
Sekitar pukul 04, 45 subuh kulihat Mas Dikha sudah terbangun. Beliau menunaikan sholat sunah dua rakaat berlanjut kesholat wajib dua raka'at tak jauh dari tempatku tidur. Mungkin Ia khawatir meninggalkan kami jika pergi ke masjid yang ada disekitaran rumah sakit.
Sungguh pria idaman, harusnya aku tidak menghadapi beban berat ini agar tidak perlu menyakiti perasaanya atas kelahiran putraku.
Dua tanganya menengadah penuh takzim kehadapan sang Ilahi Robby. Tidak tahu apa Doa yang dipanjatkannya hatiku ikut mengaminkan.
Ngek!
Bayi mungilku menangis lagi, Mas Dikha yang sudah dipenghujung Doa nya segera mengusapkan kedua telapak tangan itu kewajah lalu menggulung sajadah tidak tahu dari mana dapatnya barang dan baju yang dipakainya ganti yang pasti semua nampak bersih, padahal beliau tidaklah pulang sama sekali.
"Eh dedek ikut bangun ya, mau sholat juga kah? malaikat kecil calon penghuni surga," ucapnya dengan telaten kembali mengganti pakaian anakku tanpa canggung apa lagi jijik.
Karena tak lagi tidur, Mas Dikha meminta aku kembali memberikan asi. Selepas nya Ia pangku dan mengajaknya nya terus mengobrol dan bercerita panjang lebar. Sesekali ku lemparkan senyum kearah mereka. Mereka begitu cocok, anakku langsung diam dan hanya mengamati saja. Tidak tahu apakah bayi sekecil itu mengerti hal yang diucapkan Mas Dikha atau tidak.
Ia dilahirkan dengan berat badan sekitar 2,7 kilo gram sangat sehat kata Dokter. Sungguh anugerah yang tak ternilai rasanya bisa merasakan sebuah kelahiran yang menyakitkan dengan normal namun semua seketika hilang tergantikan ketika melihat wajah lucunya.
__ADS_1
Setelah kembali tidur, Mas Dikha meletakkannya ditempat tidur lalu berpamitan mencari sarapan.
"Nai, kamu mau sesuatu? biar nanti aku belikan?" tanyanya, mengembangkan senyum.
"Makasih, Mas. Apa saja aku mau kok," jawabku tenang.
"Oke, aku tinggal sebentar ya. Assalamualaikum...!"
"Wa'allaikumsalam...." jawabku secepatnya.
Tak berapa lama ada yang datang mengetuk pintu. Mungkinkah itu Mas Dikha? apa secepat itu dia kembali?"
Disusul pula oleh seorang pria yang sangat aku kenal memegang seikat bunga sembari mengumbar senyum. Dibelakangnya juga ada keluarganya tercinta.
"Wa'allaikumsallam...!" jawabku lagi tanpa pernah lelah kutimpali berulang-ulang.
__ADS_1
"Bagaimana kabar kalian, Nai?" tanya Ibu Mas Rohman.
"Alhamdulilah baik, Bu," jawabku agak malu. Sungguh beruntung mengenal keluarga seperti mereka. Yang paling tidak aku mengerti adalah mengapa nasibku bisa seburuk ini. Siapa sih yang tidak ingin hidup damai. Memiliki keluarga harmonis adalah khayalan setiap orang.
Mas Rohman mendekat lalu menyerahkan bunga yang masih digenggamnya. "Semoga cepat sehat ya, Nai. Maaf, tidak menemani saat kamu dalam keadaan sulit," ujarnya tulus.
"Tidak apa, Mas. Alhamdulilah semua berjalan lancarkan," jawabku santai.
"Mbak, anaknya lucu banget. Mbak harus terima Mas Rohman ya, aku mau kok disuruh ngasuh," seru Sonya nampak sangat girang.
Ia terlihat sehat, itu berarti pengobatannya telah berhasil. Aku sangat senang akan hal itu.
Ku balas dengan hanya tersenyum, tidak tahu harus jawab apa. Sedangkan Mas Dikha yang izin keluar tadi pun belum juga kembali.
"Bang, boleh lihat?" Mas Rohman mendekati Box bertukar posisi dengan Bang Gino.
__ADS_1
"Silakan, Man. Ayo kesini!" Bang Gino beralih ketempat lain.
"Halo jagoan!" ujarnya menyapa. Si dedek sudah kebangun dari tadi mungkin mendengar suara bising.