
Kulihat Mas Dikha mengerutkan dahi mendengar ucapan ku.
"Jangan bilang begitu dek, aku tahu, kamu adalah perempuan baik-baik," jawabnya. "Hanya saja orang tuamu tentu ingin melindungimu dari keburukan," tambahnya.
Maaf, Mas," kataku bersalah.
"Tidak apa," jawabnya tenang. Tidak menunjukkan kecemburuan sedikit pun.
Aku kembali mengamati luka yang ada dibawah pipi kanan Mas Dikha saat beralih menatapnya.
"Itu, kena apa Mas!" Tanyaku sambil menunjuk lukanya.
Mas Dikha nampak gugup, sambil berusaha menutupi lukanya dengan telapak tangan. " Oh, semalam kan banyak angin dek, aku menutup jendela tidak sengaja jadi tergoret deh," ucapnya yang terlihat memasang senyum terpaksa.
Tapi benar juga, luka bisa datang dari mana saja kan. Mungkin aku terlalu berharap Mas Dikha adalah orangnya.
"Naima!" Teriak seseorang memanggilku.
Aku dan Mas Dikha langsung menoleh kearah sumber suara.
__ADS_1
Kulihat Bang Rohman berlari mendekati kami.
"Ada apa Mas?" Tanya ku.
Belum sempat Mas Rohman menjawab, Mas Dikha langsung berpamitan, wajahnya terlihat redup, Ia seperti tak suka dengan kedatangan Mas Rohman yang menemui ku. Ah entahlah apa benar yang kupikirkan atau aku hanya GR saja dibuatnya.
"Nai, Mas duluan ya!" Ucap nya.
"Iya Mas," jawabku. Ia pun menunduk kan kepalanya kepada Mas Rohman, lalu pergi meninggalkan kami.
"Kamu kenapa Nai? apa kamu tidak menyetujui perjodohan kita?" Tanya Mas Rohman yang nampak sedih.
"Lalu apa?" Tanyanya lagi.
Aku pun menghentikan langkahku dan menatap Mas Rohman. Masih kepeluk erat kitab suci ini didada ku. Aku bingung, aku harus menjawab apa pada Mas Rohman.
"Dek, aku sudah sangat cocok dengan mu," ucapnya memelas..
Mas Rohman sebenarnya juga tampan dan berwibawa. Itu. Sebabnya Bapak berpikir dia adalah pria tang baik untukku.Tapi mau bagaimana lagi, aku juga tidak mau membuatnya lebih sakit lagi kalau tahu aku sudah tidak suci.
__ADS_1
Kadang, terbersit dipikiran ku. untuk apa aku berhijab dan mengajar mengaji, sedang aku sudah berbuat Zina dengan lelaki misterius itu.
"Aku bukan gadis baik-baik Mas alangkah baiknya Mas Mencari gadis lain," jelasku mencoba biasa saja.
"Tapi aku sudah terlanjur menyukai mu, Nai. Kenapa Bapak kamu malah memutuskan perjodohan kita, aku bisa terima kok, kalau alasan kamu menghilang adalah masih ingin memantapkan hati ," ungkapnya.
Hatiku mendadak seperti teriris, beruntung sekali dicintai pemuda seperti Mas Rohman. Tapi sayang, itu semua membuatku semakin merasa bersalah. "Maaf Mas, aku tidak bisa," tegas ku.
Mas Rohman terdiam mendengar ucapan ku.
"Carilah gadis yang lebih baik Mas," imbuh ku. Aku pun meninggalkan mas Rohman yang masih terpaku ditempatnya.
Aku melintas didepan rumah Mas Dikha, kulihat dia tersenyum kearah ku sambil menanam pohon buah dihalaman. Aku pun membalas senyumannya, sebagai tanda aku menghargainya.
Dia pacarku, tapi mengapa jadi begini sih? apa hidupku ini akan selalu begini? begitu pikirku berkecamuk terus menerus. Sungguh aneh memang tapi itulah kenyataanya.
Aku merasa malu, pasti Mas Dikha sakit hati mengetahui itu. Tapi kenapa Mas Dikha tidak melamar saja waktu itu. Sekarang rasanya percuma, karena aku pun tidak ingin melukai perasaannya akan apa yang menimpaku.
Maafin Nai, Mas. Sungguh tak pantas rasanya aku hidup bersamamu. Semoga saja Tuhan menggantikan yang lebih baik dari aku.
__ADS_1