Cinta Di Balut Luka

Cinta Di Balut Luka
Bab 31


__ADS_3

Pov Dikha


Sebulan lebih telah berlalu, Hari itu hari yang terasa panjang bagiku, karena Naima sudah dua minggu tidak ikut mengajar anak-anak mengaji lagi. Aku juga tidak pernah melihatnya disekitaran rumahnya jika lewat atau pun sekedar berkunjung untuk silaturahmi.


Sungguh, ini terasa sangat menyiksa hidupku. Aku sangat merindukannya. Entah mengapa? Sejak pertama kali melihatnya, aku cinta ini tak pernah hilang apalagi membayangkan kecantikan dan kelembutan sifatnya. Ia juga sangat ramah dan ke ibuan saat mengajar anak-anak.


Aku menyimpan rasa ini didada ku sampai saat ini, tak ada keberanian sedikit pun untuk menyampaikan keinginanku meminangnya. Takut jika orang tuanya menolak niatku.


Apa lagi saat aku tahu, Naima telah dijodohkan dengan Rohman yang notabennya adalah anak dari orang kaya dikampung ku.


Sedangkan aku hanyalah anak petani, setiap hari aku hanya membantu Ayah menanam sayuran di kebun. Dan selepas Bakdah Zuhur ku lanjutkan untuk mencari pangan ternak sapi ku yang berjumlah tiga ekor. Lalu barulah aku mengajar anak-anak mengaji.


Ah, siapa gerangan orang tua yang sudi menerima aku jadi mantunya. Karena nyatanya, yang mereka tahu aku hanya pengangguran di kampung itu.


Apalagi Bapak Naima adalah salah seorang yang yang ingin membahagiakan anaknya dalam segi ekonomi.


Oh Tuhan, bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Di satu sisi aku senang Naima tak jadi dijodohkan, tapi disisi menyampaikan keinginanku.


"Dikha!" Panggil Ayah tiba-tiba. Pandangan ku langsung menoleh ke arahnya.


"Apa kau benar-benar menyukai anak Pak Bakti?" Tanya Ayah kemudian. Aku sedikit terkejut dibuatnya, dari mana Ayah tahu aku menyukai Putri Pak Bakti.

__ADS_1


"Kok Ayah bicara begitu?" Tanyaku balik. Sambil menggeser posisi dudukku di kursi panjang di teras depan rumahku agar Ayah bisa ikut duduk.


Bug!


Ayah menepuk pundak ku.


"Ayah tahu lah, bagaimana cara kamu memandang Naima saat bertemu." Ayah tersenyum seolah-olah menggodaku. Astaga, kenapa bisa Ayah mampu membaca hatiku, padahal Beliau hanya melihat dari sorot mataku. Apakah Ayah bisa membaca batin seseorang, hebat sekali pikirku.


"Tapi rasanya itu cuma khayalan, Yah," jawabku. Sesak dada ini saat mengucapkan kalimat itu didepan Ayah.


"Apa yang membuat mu takut, Nak?" Tanya Ayah lagi.


"Kita kan disini hanya hidup seadanya. Semua tanah sudah Ayah jual demi agar aku bisa masuk pondok pesantren dan orang tahu nya kita tak punya


Ayah tampak memanggut-manggut kan kepala tanda mengerti sambil memonyongkan bibir.


"Biar jadi urusan Ayah," tukas Ayah lagi. Entah apa yang direncanakan Ayah, tapi yang pasti aku percaya, Ayah akan melakukan yang terbaik untukku.


Selang beberapa menit, dua ibu-ibu lewat di teras rumah kami sambil menggosip. Ku dengar jelas mereka menyebut-nyebut nama Naima.


"Ternyata Si Naima itu habis di perkosa to Bu, gak nyangka ya gadis yang terlihat alim sampai dilalap orang tak bertanggung jawab," ujar Bu Wiwik namanya.

__ADS_1


"Iya, kata Bu Iren pembantu Pak Bakti, saat ini Naima sedang sakit kayak menunjukkan tanda-tanda orang ngidam gitu," sahut Bu Tika.


Deg!


Jantungku langsung berdegup cepat, mendengar perbincangan mereka. Apa ini yang menyebabkan Kanaya tak lagi mau mengajar mengaji.


Ayah pun langsung menatap ke arah ku dengan sorot mata yang tak bisa ku tebak.


Kedua Ibu itu pun menyapa kami setelah mengakhiri obrolan mereka.


"Assalamualaikum Pak Ridwan, Mas Dikha," ucap keduanya bersamaan.


Tentu saja kami juga menyahut bersamaan.


"Wa'allaikumsalam," jawab kami.


"Ada kabar baru Pak, katanya Mas Rohman tetap mau menikahi Naima, walaupun sekarang bunting," ucap Bu Wiwik yang terdengar lirih diakhir kalimatnya sambil membuat lingkaran bulat di perut nya.


Tentu saja aku langsung tersentak dan repleks berdiri.


"Apa Bu, Bang Rohman tetap pada keputusannya?" Tanya ku langsung.

__ADS_1


"Iya, dia ikhlas menerima bayi yang dikandung Naima. Toh, itu adalah sebuah kecelakaan katanya bukan Zina disengaja," terang Bu Tika.


Ya Allah, kaki ku mendadak terasa lemas, tak percaya dan tak bisa membayangkan jika Naima tetap di per istri Bang Rohman.


__ADS_2