Cinta Di Balut Luka

Cinta Di Balut Luka
Bab 9


__ADS_3

Dua bulan berjalan normal, pagi itu aku sedang mencuci piring didapur. Seperti biasa juga kedua Bosku tidak dirumah. Hanya aku dan Mas Roland yang tinggal berdua.


Kudengar dari belakang punggungku derap langkah kaki seseorang mendekat perlahan tapi samar. Jantungku mendadak berloncatan seolah tahu jika ada yang berniat menakutiku.


Cep!


Tangan Mas Roland menggenggam tanganku yang masih dipenuhi oleh busa sabun. Kutatap wajahnya tanda keterkejutanku.


"Ke_ kenapa, Mas?" tanyaku terbata. Terlihat sekali jakun Mas Roland bergerak pasti Ia sama gugupnya seperti aku.


"Aku mencintaimu, Dek. Aku sudah datang kerumahmu untuk melamar dan mereka setuju. Tapi aku butuh jawabanmu."


Deg!


Hatiku meratap. Kutatap bola Mas Roland dengan lekat.


"Iya, Dek. Aku mau kita menikah dan membangun keluarga bahagia," ujarnya meyakinkan.


Yakin sekali Mas Roland mengungkapkan perasaannya, tapi sayangnya aku bukanya baper tapi malah merasa semakin takut. Apalagi Ia mengatakan hal tersebut tanpa basa-basi sama sekali.

__ADS_1


"Ma_ maaf, Mas. Aku tidak tahu harus jawab apa," ujarku sambil melepas lembut tanganya dan melanjutkan kegiatanku.


Mas Roland mematung. Ia masih berdiri disampingku sambil memperhatikan wajahku. Ya Tuhan, bagaimana bisa aku setenang ini jika Mas Roland berubah jadi menyeramkan.


"Dek, jika kamu setuju. Aku mau kita menikah secepatnya, aku sudah tidak sabar." Mas Roland menghiba membuat merinding bulu kudukku. Jika dilihat dari caranya memandang, pasti Mas Roland menginginkan sesuatu yang lebih, pastinya sesuatu yang dimiliki pria umumnya pada perempuan.


Aku hanya memasang senyum terpaksa, aku tidak tahu apakan Mas Roland mengerti akan hatiku. Jujur saja, sampai saat ini aku belum punya perasaan terhadap Mas Roland.


"Dek, katakan sesuatu." Rupanya Mas Roland tidak bisa menunggu dan hendak melabuhkan ciumannya terhadapku.


Replek aku menarik wajahku hingga wajahnya hanya menerpa angin. "Maaf, Mas. Kita bukan mukhrim," kataku.


"Santai saja, Dek. Hal seperti itu sudah biasa dikota ini. Jadi tidak akan ada yang akan mengatakan sesuatu padamu," bujuk Mas Roland.


Aku pun keluar dari rumah dan melakukan pekerjaanku yang memang belum rampung.


Malamnya, kedua orang tua Mas Roland sudah pulang. Mereka memang tidak akan menginap selama aku bekerja disana jadi aku merasa tenang.


Semalaman aku memikirkan perkataan Mas Roland. Yang kulakukan adalah menimang perasaanku pada Mas Roland. Tapi entah mengapa hatiku rasanya menolak.

__ADS_1


Maka aku pun memutuskan untuk pulang saja karena aku tidak ingin menyakiti Mas Roland akan keberadaanku. Ya, itu keputusan yang tepat. Besok aku akan izin pada kedua majikanku.


Benar saja, apa yang kuniatkan telah kulakukan. Aku duduk didepan mereka dan meminta keridhoan mereka memulangkan aku.


"Baiklah, Nai. Bapak dan Ibu tidak akan memaksa jika itu adalah keputusanmu," ujar Bu Ida dengan berat hati.


"Terimakasih Pak, Bu. Maafkan Nai, jika selama ini Nai pernah melakukan kesalahan," tuturku pada mereka. Jujur, aku sangat betah tinggal disana. Tapi aku tidak enak hati terhadap Mas Roland.


"Iya gak papa, Ndok. Mungkin kau tidak betah ada disini karena Roland ya?" Bu Ida menerka-nerka. Bisa jadi Ia tahu kalau Mas Roland menyukaiku.


"Oh tidak, Bu. Aku tidak terbiasa jauh dari Ayah dan Ibu. Jadi aku tidak bisa menahan kerinduan," kilahku.


Keduanya menganggukkan kepala, lekas kusalami mereka penuh hormat karena sudah seperti orang tuaku sendiri.


"Assalamualaikum!" kataku.


"Wa'allaikumsalam," jawab mereka pula.


Aku pun mengangkat tas bawaanku berisi pakaian, Bu Ida juga menyelipkan amplok ditanganku dapat kupastikan kalau ada uang didalamnya.

__ADS_1


Baru saja membuka pintu, Mas Roland dan Kia masuk dengan tatapan penuh arti kearah tasku.


"Kau mau pergi?" Mas Roland menelisik tanganku dan mendadak murung.


__ADS_2