
ššš Pov Naima
Kini aku masih mengurung diri meratapi nasibku diatas ranjang. Mataku bengkak dan merah, aku juga menolak untuk makan. Mungkin satu atau dua sendok saja itu pun terpaksa karena bujuk kan ibuku, aku kasihan padanya, Ia tampak sangat sedih melihat keadaan ku.
Sejak hari itu, dimana aku mengetahui, kalau aku sedang mengandung benih lelaki bejat itu, nafsu makan ku seketika hilang Dan aku juga lebih memilih mengurung diri.
Aku malu bertemu tetangga yang mungkin saja akan mencibirku.
Entahlah, apa mereka masih sudi anak-anak mereka ku ajari mengaji lagi suatu saat nanti. Tapi yang pasti, aku sangat malu dan tersiksa saat ini.
Tak berapa lama kudengar deru mobil masuk kehalaman rumahku. Nampaknya Mas Rohman dan keluarga nya menepati janji untuk tetap menerima keadaan ku yang sedang mengandung saat ini.
"Assalamualaikum!" Kudengar mereka mengucap salam dan langsung di balas Ayah dan Ibu ku.
"Wa'allaikumsalam."
"Mari-mari silahkan duduk!" Begitu kata Ayah mempersilahkan. Kudengar jelas obrolan mereka diluar sana. Karena kamar ku memang berdempetan dengan ruang tamu.
"Kau tahu tujuan kami Pak Bakti?" Tanya Pak Aziz.
__ADS_1
"Iya Pak, tapi_."
Ucapan Ayah tampak menggantung.
"Pak, Naima adalah korban, saya tidak keberatan jika saya harus membesarkan bayi yang nantinya dikandung Kanaya," ucap Mas Rohman yakin.
"Iya Pak Bakti, Bu Mirna, Rohman sudah sangat cocok dengan Kanaya, Kanaya adalah perempuan baik-baik, saya yakin ini hanya kecelakaan," sambung Bu Sania, Ibu Mas Rohman.
"Entahlah, kami tidak tahu keinginan putri kami," jawab Ayah bingung.
"Tolong izinkan aku bertemu Naima, Om!" Pinta Mas Rohman.
Aku tak mendengar jawaban apa-apa dari Ayah dan Ibu, nampaknya mereka sedang kebingungan untuk memenuhi keinginan Mas Rohman. Pasalnya aku tak mau bertemu siapa pun saat ini.
"Aku mohon Om, aku sangat mencintai Naima," Melas Mas Rohman.
Ya Allah, aku berdebar mendengar ucapan Mas Rohman, karena Ia sangat berniat memperistri aku. Sedangkan aku tak tahu harus senang atau sedih mendengar ini.
"Baiklah, aku coba panggil dulu!" Ucap Ibu. Tak lama, kudengar Ibu mengetuk pintu..
__ADS_1
Tok! Tok! Tok!
"Ndok, ayo keluar Ndok, ada yang ingin bertemu dengan mu," panggil Ibu memberi tahu ku. Padahal aku sudah mendengar semuanya dengan jelas.
Aku jadi kalang kabut dibuat nya, haruskah aku menemui Mas Rohman atau tidak, kerena rasa malu ku lebih besar dibanding rasa senang ku bertemu dengan nya.
"Assalamualaikum!"
Belum sempat aku beranjak kudengar lagi ada yang mengucap salam, siapakah itu? Tiba-tiba aku mendadak merasa deg-degan gak jelas lebih besar dari sebelumnya.
"Wa'allaikumsalam."
Eh Pak Ridwan, Dikha, ayo silakan duduk!" Ajak Ayah Bakti pada mereka ternyata adalah Mas Dikha dan Ayahnya.
"Ada perlu apa ya, mendadak datang?" Tanya Ayah Bakti lagi setelah mereka dipersilakan duduk ditempat yang kosong.
"Saya datang kesini, bertujuan untuk meminang Naima untuk Dikha, Pak," jawab Pak Ridwa to the point' tanpa panjang lebar, itu yang kudengar dari dalam.
"Apa!" Rohman mendadak berdiri. Sepertinya Ia tak terima dengan tujuan kami. "Om, anda kan sudah tahu, saya lah yang lebih dulu meminang Naima, ngapain Om justru meminang kan Naima untuk Dikha?"
__ADS_1
Rohman meninggi kan suaranya membuatku tersentak.