Cinta Di Balut Luka

Cinta Di Balut Luka
Bab 20


__ADS_3

Allahu Akbar.. Allahu Akbar...


Suara azan menggema dari speker masjid tak jauh dari sana. Kami yang masih berkumpul akhirnya satu persatu berpamitan untuk pulang.


"Nai, Dikh, temani aku terimahadiah ya. Kita Sholat saja berjamaah di mushola dekat sini!" Mas Nugi mengajukan permohonan.


"Iya, Nai. Kamu temani aja Mas Nugi aku gak bisa ikut lagi PMS, biar aku ikut Bi Mala aja pulang. Ayo Bi!" Kulihat Elsa dengan cepat membawa Bu Mala bersamanya tanpa sempat aku menjawab perkataannya. Dengan terpaksa akhirnya aku hanya menurut saja.


"Bang mau BAB!" rengek bocah perempuan itu sambil malu-malu.


"Oh iya, Kalian berdua duluan aja ya, saya mau antar Loli sebentar!" pamit Mas Dikha pada kami. Tidak tahu apa kah Ia masih ingat tentang cinta monyet nya dulu terhadap diriku.


Aku tidak smbil pusing, toh semua itu hanyalah masa lalu yang tidak perlu dikenang lagi.


Beberapa menit melaksanakan Zuhur, Imam kami membacakan do'a selamat. Entah sengaja tidaknya aku sekilas melihat Mas Dikha memperhatikan aku dan Mas Nugi dari jendela.


Wajar, Ia paham karena makmum dari Imam kami hanya terdiri dari 4 orang. Dua warga kampung itu dan dua lainnya adalah kami dan perempuan satu-satunya hanyalah aku.


Selesai berdoa, para lelaki saling salam dan berpamitan keluar begitu pula aku dan Mas Nugi. Tampak Seorang laki-laki keluaran pesantren tersebut sedang mengajari keponakannya berwudhu.

__ADS_1


"Bang, nanti kalau Loli sudah besar mau jadi ustajah. Pasti semua orang akan kagum sama Loli," ujar bocah kecil itu yang selalu mampu mencuri hatiku dengan ucapan polosnya.


"InsyaAllah, Sayang. Niat baik pasti akan diijabah tapi balik lagi. Niat Loli itu namanya ria. Karena di dalamnya mengandung harapan ingin dipuji," jawab Mas Dikha menjelaskan sejenak membuatku tertegun menatapnya.


"Dikha, kami duluan ya! aku tunggu dilapangan!" tukas Mas Nugi berpamitan sembari menggeret tanganku.


"Duluan, Mas!" imbuhku padanya. Ia hanya tersenyum kecil, tidak tahu apa yang ada dalam benaknya.


Setelah menerima hadiah uang tersebut beserta pialanya, Mas Nugi mentraktir kami makan Bakso jumbo.


"Bang Dikha, potongin," rengek Gadis kecil itu membuatku merasa semakin gemas.


"Iya, Mbak. Makasih ya," katanya sangat pintar.


"Sama-sama," jawabku seraya mengusap pipi cabinya. Tubuhnya sangat kencang dan berisi.


"Bagaimana pengalamanmu dipesantren, Dikha?" tanya Mas Nugi memulai obrolan antar sahabat. Aku hanya sibuk memotong bakso milik Loli dan hanya mendengarkan saja.


"Banyak, hal. Banyak aturan dan banyak waktu hanya menuntut ilmu. Yah, begitulah. Disana tidak bisa bebas segala sesuatunya ada aturan yang harus diikuti," jawab Mas Dikha, tampak sesekali menyeruput mie didalam mangkoknya.

__ADS_1


"Tapi suaramu menakjubkan, Dikha. Aku salut sama kamu," puji Mas Nugi membuatku menoleh kearah mereka. Ada rasa penasaran tentunya.


"Ah, biasa saja. Itu belum seberapa, Gi," jawabnya merendah.


Drrrrr!


Beberapa saat ponsel Mas Nugi berdering cepat Ia mengangkat telpon tersebut karena mungkin sangat penting.


"Halo, Pak."


"Oh iya, sebentar lagi saya kesana."


"Oke, siap."


Mas Nugi yang mengakhiri menatap kami dalam bingung. "Aku harus pergi, bagaimana ya?" ucapnya terlihat bingung.


"Gak papa, Mas kan ada Elsa," jawabku santai.


"Gak bisa, Nai. Ini dia baru kirim pesan, katanya dia sudah pulang," jawab Mas Nugi menyayangkan.

__ADS_1


"Terus..?" kataku ikut bingung. Lalu dengan siapa aku pulang kalau tidak dengan salah satu dari mereka.


__ADS_2