Cinta Di Balut Luka

Cinta Di Balut Luka
Bab 22


__ADS_3

Iya aku tahu, tapi tetep aja rasanya menyakitkan. Bagaimana bisa aku tidak kecewa melihat dia sama cowok lain didepanku.


Ya ampun, ternyata Mas Dikha masih menganggap aku tempat yang layak untuk berbagi. Jadi terharu ni.


Mas, sahabatan sama Mas Nugi berapa lama?


Sengaja ku alihkan topik agar Mas Dikha melupakan kekecewaan hatinya pada sang kekasih.


Sejak masih kecil. Ya, aku sering mengalah soal apapun sama dia. Nugi selalu beruntung ketimbang aku.


Kata-katanya nampak sangat sedih. Ah, entahlah apa Mas Dikha selalu mengalami banyak hal. Tapi yang kulihat dia sangat baik orangnya.


O ya, Nai? kapan kalian menikah?


Hahaha... gak tau ya, kami belum kepikiran..


Oh, oke. Maaf menganggu, selamat tidur. Assalamualaikum...!


"Wa'alaikumsallam," jawabku tanpa membalas pesan darinya. Ya ampun Mas Dikha dari dulu kamu memang tidak pernah berubah ujarku seorang diri.

__ADS_1


Sekitar pukul 04.40 lebih, meski suasana dingin menusuk tulang belulangku, tak pernah sekali pun kutinggalkan kewajibanku untuk menunaikan dua raka'at tersebut.


Setelah matahari mengusung kehangatan, aku mulai bersiap berjualan. Karena bukan lagi Ramadhan. Ku sisipkan juga makanan ringan diantara jualan ku. Hari ini anak-anak mulai sibuk sekolah setelah melewati libur panjang.


"Nai...!" teriak salah seorang temanku Nuri. Aku sudah lama tidak melihatnya entah kemana Ia belakangan ini.


"Nuri, kamu dipingit ya? kok jarang nongol sih?" tanyaku menggoda seraya ku lempar senyuman kearahnya.


"Is, Nai. Aku tu lagi sibuk sekarang soalnya mau ikut daftar TKW di arab," jawabnya manyun. "Oya tapi gimana, ha?" tanyanya membuatku tak mengerti.


"Apa maksudnya, Nur?" tanyaku mengerutkan dahi.


"Siapa?" tanyaku kurang peka. Tanganku bergerak menata jualan yang belum selesai kurapikan.


"Itu, Mas Dikha. Dia kangen sama kamu. Kemaren dia minta nomer kamu sama aku," katanya jujur.


"Oh, jadi kamu yang kasih?" kutatap dengan wajah sewot kearahnya.


"Iya, hehehe...." Anak itu nyengir kearahku.

__ADS_1


"Kamu tau tidak?" tanyanya lagi.


"Soal?" biasa, jiwa kepoku meronta-ronta.


"Dia masih suka sama kamu, " bisik Nuri hingga membuat biji mataku melotot, segera kutepuk pundaknya karena aku tidak yakin.


"Hus, kamu ni becanda aja kerjanya. Nanti pacarku denger dikira beneran lagi," kataku cembetut.


"Iya, Si Nugi ya? sayang sekali, ya udah deh, semoga kamu mendapat jodoh yang terbaik ya, Nai. Aku pulang," pamitnya melenggang pergi.


"Gak masuk dulu!" teriakku kearahnya, ada perasaan bersalah agak sewot sama anak itu. Ya sudahlah, Nuri bukan orang yang mudah sakit hati. Dia memang seperti itu sikapnya besok juga baik lagi tu bocah.


"Ndok, Ibu kepasar dulu!" Pamit si Ibu pula ikut-ikutan seraya menuntun sepeda yang sering kugunakan.


"Beli apa, Bu?" tanyaku ingin tahu.


"Keperluan membuat kerupuk, jangan suka masukin cowok kerumah kalau lagi sendiri ya!" pesannya kemudian.


"Oke, Bu."

__ADS_1


Setiap hari aku memang kesepian saat pagi begini, nanti akan ramai lagi setelah bakdah Zuhur. Karena Ayah dan Bang Gino sudah pulang dari kebun begitu juga kedua adikku yang pulang dari sekolah mereka.


__ADS_2