
Setelah sekian lama akhirnya keluarga Mas Nugi datang kerumah untuk merembukkan masalah hubungan kami selanjutnya. Mereka datang bersama seorang ahli membaca weton.
Kentalnya adat istiadat dikeluarga Mas Nugi tidak meninggalkan kepercayaan mereka akan hal itu. Karena bagi mereka hitungan adat jawa yang mereka usung sangat berpengaruh pada hubungan kami dimasa depan.
Ya, keluargaku tidak keberatan sebab setiap suku memiliki caranya sendiri. Bagi kami, pasrah pada sang pemberi kehidupan adalah jalan terbaik.
Selepas perbincangan panjang dan menyantap makanan ringan seadanya yang kami sediakan.
Pak Soejono ahli hitungan jawa yang diamanatkan menatapku dan Mas Nugi dengan pandangan lekat. Bibir lelaki paruh baya tersebut seolah berat mengungkapkan apa yang dilihatnya.
"Pak Jono, tolong jelaskan perihal keduanya jodoh atau tidaknya mereka. Agar kami bisa tenang menikahkan mereka?" tanya Bu Mala Ibunda dari Mas Dikha.
"Iya, Pak Jono. Tidak ada gunanya kan mereka menikah jika tidak ada kecocokan tapi kalau semua bagus kami sangat setuju," imbuh Pak Ramlan Ayah Mas Nugi.
"Kami sebagai orang tua Naima juga ingin yang terbaik, Pak. Karena harapan kami sebagai orang tua tentu berharap putri kami bisa menikah sekali seumur hidupnya." Ayahku tercinta ikut menambahi.
__ADS_1
Pak Jono kembali mengamati kami, lalu dia mulai mengatakan apa yang Ia ketahui pada kami.
"Jika dilihat dari pandangan normal mereka itu serasi, Pak," kata Pak Jono membuat aku dan Mas Nugi tersenyum senang.
"Tapi_?"
Waduh, tapi apa ni. Otakku mulai menjelajah dengan perasaan was-was. Mas Nugi mungkin juga sama karena Ia melirikku penuh arti.
"Jika kalian menikah, banyak hal akan kalian lewati. Terutama tanggal lahir kalian ada garis hitam didalamnya. Yang artinya kalian akan kesulitan ekonomi, sering sakit-sakitan dan pada akhirnya terjadi pertengkaran-pertengaran besar yang dipicu oleh masalah kecil saja," jelasnya.
"Apa, Pak? lalu?" Pak Ramlan mengernyit dan kembali bertanya.
Pak Jono menghela nafas kasar, yang kulihat dengan jelas itu pertanda tidak baik. Perasaanku mulai buyar, entah apa keputusan keluarga untuk hal ini.
"Ya itu, salah satu dari mereka pasti akan kalah dan akhirnya kalau gak sakit keras ya meninggal." Pak Jono melanjutkan membuat aku ketakutan.
__ADS_1
(Authornya juga takut ih, ada ya kayak gitu)š
"Jadi itu artinya aku dan Naima tidak bisa menikah, Pak?" Kali ini Mas Nugi bersuara seolah tak terima akan pernyataan Pak Soejono.
"Maaf, Nugi. Tapi yang kulihat dari weton kalian memang begitu adanya."
Mas Nugi mengusap wajahnya kasar lalu berlalu keluar tanpa permisi dan aku yang bingung pun langsung mengejarnya. Aku juga sangat kecewa sama seperti dirinya.
"Mas...!" panggilku diiringi derai air mata. Tak sanggup rasanya aku menerima ini semua didalam hidupku saat kuyakini jika Mas Nugi adalah pria kiriman Tuhan untukku.
"Maaf, Nai. Kita harus putus," ucapnya kelu. Aku menggeleng, kugenggam tangannya karena aku tidak mau itu.
"Tolong jangan lakukan itu, Mas. Kita harus percaya pada takdir bukan pada hal demikian, Mas," kataku memohon.
"Tidak bisa, Dek. Karena aku takut kamu yang mengalami keburukan itu. Bagiku kebahagiaanmu adalah yang terpenting. Maaf, kita akhiri saja sampai disini," katanya sambil berlalu meninggalkan aku yang terpaku menatapnya.
__ADS_1
Seketika tangisku pecah, sakit rasanya melihat Mas Nugi begitu mudahnya menyerah akan hal yang belum tentu benar kejadian.