Cinta Di Balut Luka

Cinta Di Balut Luka
Bab 50


__ADS_3

Mas Dikha menciuumii pipiku beriringan dengan tanganya yang menyelubung masuk kedalam kedua bukit kembarku. Semua itu dilakukannya secara pelan, karena ada yang harus diamankannya disana agar tidak tumpah.


Peraduan sakral yang terjadi melenakan kami hingga waktu yang tidak kami hitung. Sampai akhirnya Mas Dikha menyatukan miliknya dengan milikku. Sekarang aku adalah sudah menjadi haknya secara utuh. Kami diikatkan oleh sebuah ikatan yang semoga saja tidak akan pernah terlepas sampai ajal menjemput kami.


Cukup lama bergelutan, Mas Dikha pasrah disampingku.


"Alhamdulilah, makasih, Nai," Katanya seraya memelukku.


"Sama-sama, Mas. Semoga tidak mengecewakan," kataku bergurau.


"Hey, apa maksudmu, Sayang? Tiada kenikmatan melebihi ini," katanya menyanjung merdu ditelingaku. "Aku sangat terpuaskan," imbuhnya lagi sambil mencium punggungku.


Aku tersenyum, syukurlah jika dia merasakan hal itu. Karena aku akan mendapat pahala darinya.


"Nai, Mas ingin selalu merasakan kebahagiaan ini, semoga kita akan senantiasa sabar menghadapi berbagai hal ya," ucapnya semakin mendekap tubuhku yang terasa menyesakkan.


"Mas, kau ingin aku mati ya," kataku menggoda.


"Apa? baru satu hari menikah kau mau aku menduda," ujarnya terkekeh, menjimpit hidungku yang tidaklah mancung dengan gemas.

__ADS_1


"Kau membuatku kesulitan bernafas," protesku pura-pura menyungut.


"Oh, iya kah? Maaf, Mas hanya ingin menghangatkanmu," ujarnya, sedikit melonggarkan tangan.


Oe... Oe...


"Mas, Yusuf nangis," kataku lagi, hendak bangkit tapi Mas Dikha mencegahku.


"Biar, Mas yang hibur. Kami cuci dulu ya!" Katanya mengedipkan sebelah matanya yang sayu.


"Oh, iya. Nai, lupa," kataku menimpali. Lekas ku tarik selimut agar membungkus tubuhku sedangkan Mas Dikha mendekati dedek hanya memakai Celana sepaha.


"Ya ampun, dedek. Udah lapar lagi ya? bentar ya Bunda membersihkan diri dulu habis ngajak Aby bergulat tadi," ucapnya berbisik Tapi tetap saja aku mendengar, bisikkannya tak sepelan orang bergosif.


Setelah ku beri ASI dedek tertidur lagi. Sekitar pukul dua barulah aku dan Mas Dikha bisa benar-benar beristirahat.


Tidak terasa azan subuh cepat sekali terdengar. Aku yang sudah membuka mata masih sempat-sempatnya memandangi wajah Mas Dikha. Rupanya Mas Dikha sudah terbangun mengagetkanku.


"Selamat pagi, Sayang. Ayo bangun, dan Sholat subuh. Mas ke masjid ya!" ujarnya mengusap pipiku. Perlakuan Mas Dikha sungguh panutan. Dia begitu lembut berbicara denganku.

__ADS_1


"Iya, Mas," jawabku.


Suasana yang masih menusuk itu, Mas Dikha yang sudah bersuci berpamitan. Ku cium tangannya yang terulur kedepanku, penuh hormat. Tak henti-hentinya aku bersyukur, mendapatkan suami seperti Mas Dikha.


Baru saja beliau keluar dari pintu, kudengar Ayah menyapanya.


"Dikha, mau ke masjid?"


"Iya, Ayah," jawabnya sopan.


"Tunggu, kita pergi sama-sama."


Ya Allah, lagi-lagi aku terharu. Ayah mengajak Mas Dikha bersama tentu sesuatu keajaiban sekali bagiku. Berarti Ayah sudah meridhoi pernikahan kami yang awalnya Ia tentang.


"Aku juga mau ikut," sahut Bang Gino tak mau kalah.


"Wah, bagus. Ayo...!" Ayah merangkul keduanya.


"SubhanaLLah, ketiga perjaga kita calon penghuni surga, Nai," tukas Ibu, berbangga diri. "Iya, Bu. Semoga Yusuf seperti mereka," jawabku yang berdiri didepan pintu.

__ADS_1


"Sayang, wanita Sholehahnya kurang satu." Ayah melirik Bang Gino dan aku mengerti maksud ucapan Ayah.


"Tenang, Yah. Tunggu satu atau dua tahun lagi," jawab Bang Gino, suasana itu menambah keharmonisan keluarga kami.


__ADS_2