Cinta Di Balut Luka

Cinta Di Balut Luka
Bab 17


__ADS_3

...Singkat cerita...


Sejak hari pertemuanku dengan Mas Nugi dihari dimana Bang Gino meninggalkan aku akhirnya menjadikan Kami semakin dekat. Mas Nugi sering sekali datang untuk bersilaturahmi kerumah.


Hingga akhirnya kami jadian. Aku sebenarnya kaku untuk berpacaran karena itu kali pertamanya didalam hidupku. Bisa dibilang, pengalaman baru.


Alhamdulilah juga keluarga tidak keberatan,tapi yang pasti gaya pacaran kami tidak sebebas pacaran orang pada umumnya karena kami sangat menjaga yang namanya sebuah kehormatan.


Mas Nugi juga sangat baik, ia tahu caranya menempatkan diri saat bersama denganku. Orangnya juga sopan dan tidak nyeleneh.


Semua itu berlangsung selama dibulan Ramadhan hingga tibalah hari raya dimana seluruh umat saling bersalam-salaman dan saling berkunjung kerumah-rumah.


Hari kedua, Mas Nugi mengajak aku jalan-jalan kesebuah taman rekreasi tang dipenuhi berbagai macam hiburan bagi penikmatnya.


"Dek, tunggu sini!" ujar Mas Nugi berpesan, entah kemana pemuda itu akan pergi. Aku hanya menjawab dengan menggangguk.

__ADS_1


Kuedarkan tatapanku kesegala arah yang dipenuhi lautan manusia baik tua, muda maupun anak-anak. Hingga seseorang mengulurkan sebuah Es Cream didepanku.


Kusambut dengan suka rela, karena aku tahu Mas Nugi yang memberikannya padaku.


"Makasih, Mas," ucapku sambil tersenyum.


"Sama-sama," katanya. Ia duduk disampingku dengan jarak satu meter. Katanya untuk menghindari Zina. Ku maklumi itu karena aku juga takut.


"Dek...!" panggilnya lagi.


"Iya, Mas," jawabku.


Aku lagi-lagi mengembangkan senyum.


"Rencananya sebulan lagi aku akan melamar Adek. Keluargaku lagi di Bandung untuk sekarang," imbuhnya lagi menatap lekat bola mataku.

__ADS_1


Hari itu, aku tidak memakai hijab karena memang aku belum memantapkan hati. Rambutku yang panjang bertebaran diterpa angin. Entah kapan anugerah tersebut membuatku menyadari itu. Untuk saat ini, jujur belum. Aku hanya menggunakannya saat aku mengajar atau pergi ke acara pengajian dimasjid.


Mendengar perkataan Mas Nugi aku merasa bingung jawaban apa yang cocok untuk niat baiknya itu. Tapi ternyata Ia tidak menuntut jawaban karena menurutnya senyumku saja sudah mewakili.


Selepas dari bepergian dan Mas Nugi berpamitan. Ibu datang dan mengatakan padaku katanya ada pemuda yang mencari ku tadi.


"Dia teman sekolahmu katanya, Ndok?" Ibu menceritakan ciri-ciri yang ada pada diri pemuda tersebut. "Dia adalah tetangga baru kita. Rumah nya tidak jauh dari sini," Ibuku menambahi.


Sejenak aku berpikir mengingat siapa yang Ibu maksud. Namun semua sia-sia otakku tak dapat menebak sama sekali. Waktu SMP temanku sangat banyak baik dari,baik itulaki-laki maupun perempuan.


"Ya udah biarkan saja, Bu. Nai lupa," kataku tak terlalu memperdulikan. Aku melenggang kekamar untuk membersihkan diri. Hari itu cukup melelahkan rasanya.


Ya, sampai malam hari rumah tak pernah sepi dari orang yang berkunjung. Jarang-jarang itu terjadi jika bukan dihari raya.


"Bu, kapan kamu mantu. Emang Gino dan Naima belum punya pacar ya?" seorang Ibu resek dan pengen tahu.

__ADS_1


"Doakan saja, Bu. Semoga jodoh mereka didekatkan," jawab ibu berlapang dada membuatku sedikit terenyuh. Seorang Ibu pasti ingin anaknya beruntung namun keberuntungan belum berpihak pada kami.


"Iya, Bu. Semoga cepetan dapet jodoh. Merekakan sudah dewasa," kata Ibu itu lagi dengan suara menggelegarnya.


__ADS_2