Cinta Di Balut Luka

Cinta Di Balut Luka
Bab 43


__ADS_3

"Oh jadi dia yang udah ngehamilin, Naima. Ya ampun, Dikha. Kupikir kau itu alim, keluaran pondok pesantren kok malah berbuat hina sih?" seseorang mulai tahu.


"Gak punya malu ya, panggil Ayahnya. Biar mereka lihat, kelakuan anak Sholehnya ini," sambung seseorang lagi.


"Telpon polisi, Rohman!" titah Pak Bhakti. Aku dengar ucapan itu dengan nada membara dan rasanya sangat menyakitkan.


Cepat Bang Rohman merogoh ponsel, kulihat Ia menyebut-nyebut nama polisi. Alamat sudah, aku tidak mendapatkan Naima tapi akan berakhir hidup dipenjara dan entah sampai kapan.


Tapi aku tidak peduli itu, ku tatap netra Naima yang berdiri dipintu masih banjir air mata. Aku yakin dia tidak akan memaafkan kesalahan yang telah fatal ku perbuat.


Aku menyadari kesalahanku dan hari ini Tuhan pemilik kuasanya tengah menunjukkan dosa-dosaku dan itu telah dilihat oleh orang banyak.


Selang beberapa waktu, kulihat Ayah datang tergopoh-gooh padaku. Kupejamkan lagi mata ini, kenapa aku jadi kasihan padanya. Pasti setelah ini nama Ayah akan jadi bahan omongan orang banyak.

__ADS_1


"Dikha, apa yang terjadi, Nak?" beliau memegang kedua pundakku sedangkan kedua tanganku masih dipegangi oleh Bang Gino kebelakang.


"Maafkan Dikha, Ayah," ujarku penuh penyesalan dan rasa kasihan yang tak bisa ku tahan. Air mata ini kembali tumpah. Aku benar-benar berada dalam keterpurukan yang nyata.


Tak lama mobil dari kepolisian telah tiba.


Bersiaplah, Dikha.


Pikirku, lemah. Tapi ini lebih baik dari pada aku menyimpan rasa berdosa yang tidak kunjung berakhir.


"Selamat siang, Pak. Kami mendapat laporan ada tindak peleccccehhan sekkksuaaal disini, Siapa tersangka nya?"


"Siang, Pak. Iya benar, Itu orangnya penjarakan saja dia!" tunjuk Mas Rohman kearahku.

__ADS_1


Ketua polisi tersebut, memerintah anak buahnya menangkapku. Kedua tangan ini ditarik dengan kasar hingga terlepas dari tangan Ayah yang telah menangis pilu.


Kedua tangan ini diborgol, aku benar-benar menjadi tersangka yang hina dinal. Atas kasus yang hina pula.


Kulirik lagi Naima diambang pintu berharap dia menghentikan ini dan memaafkan aku tapi yang kulihat sekarang dia malah memilih masuk kedalam meninggalkan kami.


Sesakit itukah hatimu, Naima


"Pak, penjarakan saja dia. Saya tidak ridho anak saya dileceeehkan sama pria jahanam ini!" desak Pak Bhakti.


"Pak, saya mohon. Kasihanilah anak saya. Dikha hanya khilaf, Pak. Dia sangat mencintai, Naima." Ayah berlutut merendahkan diri mengatupkan tangan pada Ayah Naima yang ku yakini tidak akan semudah itu melepasku.


"Tidak, Pak. Dikha sudah melakukan penghinaan dengan mencoreng wajahku. Sembilan bulan Naima jadi bahan omongan orang, hamil tanpa seorang suami dan itu memalukan. Apa Bapak tahu perasaan kami? tapi yang bisa kami lakukan hanyalah diam dan menerima semuanya," jawab Pak Bhakti dengan marahnya yang meluap-luap.

__ADS_1


"Saya tau, Pak. Dikha melakukan kesalahan besar, dan salah saya juga yang telah gagal mendidiknya." Ku lihat Ayah menunduk tak berdaya dan itu semakin melukai perasaanku sebagai anak yang dulunya sangat beliau banggakan.


__ADS_2