
Sampai di kota aku sangat bersyukur. Ternyata aku mendapatkan Bos yang sangat baik hati. Bosku itu memiliki dua orang anak yang sudah dewasa jadi aku tak harus repot mengurusnya.
Salah satunya adalah putranya masih belum menikah. Kata Ibu Bos. Itu karena Bang Roland belum menemukan perempuan yang cocok. Sedangkan Kakak perempuannya sudah menikah sejak lama.
Hari ini, cucu Bos yang berusia tujuh tahun dititipkan kepadaku karena kedua orang tuanya hendak pergi bekerja keluar kota. Dari situlah aku mulai merasa risih akan sikap Mas Roland.
Kedua Bosku juga bertepatan tak dirumah. Mereka ada undangan untuk menghadiri sebuah pesta pernikahan.
"Dek, kita main yuk!" ajakku pada Kia. Aku tak ingin berlama-lama di dalam rumah takut juga kan bila bersama pria yang bukan mukhrim.
"Oke, Mbak," jawab bocah tujuh tahun itu antusias.
Kami bermain sepeda. Aku menemani Kia sampai waktu yang tidak kami sadari. Ya, Mas Roland berdiri melipat tangan dan terus memperhatikan ku. Apa gerangan yang ada di otaknya aku pun tidak tahu?
"Nai!" panggilnya.
"Iya, Mas," jawabku.
"Sini!" Mas Roland melambaikan tangan.
Perasaanku mulai campur aduk, antara takut dan gugup. Ini karena Mas Roland nampak begitu serius.
"Ada apa, Mas?" tanyaku setelah mendekat.
__ADS_1
"Buatkan aku nasi goreng, sekarang ya. Aku lapar!" ucapnya di sertai sebuah kedipan mata.
"Oh iya, Mas," jawabku cepat. Ku tundukkan kepalaku karena aku takut melihat wajahnya.
"Kia, ayo masuk!" teriakku.
"Biar Kia sama aku," sahut Mas Roland.
"Oh, baik Mas," jawabku.
Aku pun bergegas kedapur dan membuat nasi goreng sesuai permintaan Mas Roland.
"Kamu sudah punya pacar?" tanya Mas Roland tiba-tiba dari sisi belakang punggungku.
"Enggak, cuma pengen tahu saja," jawabnya.
Aku mengulum bibir, Mas Roland masih terpaku di tempatnya memperhatikan kegiatanku di dapur.
"Astaga, Kia," ucapku kaget seraya kutepuk kening yang sangat pelupa ini. Pasalnya kami ada di dapur berdua pasti Kia tidak ada yang menjaga.
"Gak papa, dia main sama teman-temanya," ujar Mas Roland tenang.
"Tapi Mas_?" ujarku takut.
__ADS_1
"Udah biasa kok, Nai. Kamu tidak usah mengkhawatirkan mereka. Toh pintu gerbang sudah aku kunci. Jadi mereka tidak akan keluar dari halaman," kata Mas Roland lagi.
"Baik, Mas," jawabku sedikit tenang.
Usai membuat nasi goreng , azan Zuhur menggema. Aku punya alasan untuk berpamitan dengan Mas Roland.
"Mas, aku pamit mau sholat dulu!" ujarku lirih.
"O iya, itu penting. Silakan!" ujar Mas Roland cepat. Tak kusangka Ia menghormati kebiasaanku dirumah itu.
Aku pun mengajak anak-anak itu bersujud pada sang Ilahi bersama-sama. Alhamdulilah nya mereka menurut padaku.
"Kak, ajari kami ngaji dong!" pinta salah satu teman Kia setelah kami selesai melipat mukena.
"Iya Kak, kami juga mau. Kami tidak bisa mengaji soalnya disini harus khursus, Kak," ucap yang lainnya.
Aku hanya mengembangkan senyum, tidak tahu harus menjawab apa. Ku akui meski tak terlalu mahir. Aku tahu cara membaca kitab suci Al-qur'an.
"Terima saja, Nai. Kamu bisa mengajari mereka dan mengerjakan rumah sebisa kamu," sahut Ibu Ida tiba-tiba dari pintu.
Aku menghela nafas panjang, lega rasanya melihat kedatangan mereka. Setidaknya aku tidak akan takut lagi pada Mas Roland.
"Iya, Bu," jawabku setuju.
__ADS_1