
"Oh, orang nyasar kali, Bang," jawabku beralasan. Jujur,aku tidak percaya diri untuk mengatakan kebenaran soal siapa sebenarnya pemilik nomer tersebut.
"Ya udah Abang keluar dulu, makasih udah gak ngambek sama Abang," katanya mengulangi. Mungkin Ia benar-benar merasa sangat menyesal meninggalkan aku tadi.
Aku hanya menjawab dengan membuat lingkaran bulat antara Ibu jari dan telunjukku sembari nyengir kuda kearahnya sampai Ia menutup pintu kamarku kembali.
Lekas ku gaet ponselku karena rasa penasaran akan isi WA tersebut. Kunyalakan segera ponsel dengan sebuah kode namaku lalu langsung mengklik aplikasi WA yang tadi belum kubaca. Rupanya Bang Gino tidak membukanya sama sekali meski jelas tulisannya sangat terlihat diatas layar.
Assalamualaikum! Nai, lagi apa sekarang? maaf sudah mengganggu malamnya.
Sejenak aku tersenyum, entah perasaan apa ini? tapi yang pasti aku menyukai orang yang menyadari kesalahannya lebih dulu walau sebenarnya tidak salah.
Wa'allaikumsalam, santai saja, Mas. Tidak perlu minta maaf.
balasku padanya.
__ADS_1
Aku ingin mengenalmu lebih dekat lagi, Nai. Semoga kamu tidak keberatan.
Ah, kenapa aku mudah sekali menyukai pria seperti Bang Nugi yamg kupikir tak sebaik penilaianku ini.
Boleh, aku tidak memilih teman.
Sekitar dua jam lamanya kami terus saling balas pesan WA. Banyak hal yang kami ceritakan sampai akhirnya aku mulai merasa semakin dekat dengannya.
Nai, udah malem. Cepet bobok ya. Besok aku akan silaturahmi kerumahmu, Asalamualaikum.
Ahk, sudahlah aku cuma menjawab salamnya kemudian merebahkan tubuh diantara bantal dan guling. Besok saja aku memikirkannya karena saat ini tepat pukul sepuluh malam dimana sebagian orang sudah lelap dan tidur mereka.
Semoga mimpi indah...
Gumamku dalam hati. Aku baru ingat, harus segera tidur agar bisa ikut Sahur dihari pertama bulan suci Ramadhan yang jatuh pada hari minggu.
__ADS_1
Sekitar pukul 03.30 Aku dan keluarga memulai ritual makan bersama. Tak lupa sujud syukur kami haturkan karena sudah dipertemukan dengan bulan yang terjadi sebulan selama setahun itu didalam hidup kami.
Usai sahur,kami tak lagi tidur dan memilih bebenah sisa piring yang terpakai. Dilanjutkan Sholat subuh berjamaah. Yang menjadi Imam selalu bergiliran. Kadang Ayah, kadang juga Bang Gino.
Setelah itu dilanjutkan dengan bertadarus bersama Bang Gino hingga pukul 06.00 pagi.
Seperti biasa, setelah membereskan rumah dan mencuci pakaian. aku berjualan alat-alat tulis sembari santai dirumah menunggu ada rezeki yang menghampiri.
Ayah dan Bang Gino kekebun sayuran, Ibu menggoreng kerupuk untuk dijual dan kedua adikku sedang bermain dihalaman. Hari pertama puasa seluruh siswa yang sekolah pasti mendapatkan cuti selama 3 hari.
Seperti aku, adikku juga sangat senang jika ada hari-hari seperti ini. Meski tidak kuliah, setidaknya aku pernah mengenyam bangku sekolah hingga SMA. Mau bagaimana lagi kondisi keuangan harus membuatku dan keluarga hanya menjadi seorang buruh.
Sekitar pukul 03.00 sore. Aku mempunya kegiatan baru. Pergi kemasjid yang tidak jauh dari rumah untuk memulai mengajari anak-anak dikampung itu mengaji EBTA.
Mungkin jarak masjid dan rumah hanya berselang beberapa rumah tetangga.
__ADS_1
"Ayo sebelum mengaji, kita baca Al Fatihah dulu ya!" Ucapku memulai.