
Aku tidak sadar jika Mas Nugi menghentikan motor gedenya tepat didepan rumahku
"Kok Mas tau aku tinggal disini?" tanyaku heran.
"Ya taulah Nai, kita kan masih satu kelurahan. Aku sudah sering lewat disini. Itu yang kasih tau juga Elsa tepatnya dimana," ujarnya tersenyum malu.
"Oh, begitu ya. Ayo mampir dulu!" ajakku mulai mengakrabkan diri. Toh, dia sudah baik bersedia mengantarkan aku pulang.
"Gak usah, Nai. Sore begini kamu pasti lelah kapan-kapan saja. Aku pulang Ya!" Mas Nugi memundurkan motornya kearah dimana kami datang tadi.
"Assalamualaikm...!" ucapnya.
"Wa'allaikumsalam...!" jawabku.
Setelah motornya menghilang, aku berbalik dan hendak masuk kerumah namun Ibu malah mengagetkan ku dari belakang.
"Sapa, Ndok?" Ibu pasti penasaran karena jarang-jarang ada yang mengantar aku pulang.
"Temen, Bu. Bang Gino kemana sih, Bu. Kok dia tega ninggalin Nai sendirian disana. Dia gak sayang ya sama, Nai?" tanyaku protes. Siapa yang gak kesel diperlakukan Abang sendiri seperti itu.
Sesaat Ibu nampak berkaca-kaca, pasti ada sesuatu yang membuat suasana hatinya berubah.
"Bu, ada apa, Bu? Kenapa nangis, maaf kalau perkataan Nai terlalu kasar?" Aku merasa takut jika ucapanku menyinggung hati Wanita yang sudah melahirkan aku kedunia ini dengan mempertaruhkan nyawanyq.
"Tidak, Nak. Ibu kasihan sama Abangmu baru semalem dia diterima sama cewek. Hari ini cewek itu ternyata kabur sama perempuan lain." Ibu mulai bercerita.
__ADS_1
"Maksudnya? Abang sempat cnemuin Ibu, tadi?"
Ibuku tercinta mengangguk sambil memasang wajah melas pada Abangku yang paling jengkelin itu.
"Tadi dipengajian dia bertemu temannya Cewek itu, lalu ngasih tau duduk perkaraanya kalau cewek itu ternyata sudah punya pacar sebelum sama Abang kamu."
Langsung kupeluk tubuh yang sudah tidak sekuat dulu itu, begitu cinta dan sayangnya Ibu sama anak-anaknya sampai Ia menangis hanya karena Bang Gino putus dari cintanya. Jujur saja, Bang Gino memang jarang pacaran tapi sekalinya pacaran itu artinya Ia sangat mencintai perempuan tersebut.
Sayangnya, percintaan Mas Gino sama tidak mulusnya seperti aku. Ini sudah ketiga kalinya Bang Gino ditinggal nikah sama pacarnya.
"Sabar Bu, mungkin itu adalah yang terbaik buat Bang Gino. Untuk apa dia terlanjur menikah? dari pada ujung-ujungnya ditinggal selingkuh juga nanti," kataku menenangkan.
"Iya, Nak. Semoga Abangmu kuat ya!"
Aku ganti menganggukkan kepala dan menuntun Ibu masuk kedalam. Sudah tidak kupermasalahkan lagi sebab Bang Gino tega padaku. Itu pasti bentuk marahnya Bang Gino karena merasa dikecewakan.
"Maafin Abang, dek," ucapnya nanar. Ia pasti menyadari kekeliruannya siang tadi.
"Gak papa, Bang. Aku tahu ini tidak mudah," ujarku mengerti.
Bang Gino tersenyum miris.
"Abang janji tidak akan menjodohkan kamu dengan teman-teman Abang lagi. Kamu boleh kok cari pacar yang esuai hati kamu, sekarang," katanya tiba-tiba membuat aku terenyuh.
"Abang kok tumben bilang gitu?" godaku sambil mencubit kedua pipinya.
__ADS_1
"Ih, adek sakit tauk. Abang hanya ingin hubungamu dalam memilih pasangan hidup tidak akan mengecewakan nantinya jika itu pilihanmu sendiri."
"Makasih Bang," kataku."
"Sama-sama," balasnya.
Drrrrt!
Ponselku bergetar diatas meja. Aku dan Bang Gino menoleh berbarengan. Lalu Bang Gino mengambilnya lebih dulu dariku karena posisinya memang lebih dekat dari meja.
Sejenak ia mengamati nomer yang belum kukasih nama itu lalu membuka pesannya begitulah perkiraanku.
"Ini siapa, Dek?" tanyanya seraya menatap kearahku dengan tatapan tak biasa.
...♥️♥️♥️♥️...
Jangan lupa
Like
Komen
Vote
Sama bintang limanya ya...
__ADS_1
🌾🌾🌾
Halo reader tercinta yang ingin masuk Grup chat Cool kids Wijaya silahkan daftarkan diri ya jika berminat.