
Pov Dikha
Sepulang dari subuhan, aku, Bapak dan Bang Gino tidak lagi pulang bersama. Bapak dan Bang Gino mampir kerumah Pak Lurah yang menelpon mereka untuk mengurus beberapa surat penting.
Dengan langkah kaki gontai, aku berjalan seorang diri dibalik cahaya remang-remang. Rembulan juga belum hilang dan masih bertengger diatas langit meski tidak lagi membiaskan cahayanya.
Belum juga sampai di rumah, seseorang dengan kepala bertopeng menghadangku, dan secara tiba-tiba juga menyerang ku. Untung aku cepat menghindar, jika tidak senjata tersebut pasti tepat menusuk ke perutku.
Pernah belajar bela diri dipondok pesantren rupanya sangat bermanfaat. Sedikit banyaknya aku bisa menghindari serangan lawan.
Ku ambil gerakan kuda-kuda dengan tatapan tajam kearahnya. Benar saja, senjata ditangannya Ia serangkan lagi kearahku. Perkelahian kami lumayan sengit, ternyata beliau sangat gesit melakukan penyerangan hingga membuatku lengah, sampai tiba saatnya lenganku tergores oleh senjatanya.
"Anda siapa?" tanyaku, memegangi tangan yang mulai mengeluarkan darah. "Dendam apa anda terhadapku?" ku ulangi pertanyaan itu supaya dia menjawab. Tapi sayangnya, dia tidak mengatakan apapun dan pergi meninggalkanku dalam keheranan.
"Ya Allah, Dikha!" seorang tetangga melihat keadaanku. "Siapa orang tadi, kok dia nyerang kamu sih?" tanyanya penuh keheranan.
"Entahlah, Wak. Aku juga tidak tahu, dia tidak berbicara sepatah kata pun," jawabku, meringis.
__ADS_1
"Cepat pulang, obati lukanya. Takut parah!" ujarnya menyarankan.
"Iya, wak. Makasih," balasku, yang melihat dia langsung menjauh. Aku pun memutuskan pulang kerumah secepatnya. Karena luka ini lama kelamaan terasa semakin sakit.
Tepat diambang pintu, aku merasa tubuhku kian panas. Keringat dingin membanjiri sekujur tubuh.
"Assalamualaikum...!" sapaku dari luar. Berusaha setenang mungkin agar Naima tidak mengkhawatirkan kondisiku.
"Wa'allaikumsalam, Mas," jawabnya, hendak mengulurkan tangan tapi tercekat ketika bola matanya tertuju kearah lenganku.
"Gak papa, Sayang. Ada orang iseng yang nyerang Mas tadi," jawabku santai.
"Jangan gitu dong, Mas. Ini bukan iseng lagi tapi pasti sengaja mau bunuh, Mas," tukasnya, Ia pun masuk kekamar dan keluar lagi membawa tas.
"Ayo ke klinik!" ajaknya, menggaet lenganku.
"Tapi, Sayang. Ini gak papa kok. Hanya luka kecil saja." Aku berusaha menolak, kasihan membiarkan Ia panik seperti itu.
__ADS_1
"Gak ada tapi-tapian, Mas. Nai takut ngeliatnya, tidak tahu sedalam apa orang itu melukai, Mas," ucapnya memaksa, sambil menangis didepanku.
"Ya ampun istri, Mas. Cengeng juga ya," godaku, agar Ia kembali tersenyum.
"Gak lucu, waktunya kurang pas," ketusnya, memasang wajah sewot.
"Kenapa, Ndok?" Ibu mertua datang dan menghampiri kami. Ia juga membelalakkan mata saat melihat lenganku.
"AstaufiruLLah, Ya Allah. Dikha, kenapa ini? kok sampai luka-luka begitu?" tanyanya, memburu.
"Tidak apa-apa, Bu. Hanya kecelakaan kecil saja," jawabku, tetap sama seperti yang ku katakan pada Naima.
"Tu, Bu. Mas Dikha bandel, masak darah sebanyak itu, katanya luka kecil. Naivkan takut, Bu. Nai mau ajak Mas Dikha berobat," rengeknya memeluk sang Ibu. Sungguh lucu sekali istriku ini gumamku senang.
"Iya, bener Dikha. Turuti saja istrimu takutnya ada apa-apa." Ibu Mertua berpikiran sama.
"Emang Bapak sama Bang Gino kemana, Mas? kok pulangnya gak barengan sih? bisa-bisanya ada orang yang nyerang Mas sampai kayak begini?"
__ADS_1