
"Ini, Bi," ujarnya, memberikan uang itu ketangan Bi Ratna.
"Ga usah dibalikin, Bi. Buat Bibi aja semoga anaknya lekas sembuh," lanjutnya lagi, Ikhlas.
"Ah, kok jadi gitu. Bibi kan minjem, nak." Mereka sibuk berdebat kecil karena uang itu, hingga membuatku tersenyum didalam kamar, bahkan masih bersembunyi dibalik selimut.
Mas Dikha sungguh mulia, mau memberi uang secara cuma-cuma meski kondisinya tidaklah terlalu baik.
"Udah, bawa aja, Bi. Dikha ikhlas kok, akan ada lagi rezekinya nanti," ujarnya, mengulangi pernyataan yang sama.
"Ya ampun, Nak Dikha. Ternyata kamu sangat baik, Maafin Bibi ya pernah sempat membenci kamu karena Nai," ucapnya menangis sepertinya hendak mencium tangan Mas Dikha tapi Mas Dikha menolak.
"Eh, Bibi mau ngapain? Jangan begitu, Bi. Gak papa, Dikha tak sebaik itu kok. Kan, Dikha juga manusia tempatnya salah dan khilaf."
"Iya, iya, uang ini sangat berarti buat Bibi, makasih ya Nak, sekali lagi. Bibi permisi!" pamit Bi Ratna kemudian.
"Sama-sama, Bi."
__ADS_1
Assalamaalaikum' Pak Ustad." Kalimat itu yang terakhir ku dengar dari mulut Bibi.
"Wa'allaikumsalam... ya ampun Bi, Dikha rasa panggilan itu belum layak untuk, Dikha," ungkapnya bicara sendiri, sampai akhirnya tawaku lepas.
"Emz... mau belajar menggoda ya," desisnya, yang ternyata sudah berdiri diambang pintu.
"Eh, Mas. Sejak kapan ada disana?" ucapku terpaku, dan malu.
"Lanjutin ya, mumpung Dedek belum bangun," tukasnya, mendekat dan menanggalkan kembali pakaiannya.
"Mas Dikha, nanti ada orang lagi gimana?" bisikku ditelinganya.
Sore harinya, Mas Dikha pergi ke kantor kelurahan untuk vā°00mengurus surat pindah. Aku bahkan tidak tahu kemana dia akan membawa aku pergi karena Mas Dikha bilang masih rahasia. Aku pun tidak mempersalahkan itu, yang penting Mas Dikha selalu melindungi aku.
Sekitar pukul 04.00 sore Mas Dikha sudah pulang dan berbarengan dengan Bang Gino.
"Assalamualaikum...!" sapanya, saat melihat kami sekeluarga mengobrol diteras.
__ADS_1
"Wa'allaikumsalam, Aby," jawabku yang paling keras.
"Besokh, surat nya baru jadi, Dek. Mungkin lusa kita pindah," ujarnya, ikut duduk dan menyandar di tiang bersama kami.
"Dikha, kamu sudah menemukan kontrakan?" tanya Ayah penasaran.
"Insya Allah, Dikha sudah persiapkan semuanya, Ayah, dan aku ingin membawa serta kalian melihat tempat tinggal kami. Biar, adek aku yang izinin pada pihak sekolah beberapa," katanya meyakinkan kami, sedikit membuatku mengerutkan dahi akan ucapan Mas Dhika.
Ayah hanya manggut-manggut dan ikut saja permintaan Mas Dikha. Setiap hari mereka tampak semakin kompak.
...š»š»š»š»š»...
Hari ini telah berlalu, dan kembali menyambut hari esok. Seperti biasa tiga pria hebat itu pergi ke mushola untuk sholat subuh bersama-sama dan itu membuat keluarga kami semakin harmonis.
Sedangkan aku, Ibu dan adek-adek sholat dirumah. Kami semua sholat dikamar masing-masing karena Imamnya semua pergi.
Apa lagi mengamati Yusuf yang terlihat semakin aktif menggoyang-goyangkan tangannya dengan lincah bahkan sudah pandai mengatakan O...
__ADS_1
Sejak saat ini aku baru mengerti tentang peran seorang Ibu, yang rela berkorban untuk Anaknya saat mengandung, melahirkan bahkan berbagi makanan dengan memberinya ASI Eksklusif.