Cinta Di Balut Luka

Cinta Di Balut Luka
Bab 44


__ADS_3

"Udah, Pak Bawa saja, syukur dia dipenjara seumur hidup. Takutnya punya kelainan Naffffssuss berlebih dan membahayakan anak gadis kampung ini!" teriak salah seorang lagi.


Aku menggeleng, tak terima akan ucapan mereka. Meski hina, aku tidak serendah itu. Mana mungkin kurusak anak gadis orang dengan asal.


Bahkan apa yang kulakukan pada Naima adalah rasa kecewaku pada Ayahnya yang tidak mengizinkan Naima berdekatan denganku.


"Jangan ngawur, Pak. Anak saya memang khilaf, tapi dia tidak serendah itu," bela sang Ayah.


Aku mematung, tidak tahu harus mengatakan apa. Karena apapun yang keluar dari mulutku akan menjadi salah dimata mereka.


"Sudah bawa saja, Pak. Aku muat akan wajah polosnya tapi aslinya landak berduri!" tegas Bang Gino.


Siapa lagi yang membelaku, semua sudah membenci dan mungkin itu akan selamanya melekat dalam diriku.


"Baik, Pak. Kami akan memproses dan menindak lanjuti. Kalau begitu kami permisi!" pamit polisi itu, lalu memerintah anak buah nya membawaku.


"Hu, rasain lo. Edan, bisa-bisanya berbuat demikian yang ada anak-anak kita blangsak diajari sama dia ngaji!" cemooh Ibu-ibu yang masih ku dengar jelas.

__ADS_1


Dengan langkah berat aku mengikuti para polusi yang menggiringku. Sesaat aku menoleh kearah Ayah yang hanya menatapku dengan tangisnya.


Sedangkan Naima, entah dimana. Dia tidak terlihat sedikit pun. Tidak kupungkiri, masih ada harapan dihati ini, bisa melihat dia sejenak saja dengan Anakku, darah dagingku yang didekapnya.


"Ayo jalan, kau harus menjalani hukumanmu!" ketus seorang polisi.


Aku pun kembali melangkah, yang kulihat disana. Semua mata memandang jijik kearahku dan itu adalah karmaku.


Tiba di mobil yang akan membawaku, suara seseorang tiba-tiba menghentikan kami.


"Lepaskan dia, Pak. Anakku butuh Ayahnya!"


"Nai...!" ucapku lemah.


"Mas, aku sangat kecewa bahkan sakit hati. Aku tidak percaya kau sampai tega melakukan hal ini. Cinta sudah menggelapkan matamu, dan kamu mengakuinya. Tapi, Nai memikirnya akibatnya jika kamu pergi. Lihatlah anak kita! sampai sekarang aku belum memberinya nama, apa kamu tahu, Mas?" tanyanya, menatap mataku lekat.


Aku menggeleng tak mengerti, tidak paham maksud dari ucapannya.

__ADS_1


"Karena aku ingin Ayahnya datang dan mengaku, lalu bersedia menamainya agar ketika ada yang memanggilnya orang tidak akan kesulitan jika Ia punya nama," ujarnya, semakin memukul perasaanku.


"Nai, maafkan aku," kataku, sedari menghela nafas yang benar-benar berat didadaku.


"Aku tidak butuh maaf, Mas. Tapi aku membutuhkan kamu," katanya. "Pak, tolong lepaskan dia. Biar sekesaikan secara kekeluargaan." Naima memohon.


"Nai, apa yang kamu lakukan?" Pak Bhakti sepertinya tidak setuju.


"Pikirkan baik-baik, dek?" saran Bang Gino.


Bang Rohman berlari mendekat dan berdiri disamping Naima dengan pandangan mata penuh pertanyaan.


"Nai, kamu ngapain minta dia dilepaskan. Aku bersedia menjadi Ayah dari anakmu, Nai. Percayalah, cintaku lebih besar darinya." Bang Rohman meyakinkan.


Naima menggeleng, mengulum sejenak bibirnya sembari mengusap air mata yang telah basah dipipi.


"Maafkan Naima, Mas. Anakku lebih membutuhkan Ayah kandungnya. Karena bagaimana pun, seburuk Ayahnya. Tidak akan bisa merubah segalanya. Bahwa, darah mereka menjadi satu," jawab Naima membuatku terhenyat.

__ADS_1


"Nai...!" teriak Pak Bhakti tapi Ibunda Naima terlihat mencegahnya.


__ADS_2