Cinta Di Balut Luka

Cinta Di Balut Luka
Bab 57


__ADS_3

Pov Dikha


Selepas sholat subuh, Bang Gino yang baru saja memakai sendalnya menahan lenganku.


"Kenapa, Bang?" tanyaku, heran.


"Aku masih penasaran tentang orang yang menyerang mu dua hari yang lalu, Dikha. Maka dari itu, kita harus mengatur siasat untuk mengetahuinya. Aku yakin, dia akan kembali menyakitimu," sarang Bang Gino, padaku setengah berbisik agar tidak ada yang mendengar.


"Caranya, Bang?" ku garuk kening yang tidak gatal ini, karena aku sendiri belum tahu.


"Gampang, sini aku bisikin." Bang Gino mengatakan sesuatu dengan lirih membuatku terhenyat.


"Abang yakin, dia akan datang lagi?" tanyaku lagi, meragu.


"Tentu."


"Dikha, Gino, ayo pulang!" ajak Ayah, baru saja memakan sendalnya.


"Ayah duluan aja ya, kami sedang ada urusan sebentar," ujar Bang Gino, memberi tahu.


"Oh, oke baiklah. Jangan lama-lama karena kita mau ambil hasil panen buat kekontrakan Dikha nanti," timbal Sang Ayah.


"Oke, Yah." Bang Gino mengacungkan jempol, Ia begitu patuh pada Ayah mertua.

__ADS_1


Ayah menghilang dari pandangan kami, disanalah Aku dan Bang Gino mulai bereaksi. Kami melakukannya terpisah, aku berjalan seorang diri dengan langkah hati-hati ditempat yang menyerangku kemaren perasaan ini sedikit was-was.


Benar saja, orang itu melompat dari rerimbunan dan berdiri tepat dihadapanku sembari menodongkan pisau.


"Ceraikan Naima," katanya, sampai aku terperangah. Kali ini aku, benar-benar penasaran. Kenapa dia sangat berhasrat menginginkan perpisahan kami.


"Siapa, Abang ini?" tanyaku, baik-baik.


"Bukan urusanmu, apa pentingnya kamu tahu, ha?" gertaknya, langsung menyerangku dengan bringas. Sebisa mungkin aku menghindar agar benda tajam itu tidak kembali melukaiku dan berakhir patal.


Namun rupanya tenaganya sangat kuat, aku tergeletak setelah Ia menendang bagian perutku. pria itu mendekat dan mendudukkan diri diatasku.


"Habislah riwayatmu, Dikha. Aku tidak akan pernah rela kamu hidup bahagia bersama wanitaku," pekiknya, mengayunkan benda itu. Untungnya, Bang Gino cepat datang dan menerjang tulang belikat pria tersebut hingga Ia terpelanting kesamping.


"Kali ini, kita harus tahu orangnya, Dikha," desis Bang Gino ditelingaku.


"Baik, Bang."


"Ingat, hati-hati dengan senjatanya," pesannya lagi lalu kuangguki


"Sial! Awas kalian!" teriaknya kembali menyerang menggunakan pi_sau ditangahnya kearahku. Dengan sigap Kaki Bang Gino menyempatkan benda itu sampai terlepas dari tangannya.


Orang itu terkejut, Aku mencengkram tanganya hingga suara tulang yang aku tekuk menyiku terdengar gemeretekan.

__ADS_1


"Aw, sakit!" teriaknya, mengaduh.


Bang Gino tidak membiarkan kesempatan didepan mata, lekas Ia menarik penutup wajah orang tersebut.


"AstaufiruLLah, kamu?"


Aku dan Bang Gino sangat terkejut. Tidak disangka jika orang itu adalah Bang Rohman.


"Maafkan saya, Bang. Saya khilaf," ucapnya, mengatupkan tangan.


"Apa maksudmu, mau membunuh Dikha, Rohman? kamu masih belum ridho jika kamu itu tidak berjodoh dengan Naima, begitu?" Bentak Bang Gino, kasar.


"Maaf, Bang. Saya memang belum bisa move-on," katanya, gemetaran.


Aku menggeleng, rupanya sedendam itu Bang Rohman terhadapku sampai tega melakukan hal yang sangat berbahaya.


"Bang, aku mohon ikhlaskan, Bang. Sekarang Naima sudah menjadi istriku, biarkan kami hidup bahagia," kataku, menyesalkan.


"Alah, ngapain bicara baik sama dia, Dikha. Kita jebloskan saja kepenjara. Dari pada dia ulangi lagi nanti," ketus Bang Gino memicingkan mata.


"Tidak, tolong jangan lakukan itu, Bang. Aku hanya ingin menuruti permintaan terakhir adikku untuk bisa melihat aku dan Naima bersama," ujarnya, berlutut. Ia terlihat begitu sedih.


"Lalu menghalalkan segala cara?" bentak Bang Gino lagi.

__ADS_1


"Adikku sekarat lagi, Bang. Awalnya dia sehat tapi ternyata pengobatan itu hanya mengurangi saja hingga akhirnya dia jatuh sakit lagi, dan Ia memintaku untuk bisa bersama Naima, Bang. Dihari terakhirnya," ujarnya bercerita, membuatku teriris.


__ADS_2