Cinta Di Balut Luka

Cinta Di Balut Luka
Bab 39


__ADS_3

Obrolan keluarga semakin hangat sedang aku dan bayiku sudah masuk kedalam kamar, bagaimana pun juga kondisiku belum sepenuhnya pulih. Jadi, aku disarankan Dokter untuk lebih banyak beristirahat.


"Bu, boleh Rohman menemui Nai sebentar?" kudengar pertanyaan itu meluncur dari mulut Mas Rohman.


"Oh iya silakan, toh dirumah ini banyak orang," jawab Ibu, mengizinkan.


Air mata ini kembali berlinang, perasaan teriris seolah membelenggu hati yang terluka. Ada apa denganku? perhatian Mas Rohman sungguh luar biasa. Tak bisa kubayangkan apa keputusanku nanti. Hatiku masih bergejolak, tak ingin melawan arus yang membuih di tengah aliran air.


"Assalamualaikum, Nai. Bolah Mas masuk?" tanyanya dari ambang pintu. Wajah itu tidak terlepas dari senyuman.


Aku hanya mengangguk sembari kuusap air mata yang basah telah dipipi.Seandainya berteriak mampu melepaskan bebanku. Sudah kuteriakan perasaan ini sejak tadi.

__ADS_1


"Nai... !" Mas Rohman duduk disampingku. "Aku sangat mencintaimu, Nai. Kuharap jawabanmu selepas selapanan dedek tidak akan mengecewakan aku, nanti" ujarnya nanar. Sangat menusuk, mampu mengobrak-abrik jurang didasar hatiku.


Kuurai senyum bersahaja, kututup hati yang penuh kebimbangan didalamnya.


"Makasih, sudah sangat baik dengan Nai dan keluarga, Mas. Padahal Mas tau sendiri. Aku bukanlah perempuan yang pantas dicintai," kataku jujur. Tanganku saling menaut dan menelisik satu sama lain. Air mataku hendak tumpah lagi. Sebisa mungkin kutahan agar tidak luruh dihadapan Mas Rohman.


"Nai, lihat Mas! tidak ada sedikit pun beban dihatiku untuk menerima Nai dan dedek akibat kejadian itu. Mas janji akan selalu menjadi suami dan Ayah yang baik untuk kalian berdua."


Bahkan aku tidak tahu seluka apa dia saat ini. Perih hatiku, namun ku hanya mampu tersenyum dan tersenyum hanya itu yang bisa aku lakukan didepan Mas Rohman.


Usai mengatakan kalimatnya, Mas Rohman dan keluarga berpamitan pulang. Tinggal kami didalam rumah itu.

__ADS_1


"Sudahlah Ndok, menikah saja sama si Rohman dia sudah mapan. Yang pastinya mampu mencukupi kebutuhan kamu dan anakmu." Ayah berbicara lantang dari ruang depan, sepertinya Ayah sangat setuju jika Mas Rohman kelak menjadi mantunya.


"Jangan begitu, Yah. Sudah cukup kita mengatur kehidupan Naima. Beri dia wewenang untuk menentukan pilihannya sendiri," timpal Mas Gino membelaku.


"Bener, Yah. Karena yang menjalani bahtera pernikahan itu adalah Naima. Coba lihat Dikha, agamanya sangat bagus. Ia pasti tau kewajiban seorang suami dalam hal rumah tangga." Ibu pun sama mendukungku, dan dukungan inilah yang aku butuhkan saat aku diposisi sekarang.


"Rohman tak kalah baik, Bu. Agamanya juga bagus, ya walaupun Ayah tau tak sebagus Dikha. Tapi bapak yakin, Ia juga tahu kewajibannya. Saat ini, Naima harus membuka mata. Agar hidupnya dan bayi yang tidak tahu Ayahnya itu hidup dengan berkecukupan," sangkal Ayah balik. Nadanya begitu memuja Mas Rohman.


"Gino, tidak mau Naima menyesal jika kita memintanya memilih orang yang tidak Ia kehendaki, Ayah. Biarkan Naima memantapkan hatinya sampai Sebulan kedepan," ujar Mas Gino lagi.


Kakakku satu itu rupanya mulai mengerti arahnya hidupku. Mungkin Ia telah melihat sendiri cara Mas Dikha berkorban menyelamatkan aku dan dedek waktu itu.

__ADS_1


__ADS_2