas Dikha, jangan membuat Nai takut. Mas, mau bicara apa? katakan saja sama Nai dan keluarga," imbuh Naima semakin menguatkan tekadku.
"Apa? kamu serius Dikha?" Bang Gino sangat marah dan mendekat.
"Bajiinngan, rupanya wajahmu saja yang terlihat Sholeh, Dikha," ujar Bang Rohman pula tak terima.
Ku lihat Ayah Naima menggeleng, mungkin tidak mempercayai penuturanku. Begitu juga Naima, Ia telah banjir air mata dihadapanku.
__ADS_1
"Kamu tega, Mas. Kenapa kamu seperti itu. Mana Mas Dikha yamg selama ini Nai puja karena keSholehan dan kebaikan hatinya? Nai kecewa, Mas."
Aku tahu Naima marah, Bang Rohman marah, apa lagi keluarga Naima yang jelas-jelas sangat membenciku. Tapi jika kusimpan sendiri, ini akan menjadi beban dalam hidupku apa lagi jika akhirnya Naima menikah dengan Bang Rohman.
"Brengsek, sini kamu Dikha!" Bang Gino mencekram kerah baju koko yang kupakai dan menarikku keluar rumah dengan bringas.
Bug!
Satu pukulan telak mendarat sempurna diwajahku hingga aku luruh kelantai. Bang Rohman juga sama, dia menghajarku dengan sadis tanpa kulawan.
Pukulan demi pukulan terasa panas dan membengkak diwajahku, Naima terpaku. Ia tidak membelaku, aku menyadari itu. Pasti kekecewaannya begitu besar terhadapku. Ini kesalahanku dan biarlah kuterima walaupun mereka membunuhku nantinya.
"Gino, Rohman ada apa ini?" Seluruh warga yang melihat kejadian itu datang berduyun-duyun memenuhi halaman rumah Naima.
"Dikha, Aku tidak percaya kau setega ini. Aku sudah membelamu untuk adikku Dikha. Ternyata kamu hanya bertopengkan agama yang alim tapi tabiatmu sangatlah rendah!" cecar Bang Gino memakiku.
"Bangun!" sentaknya lagi-lagi menarikku seperti hewan.
__ADS_1
"Kita penjarakan saja dia, Yah. Aku rasa dia tidak pantas untuk Naima. Kebaikan nya selama ini juga pasti hanyalah kepalsuan belaka," kata Bang Gino menyarankan membuatku menunduk pasrah.