Cinta Di Balut Luka

Cinta Di Balut Luka
Bab 11


__ADS_3

Tiga hari lagi seluruh umat muslim diseluruh dunia akan menyambut bulan suci Ramadhan. Seperti biasa anak remaja putra dan putri yang belum menikah diharuskan bergotong royong membersihkan Masjid.


Aku pun ikut menghadiri kegiatan rutin yang terjadi setiap tahun itu karena kegiatan tersebut menurutku sangatlah mulia.


"Nai, ayo kita berangkat!" teriak Elsa sahabatku dari luar rumah.


"Iya sebentar," jawabku dari dalam. Hari ini aku meraih jilbab sederhana dan memakainya. Meski aku belum sepenuhnya ikhtiar menggunakannya setidaknya jika keluar dari rumah aku selalu memakainya sebagai niatku untuk belajar membenahi diri tak lupa juga berpakaian gamis seadanya untuk menyesuaikan penampilanku.


"Ya ampun, Nai. Bajumu itu kegedean pantasnya dipakai emak-emak ni." Elsa memperhatikan keadaanku.


"Biarin ajalah," jawabku pede.


Kami berjalan beriringan hingga tiba di mushola. Semua nampak sibuk dengan segala rutinitas tersebut. Mereka sangat asyik bercanda ria sedang aku memilih untuk lebih banyak diam.


Aku memang dikenal pendiam diantara mereka. Padahal itu semua bohong. Aku tidak seperti yang mereka bayangkan sama sekali.


"Nai, cerita dong? bagaimana pengalamanmu dikota?" Alya nampaknya penasaran.


"Ah cerita apa ya? gak ada yang menarik, El," jawabku sekenanya.

__ADS_1


Setelah satu kata itu mereka kembali mengombrolkan hal yang lain sambil bekerja.


"Hey, cah ayem!" ejek seorang pria yang tiba-tiba memanggil seseorang mengagetkan diriku. Aku menoleh mencari sumber suara lalu kutengok semua temanku dibelakang, mungkin saja yang Ia panggil adalah temanku yang lain. Tapi semua tak ada yang membalas seruan pria itu.


Ia pun kembali memanggil dengan sebutan yang sama. "Cah ayem ngomong dong!" kali ini aku melihat orangnya berdiri disamping pintu dan membuat aku kembali mengabaikannya.


Siapa sih orang itu? kok aneh gitu?...


Pikiranku bertanya-tanya sambil tetap kuabaikan. Yang ketiga kalinya Ia memanggil lagi dengan sebutan sama yang entah sejak kapan sudah berdiri disampingku.


"Cah ayem (anak tenang) boleh kenalan?" pria yang baru pertama kali kulihat itu mengulurkan tangan.


Aku jadi malu atas ulah mereka. Mungkin saja kan wajahku memerah. Ah, sungguh memalukan. Pria didepanku juga tampan, siapa dia? dan sepertinya bukan orang kampung sini?


"Naima, Mas," jawabku pelan namun ku biarkan saja tangan pria itu mengambang tanpa balasan. Aku menjauh ketempat lain karena aku belum siap lagi untuk mengenal pria.


Ya pemuda itu sama. Dia kembali berkumpul dengan gerombolan pemuda di halaman sedang mencabuti rumput liar.


Malam harinya setelah Sholat isya, aku memilih santai dikamar sambil memainkan ponselku.

__ADS_1


Ting!


Ada sebuah pesan WA masuk. Aku penasaran siapa yang mengirim. Lekas ku bukan Chat dari nomor yang tidak ku kenali.


Assalamualaikum, ukhti...


hanya kalimat itu yang kubaca. Ah, pasti orang iseng begitu lah pikirku. Aku tidak membalas dan membiarkan saja seperti angin lalu.


Ting!


Sebuah chat masuk lagi. Meski berusaha tidak peduli aku tetap tertarik untuk membaca isinya.


Ukhti sedang apa sekarang?...


Hadeh, aku mendadak gemeteran. Siapa gerangan orang yang sedang menyapa diriku ini. Lama dirundung banyak pertanyaan aku pun tertidur sedang ponselku dalam keadaan on.


Pagi harinya aku yang belum memiliki pekerjaan mencari hal yang baru. Dengan uang yang ada ditanganku. Aku memikirkan hal apa yang dapat kulakukan agar uang tersebut tidak sia-sia.


Ya, dikampung ini masih banyak anak sekolah pasti akan sangat cocok jika aku berjualan alat-alat tulis. Segera kutemui Ibu untuk menyampaikan keinginanku.

__ADS_1


"Bu, Naima mau jualan berbagai keperluan sekolah didepan rumah. Menurut Ibu bagaimana?"


__ADS_2