Cinta Di Balut Luka

Cinta Di Balut Luka
Bab 58


__ADS_3

"Angel, sakit apa, Bang?" tanyaku tak tega.


"Kanker otak?" jawabnya getir.


Bang Gino menatapku, pasti Ia ingin aku tetap memenjarakan Bang Gino atas tuduhan rencana pembunuhan. Tapi mendengar cerita Bang Rohman, dia pasti juga kasihan.


"Kalau begitu, biarkan kami menemui adikmu, Bang," kataku kemudian.


Bang Gino mengangguk setuju, lalu menghantar kami kemobil miliknya yang terparkir tak jauh dari sana.


Sesampainya dirumah sakit, kami melihat kedua orang tua Bang Gino tengah menangis histeris diruang tunggu.


"Ayah, Ibu, ada apa ini?" tanya Bang Gino, khawatir.


"Adik kamu, Rohman. Dia sudah gak ada," jawab Ibu Bang Gino.


"Apa? jadi adek sudah pergi untuk selamanya."


Aku hanya bisa terpaku, tangis Bang Rohman pecah. Ia sangat menyayangi adiknya hingga tidak mau melihat sang adik terluka.

__ADS_1


"Maaf, Dek. Hingga akhir pun. Aku tidak bisa mewujudkan keinginanmu. Semoga kamu ikhlas ya!" ujarnya, mengusap wajah dengan kasar.


Tak lama Naima dan keluarga juga datang, mereka pasti sudah mendapat kabar soal ini. Kulihat wajah istriku itu berkaca-kaca, mungkin ada perasaan bersalah disana.


"Yang sabar ya!" ujar Ayah turut sedih, Ia memeluk tubuh Ayah Bang Rohman.


Sejenak hanyut dalam kesedihan, Bang Rohman menatap Naima dengan lekat. Cemburu itu pasti, tapi aku tidak boleh egois ketika berada diposisi sekarang ini.


"Nai, sampai saat ini. Perasaanku selalu sama, aku masih sangat mencintai kamu, Nai. Maafkan aku, sudah berniat melukai suamimu," ujarnya parau, aku tahu dibalik hatinya tersimpan sejuta luka.


"Aku juga minta Maaf, Mas. Sekarang, aku adalah hak suamiku. Maaf, jika tidak bisa membalas perasaanmu," jawab Naima, yang mendekat disampingku.


Bang Rohman mengangguk lalu mendekat kearahku sembari mengulurkan kedua tangan.


Kami saling tatap, Naima juga tentu ingin menanyakan maksud Bang Rohman apa? tapi bibirnya tertahan.


Aku pun mengulas senyum, aku tidak sejahat itu sampai memenjarakan Ia disaat tengah berkabung seperti ini.


"Tidak, Bang. Aku percaya kamu sangatlah baik, oleh karena itu biarlah yang lalu menjadi kenangan saja," kataku, tulus.

__ADS_1


"Tapi Dikha, aku nyaris membunuhmu," katanya, bersalah.


"Tidak, Bang. Aku ikhlas, tapi maaf jika aku tidak bisa melepaskan Naima padamu," kataku, meyakinkan.


"Aku mengerti, Dikha. Permintaan adikku sangatlah mustahil, aku juga ikhlas sekarang membiarkan Naima bersama lelaki hebat seperti mu. Terima kasih banyak ya, karena tidak memperkarakan aku," ujarnya, kelu.


"Sama-sama, Bang. Aku mencintai Naima sejak kami masih SMP tapi waktu yang memisahkan kami hingga sampai dititik ini," ceritaku, jujur.


"SMP?"


"Ya, kata orang. Usia segitu adalah cinta monyet. Tapi bagiku, Cinta itu adalah keseriusan seseorang terhadap perasaannya. Sampai sekarang juga, aku hanya menjaga hatiku untuknya," kataku, melirik Naima yang tersenyum menanggapinya.


"Aku salut, Bro. Ternyata cintamu pada Naima lebih besar dari cintaku." Bang Rohman menepuk pundakku dan pergi memasuki ruangan adiknya.


Sekitar pukul 12.00 siang, pemakamannya selesai. Kami pun berpamitan untuk menyiapkan rencana kami esok.


Ayah, kedua mertua dan kedua orang tua Bang Rohman saling berpelukan. Begitu pun aku dan Bang Rohman.


"Jaga Naima baik-baik ya!" desisnya lirih.

__ADS_1


"Tentu, Bang. Nyawaku jaminannya," kataku, menegaskan.


"Berbahagialah!" Bang Rohman menatap Naima sejenak, lalu menyusul orang tuanya yang lebih dulu menunggu dimobil.


__ADS_2