Cinta Di Balut Luka

Cinta Di Balut Luka
Bab 59


__ADS_3

Pov Naima


Banyak hal yang kami lalui dalam perjalanan hidup ini, tapi itu semua tak membuat kami berputus asa karena kami yakin semua itu akan indah pada waktunya.


Sekitar pukul 06.00 mobil yang setauku disewa Mas Dikha sudah datang. Semua barang yang kami bawa, telah dipersiapkan.


"Ayo berangkat!" ajak Mas Dikha, Ia segera merangkul pundakku.


Mobil yang disewa ada dua, dan kami berada dimobil terpisah dari keluarga termasuk Ayah Mas Dikha yang ikut serta. Sepanjang jalan, Mas Dikha tidak pernah melepaskan pelukannya dariku. Aku tahu itu adalah bentuk sayangnya yang begitu besar padaku.


"Nai, semoga ditempat baru nanti kamu bisa betah ya, mungkin tempatnya tidak sesuai harapanmu," ujarnya, memberitahu.


"Tidak apa, Mas. Yang pentingkan keluarga kita rukun," jawabku pelan, mungkin sekarang terlihat agak manja sejak bersama dengannya.


Mas Dikha mengusap rambutku, Ia terus tersenyum tanpa pudar sedikit pun. Ya, aku tahu. Dia bahagia, sama sepertiku sekarang. Ya Allah, cinta dihati ini rasanya tumbuh semakin besar dan menyala-nyala. Jika boleh meminta, tidak ingin sebentar saja berpisah dengannya.


...🌻🌻🌻🌻...


Dua jam perjalanan, mobil itu membawa kami masuk di sebuah pekarangan rumah yang sangat besar. Tiga kali lipat dari besarnya rumahku.


Aku melirik Mas Dikha, ada pertanyaan yang ingin aku utarakan padanya. Bagaimana bisa dia membawa kami kesana. Belum sempat terbuka mulut ini, Ia malah keluar dan membukakan pintu untukku.


"Dikha, kita sudah sampai belum? ini rumah punya siapa?" teriak Ibu di mobil depan.


"Tenang saja, Bu. Bukan rumah bordil kok," jawab Mas Dikha, sempat-sempat bercanda sama Ibu mertua.


Mereka sama seperti ku, pasti juga bertanya-tanya didalam hati.


Setelah menginjak teras, dan disambut oleh seseorang. Kami makin bingung akan panggilan wanita paruh baya itu.


"Alhamdulilah, Aden sama Bapak akhirnya pulang juga!"


"Iya, Bi. Tolong siapkan hidangan yang enak ya, kami sangat lapar!" ucap Mas Dikha, terlihat sangat kenal dengannya.

__ADS_1


"Siap, Den. Ini istrinya ya!" tunjuknya dengan sopan menggunakan Ibu jari kearahku.


"Benar, Bi. Dia yang sering aku ceritakan," katanya lagi.


"Cantik banget den! selamat datang ya Non, dan keluarga. Bang Dikha ini baik banget lo gak bakal nyesel jadi istrinya," ujar Bibi itu.


Aku hanya nyengir kuda, antara salting dan linglung dengan panggilan itu.


"Dikha, kami masih belum mengerti, Nak? maksudnya apa ini?" tanya Ayah, tidak sabar rasanya mendapat jawaban.


"Ini adalah hasil jerih payah Dikha, Pak. Rumah ini sudah dibelinya tiga tahun yang lalu," jawab Ayah mertua membuat kami lagi-lagi melongo.


"Apa? jadi_?" Ayah tak bisa berkata-kata, dan tentu saja aku juga ingin mendengar jawaban langsung dari Suamiku itu.


"Iya, Alhamdulilah, Nai. Ini akan menjadi tempat tinggal kita, aku juga punya rumah makan yang bisa menjadi di jadikan ladang pencaharian mencari rezeki," katanya, meluruskan.


"SubhanaLLah, ternyata kamu ini memang hebat adek ipar!" tepuk Bang Gino dipundak Mas Dikha.


"Ih, dibelain ni ye. Kakaknya bukan lagi yang utama," guyon Bang Gino.


"Biarin aja, memang kenyataan," sinisku, tapi tidak serius.


"Oke, ya sudah ayo masuk kita pasti laparkan!" hantar Ayah mertua pada kami.


Hari itu begitu terasa sempurna. Seharian canda dan tawa menghiasi keluarga kami.


...🌾🌾🌾🌾...


Malam harinya, aku menyusun pakaian didalam lemari yang masih kosong disebelah pakaian Mas Dikha yang terjajar sangat rapi. Disana aku menemukan beberapa kerudung segi empat yang dibelikan Mas Dikha waktu itu, sampai saat ini belum juga ada keinginan untuk kupakai.


Lama menatapnya, hatiku seakan terketuk untuk menggunakannya sekarang juga. Lekas aku berdiri didepan cermin dan menggunakannya sebaik mungkin. Mulai hari ini aku ingin belajar memantapkan hati memakainya dan tidak akan melepaskannya kecuali hanya didepan Mas Dikha.


Tanganku bergetar, seiring hijab itu melekat sempurna dikepalaku.

__ADS_1


"Bismillahirrahmanirrahim," niatku dalam lisan.


Oe.. Oe...


"Dek, Yusuf nangis!" teriak Mas Dikha, yang masih memangku bayi mungil kami bersama yang lain diruang tengah. Aku pun berbalik hendak keluar, rupanya Mas Dikha malah sudah ada diambang pintu tersenyum menatapku.


"SubhanaLLah, Bunda cantik sekali ya, Nak. Semoga Allah selalu mendekatkan hati Bunda dengan_Nya," ujar Mas Dikha, seraya menghampiriku.


"Terima kasih, Sayang. Sudah mengabulkan keinginan Mas," katanya, meraih kepalaku mendekat kewajahnya. Ciuman hangat juga mendarat dikeningku.


"Bimbing aku, Mas," tuturku.


"Tentu," jawabnya membuatku kian bersemangat.


kami tenggelam dalam kebahagiaan yang tidak bisa dijabarkan lewat kata-kata. Mas Dikha adalah pengayom yang baik. Ia telah membawa sejuta kebahagian yang lengkap didalam hidupku.


...🍁🍁🍁🍁Selesai🍁🍁🍁🍁...


Sejatinya masalah dan pertengkaran-pertengkaran kecil akan selalu ada dalam setiap rumah tangga. Tapi pondasinya adalah saling menyadari, mengerti dan memaafkan bagi kedua pasangan. Maka disanalah akan tercipta sebuah keharmonisan dan cinta yang kokoh.


Jika ingin menunggu kita terlepas dari masalah keluarga, itu tidak akan pernah mungkin terjadi. Karena masalah baru pasti akan terus berdatangan seiring berjalannya waktu menguji setiap manusia untuk meneguhkan hatinya dan barulah akan berakhir jika manusia sudah tidak bernafas lagi.


Okey! terima kasih sudah mengikuti kisah ini sampai happy ending. Maaf jika ceritanya terasa hambar dan kurang memuaskan. Banyak hal-hal yang Author sendiri kurang paham soal Agama karena Author bukan orang baik.


Semoga yang baca, memahami jika authornya juga banyak kesalahan dan kekhilafan.


Satu Kata pesan AuthorπŸ‘‡πŸ‘‡πŸ‘‡


Boleh contoh yang baik tinggalkan yang buruk!!!


Akhirul kallam


"Wasallamu Alaikum Warohmatullahiwabarakatuh"

__ADS_1


__ADS_2