
Selang beberapa waktu semua berpamitan, dengan cepat kuusap airmataku agar mereka tidak melihatnya.
"Nai, Bapak sama Ibu izin pulang ya! Mungkin kalian belum berjodoh," ucap Bu Mala membuat perasaanku seakan teriris.
"Ya, Bu," jawabku dengan suara sumbang. Bagaimana pun caranya menyembunyikan perasaan. Tetap saja itu sulit.
Usai mengucapkan salam mereka semua meninggalkan pelataran rumahku. Hanya airmata berlinang yang masih saja menerobos turun. Ternyata ini bukan hari yang indah namun disini luka itu justru semakin dalam.
Ku seka air mata yang tersiksa, lalu melangkah meninggalkan Ayah dan Ibu yang diam melihatku. Perasaan mereka juga pasti sama yaitu ingin melihatku bahagia.
Didalam bilik tiga kali tiga itu, kulepas semua penat dihati agar sesak ini berkurang. Cukup lama menangis,ku langkahkan kakiku menuju kamar mandi.
Lalu kuputar keran air yang terlihat sedikit berkarat itu, untuk mengambil wudhu. Dalam sujud dua raka'at kuhaturkan semua keluh kesahku pada sang maha pemberi nafas.
Ya Allah, jika memang jodohku bukan dia lapangkanlah hatiku. Lalu gantikan pria yang lebih baik darinya. Menerima setiap kekurangan dan mau berbagi keluh kesah dalam hal apapun denganku. Bukan kah hidup soal perjuangan, Mas Nugi tidak percaya akan keajaibanmu. Dia lebih memilih pergi tanpa ada perjuangan sama sekali. Maut itu ditanganmu dan semua pasti adalah yang terbaik bagi umatmu.
Kuusapkan kedua telapak tangan yang menengadah keatas untuk memohon kesabaran kewajahku. Terlalu berat beban ku ini dalam urusan perjodohan. Mungkin iya, aku belum layak untuk bahagia.
"Ampuni aku Ya Allah!" ucapku lirih.
__ADS_1
"Dek..!" Bang Gino rupanya memperhatikan aku ditepian pintu.
"Bang...." Segera ku lepas mukenahku dan memintanya untuk duduk.
"Kamu jangan sedih ya, Abang tak tega melihatnya." Bang Gino mengusap lembut pucuk kepalaku.
"Iya, Bang." Kukuatkan diri untuk tersenyum didepan Abangku yang satu ini. Aku tahu dia sangat menyayangi aku.
"Ingat, Dek. Pasti kamu akan dapat yang lebih baik. Sekarang sudah jam 02.30 sore. Pasti anak-anak menunggumu di masjid.
"Oke, Bang. Maaf udah buat Abang ikut sedih." Kubangkitkan semangatku lagi meski itu sangatlah berat.
Singkatnya, tepat pukul setengah empat pengajian dengan anak-anak berakhir waktunya sholat ashar tiba. Beberapa para lelaki datang hendak menunaikan kewajiban sebagai umat muslim termasuk Mas Dikha dan Ayahnya.
"Dikha, ayo azan!" teriak Pak Ali yang biasa menjadi imam. Aku penasaran dong dengan suaranya. Sambil bersiap diri dengan anak-anak kusimak suaranya yang begitu merdu dan mendayu-dayu.
Allahu Akbar! Allahu Akbar!
Kami semua penuh kekaguman,bahkan ada yang mengelengkan kepala dalam artian penuh ketakjuban dan itu kali pertamanya Mas Dikha menunjukkan kemampuannya didepan umum.
__ADS_1
Sebagai teman, aku sangat suka suaranya yang indah itu. Sungguh besar keagungan Tuhan.
...πΎπΎπΎπΎ...
Sepulang dari masjid sekitar pukul 04.00. Mas Dikha mengirim pesan WA di ponselku.
Assalamualaikum! Nai, bagaimana kabarmu?
Wa'alakumsallam, baik Mas
jawabku bohong, aku tak sebaik itu kataku dalam hati.
Syukurlah, semoga kamu kuat ya.
Apa? berarti Mas Dikha sudah tahu semuanya. Siapa yang cerita? apa Mas Nugi?
Insya Allah, Mas. Tapi tetap saja aku kecewa padanya. Ia sangat percaya sebuah ramalan yang belum tentu terjadi. Bukankah sebagai umat Islam kita harus percaya akan kebesaran Allah
Tak sadar kuucapkan itu pada Mas Dihka. Tak peduli Kata-kataku akan sampai ditelinga Mas Nugi.
__ADS_1
...ππ€ππ...
(Author ngarang lagi, jangan percaya) Karena semua itu tergantung pribadi masing-masing akan suatu keyakinan.