
Tak lama dalam diam dan hampir putus asa. Pemuda yang tadi membantu memarkirkan motor datang menghampiriku.
"Cari abangnya, Mbak?" tanyanya sok akrab sambil memasang senyum.
Aku hanya mengangguk karena bagiku dia hanya orang asing.
"Tadi Abangnya pergi buru-buru, biar aku antar ya," tawarnya kemudian. Suaranya terdengar begitu lembut.
"Tidak usah, Mas," jawabku pelan. "Mungkin Bang Gino ada urusan sebentar."
Pemuda itu balas mengangguk.
"Baiklah kalau gitu. Boleh kenalan?" Pemuda tersebut mengulurkan tangan.
"Aku Naima," jawabku singkat tanpa menyambutnya.
"Oh, nama yang indah," pujinya seraya menarik tanganya tadi kekepala lalu menggaruk nya sebentar. Entahlah, apa emang gatal atau hanya tak enak hati atas penolakanku.
"Mbak, jika pengen tahu namaku panggil saja Nugi. Yang suka kirim pesan lewat WA juga aku," ucapnya terus terang.
__ADS_1
Aku sedikit melirik kearahnya. Bagaimanapun juga, aku paling suka sebuah kejujuran. Terbersit perasaan kagum padanya. Dia juga tampan, dan pastinya sangat ramah.
"Maaf, aku tidak balas," jawabku lagi dengan acuh. Sudah bosan rasanya bertemu pria yang selalu memasang wajah sok baik padaku begitu pikirku kemudian.
"Iya, Mbak. Tapi bolehkan kalau kita berteman?" tanyanya lagi tak tahu malu membuatku sedikit mengernyit menatap kearahnya.
"Gak masalah, ya udah deh. Aku pamit dulu!" kataku padanya sebagai alasan untuk menghindar.
"Jangan Mbak!" Mas Nugi menahan lenganku hingga aku berbalik kearahnya.
"Kenapa, Mas?" tanyaku sambil melepas perlahan tangannya.
Aku sendiri tidak tahu, apakah yang dikatakannya benar adanya. Jujur saja, jika sebulan yang lalu kejadian itu berarti aku masih bekerja dikota.
"Iya, Nai. Sama Mas Nugi aja, kalau mau jalan juga jauh kan. Bahaya sendirian?" sahut seseorang yang ternyata mengenal aku tapi tidak denganku.
Mendadak aku merinding, bagaimana jika hal na'as tersebut menimpaku. Aku tidak bisa membayangkan betapa mengerikannya itu.
Aku ingin menangis untuk memaki Bang Gino yang sudah tega meninggalkanku ditempat itu tapi aku merasa malu pada orang-orang disana maka kutahan sebaik mungkin agar tidak keluar dari bola mataku.
__ADS_1
"Gimana, Nai? kamu mau kan? jangan takut, aku tidak akan ngapa-ngapain kamu kok. Aku janji."
Mas Nugi sangat meyakinkan diriku hingga akhirnya aku menerima kebaikan hatinya.
Dalam perjalan pulang kami saling diam, ada perasaan canggung yang bergelantungan dihatiku. Ini pertama kalinya aku berboncengan dengan pria yang bukan dari makhromnku.
"Nai, kesukaannya apa?" Tanya Mas Nugi membuka percakapan.
"Maksudmu?" aku mulai menimpali.
"Maksudku, kegiatan Nai sehari-hari?" jelasnya disertai canda.
"Cuma dagang kecil-kecilan, Mas. Setelah itu mengajar ngaji anak tetangga. Tapi ya itu, baru akan mulai nanti sore untuk mengisi waktu bermanfaat dibulan Ramadhan. Alhamdulilah nya, adalah sekitar sepuluhan anak yang dititipkan orang tuanya padaku," jawabku panjang lebar.
"Wah, bagus dong. Berarti Nai adalah calon istri Sholehah."
Aku tidak tahu arah ucapannya. Tapi yang bisa kecerna dari perkataannya adalah ada dua kemungkinan. Antara memujiku atau malah menggodaku.
"Biasa aja, Mas. Aku belum mahir dalam ilmu keagamaan," jawabku merendah karena memang itulah kenyataannya dan itu benar-benar masih sangat jauh bagi perempuan yang hanya mengajar EBTA.
__ADS_1
"Jangan gitu, Nai. Sekecil apapun ilmu yang kita punya jika kita share keorang lain itu sudah sangat luar biasa," ujar Mas Nugi diujung obrolan kami.